[BOOK REVIEW] Kita, Kami, Kamu Karya Soca Sobhita & Reda Gaudiamo

Sep 12, 2020

[BOOK REVIEW] Kita, Kami, Kamu Karya Soca Sobhita & Reda Gaudiamo – Kalau pernah membaca buku Aku, Meps, dan Beps (POST Press, 2016) sebelumnya, mungkin kamu akan tertarik untuk membaca karya kolaborasi lanjutan ini.

Ya, Kita, Kami, Kamu karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo. Buku anak-anak ini berisi berbagai catatan Soca ketika dirinya duduk di bangku SD hingga masuk SMP. Untuk kita yang sudah dewasa, mungkin rasanya akan nostalgia sekali. Namun percayalah, setelah membaca buku ini, mungkin ada perasaan yang sulit diungkapkan, yang menggambarkan lebih dari nostalgia.

Oh ya, buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Iya, saya juga kurang tahu kenapa POST Press enggak menerbitkan buku lanjutan Aku, Meps, dan Beps. Padahal, saya beraharap bisa mendapatkan buku dengan warna, gaya, tipe, dan ukuran buku/sampul yang sama. Apalagi, saya merasa keluarga Na Willa atau Aku, Meps, dan Beps sudah sangat melekat di keluarga POST.

But worry not, saya jamin pembaca tersayang tetap akan merasakan soul yang sama ketika membaca Kita, Kami, Kamu, terlepas siapa pun penerbitnya.

Kita, Kami, Kamu Karya Soca Sobhita & Reda Gaudiamo

Judul: Kita, Kami, Kamu
Penulis: Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo
Ilustrator: Cecillia Hidayat
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: September 2020
ISBN: 9786020642185
Harga: Rp79.000

Meps paling gemes kalau ada yang bilang kita,
padahal maksudnya kami.
Kalau ada yang bilang kita padahal maksudnya kami,
Meps akan bilang begini, “Kita, kita… Memangnya saya ikut?
Memangnya kamu bersama saya? Kan nggak.
Harusnya kamu bilang kami, bukan kita.
Kalau kita, nanti saya ikut lho.
Kamu nggak mau kan saya ikutan?”

Tentu dia tidak mau, Meps.

Soal kita-kamu-kamu,
Meps juga tidak senang dipanggil Bunda.
Kenapa sih, Meps?

Kita, Kami, Kamu: #RelationshipGoals Jilid 2

Dulu ketika membuat review buku Aku, Meps, dan Beps, saya sempat bilang bahwa hubungan Ibu dan anak yang begitu kentara di buku tersebut layak disebut sebagai #relationshipgoals. Maka, untuk buku Kita, Kami, Kamu ini, izinkan saya menyebutnya sebagai #relationshipgoals jilid 2.

Apa, sih, yang menarik dari karya duet terbaru Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo ini? First impression untuk sampulnya, segar sekali dengan warna kuning! Sangat eye-catching! Ilustrasi hitam putihnya pun tetap terasa dominan dan enggak ketinggalan, sosok Soca ada di situ.

Kemudian, dari segi penulisan, Kita, Kami, Kamu ini terasa lebih luwes, lebih lugas, dan enggak bertele-tele. Pemenggalan kalimatnya pun enak banget dan rasanya enggak butuh effort lebih untuk memahami cerita yang dituangkan. Ya, memang ada, sih, beberapa cerita yang terkadang harus saya baca lebih dari sekali dahulu supaya bisa lebih mudah dimengerti, but that was no a big deal at all.

Dengan gaya penulisan yang enggak kaku tersebut, rasanya pas sekali apabil buku ini dikategorikan sebagai buku anak-anak. Kendati begitu, orang dewasa tetap bisa membaca dan menikmatinya, ya. 🙂

[BOOK REVIEW] Kita, Kami, Kamu Karya Soca Sobhita & Reda Gaudiamo

Lalu, dari segi tema cerita yang diangkat, betapa saya menyadari bahwa ada pendewasaan tema di buku Kita, Kami, Kamu. Hal itu pun semakin menegaskan karakter Soca yang digambarkan sebagai anak SD dan SMP.

Pada buku sebelumnya, hal yang diangkat dalam cerita mungkin terkesan lebih remeh-temeh karena membahas hal-hal kecil di dalam kepala seorang anak kecil yang kadang enggak kepikiran (atau mungkin pernah kepikiran, tapi lupa begitu saja seiring bertambah usia). Misalnya, soal hewan peliharaan, kue kesukaan, hal-hal yang enggak disukai, atau tentang teman-teman.

Tema di buku Kita, Kami, Kamu lebih banyak membahas hal-hal serius, yang di antarnya mencakup soal pendidikan dan relationship. Namun tetap, kisah keluarga, kisah yang paling dekat, tetap menjadi tema nomor 1 yang disuguhkan.

Jika ingin disimpulkan, topiknya sudah lebih dewasa, ceritanya lebih terstruktur, gerutuan Soca sudah lebih dipoles, setiap cerita punya judul sehingga lebih mudah untuk mengolah kepingan memori, writing skill lebih matang, pokoknya semua dikemas lebih rapi.

Harus diakui, tema yang diangkat rasanya juga enggak asal, benar-benar punya makna tersendiri. Misalnya, tentang Soca yang mengungkapkan keinginannya menjadi orang dewasa menurut sudut pandang anak-anak, tentang Soca yang enggak suka melihat Meps menggunakan alis (wah, ternyata masalah alis sudah diperdebatkan sejak dulu! 😂), tentang keterlibatan Meps dan Beps dalam hal pendidikan Soca, atau tentang keterbukaan antara Ibu dan anak mengenai percintaan di sekolah!

Iya, di dalam buku Kita, Kami, Kamu karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo ini, pembaca akan diajak untuk lebih meresapi dan terbuka mengenai hubungan mereka dengan orangtua. Seenggaknya, ada 3 poin penting yang saya dapatkan dari buku ini.

1. Soal kedekatan, keterbukaan, dan diskusi Ibu-anak

Sejujurnya saya termasuk yang enggak terlalu dekat dengan orangtua kalau sudah urusan personal seperti yang diceritakan di dalam buku ini. Makanya, mengetahui bagaimana Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo tampak begitu dekat dari percakapan-percakapan mereka, membuat saya tersadar betapa indahnya hubungan antara Ibu dan anak.

Apalagi, seringnya orangtua (terutama Ibu) menjadi tempat paling pertama bagi anak-anak untuk menumpahkan segala isi dan pikiran mereka. Orangtua akan dijadikan teman diskusi mengenai hal-hal yang terjadi di kehidupan si anak.

Buku Kita, Kami, Kamu pun mengajarkan para pembaca bahwa orangtua akan selalu menjadi tumpuan utama ketika anak-anak membutuhkan dukungan atau tempat diskusi.

Hal itu pun tergambar jelas ketika kamu membaca beberapa bab terakhir yang berisi percakapan kedua penulis buku ini. Untuk tulisan yang di-bold, itu merupakan “suara” Soca, sementara yang tercetak biasa adalah “suara” Mbak Reda.

Coba, deh, baca bab yang berjudul Pacar. Jujur, bikin iri juga, ya, di umur segitu, keduanya bahkan sudah membahas hal yang menurut saya cukup personal, tapi sebenarnya menarik untuk didiskusikan. Ya, segala sesuatu serba diutarakan berdua, segala sesuatu serba didiskusikan baik-buruknya berdua. What a true relatioship goals between a mother and a daugher.

2. Keterlibatan orangtua dalam fase pendewasaan

Ini dia hal menarik lainnya yang saya temukan pada buku ini. Di setiap cerita, seenggaknya nama Meps dan/atau Beps pasti selalu disebut. Hal ini menunjukkan bagaimana orangtua memiliki peranan penting dalam kehidupan anak setiap harinya, di proses tumbuh kembangnya, di fase pendewasaannya.

Seperti yang sudah diungkapkan, buku Kita, Kami, Kamu memuat tema-tema lanjutan di fase Soca ketika beranjak dewasa dan mau di fase apa pun itu, kedua orangtuanya selalu hadir. Dan bisa jadi, bukan anak saja yang mengalami pendewasaan, melainkan orangtua itu sendiri.

Oh! Omong-omong, ilustrasi yang dibuat oleh Cecillia Hidayat pun juga tampak lebih dewasa di buku ini, lho. Mungkin, karena memang menyesuaikan tema, ya.

Namun, entah kenapa saya lebih suka buku sebelumnya. Ilustrasinya lebih kanak-kanak, lebih lucu, lebih menggemaskan, juga lebih jenaka. Huh, apa iya, ya, masa dewasa itu enggak semenyenangkan masa kanak-kanak? 😣

3. Memberi contoh, bukan menggurui

[BOOK REVIEW] Kita, Kami, Kamu Karya Soca Sobhita & Reda Gaudiamo

Lewat cerita-cerita Soca, jarang sekali saya menemukan peran orangtua yang terkesan “menggurui”, yang kesannya nyuruh harus begini-begitu. (Koreksi saya jika saya salah), justru saya merasa apa yang dialami Soca saat ini adalah hasil peleburan, pelajaran, proses imitasi dari kedua orangtuanya, yang tentunya akan sangat berguna untuk masa depannya.

Saya merasa peran orangtua di buku ini lebih kepada memberi kebebasan kepada si anak untuk melakukan segala sesuatu dengan bertanggung jawab. Sama halnya ketika Reda Gaudiamo membuat perjanjian dengan Soca yang bercita-cita untuk sekolah di Jepang pada bab Kalau Besar Nanti.

Ini bab yang cukup mengharukan dan bikin mata berkaca-kaca. Makanya jangan heran kalau bab itu jadi salah satu cerita favorit di buku Kita, Kami, Kamu. Wajib baca. :”)

Secara keseluruhan, saya suka sekali dengan buku ini. Saya jadi penasaran, apakah Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo sedang mempersiapkan buku lanjutannya lagi di mana kali ini Soca memasuki fase SMA menuju kuliah, lalu mungkin kuliah menuju kerja?

Karena setiap saya membaca cerita-cerita mereka, saya seperti diajak kembali untuk mundur ke belakang, mengingat kembali cerita-cerita masa kecil yang pernah dilalui dan yang sudah terlupakan. Bagaimana ya, sulit juga mengungkapkan perasaan ketika kita berhasil mengingat potingan memori yang sudah terkubur jauh ke dalam. Lebih dari nostalgia, sih.

Sebagai penutup, saya cuma mau bilang terima kasih atas cerita-cerita manis dan jenaka yang telah terekam di buku Kita, Kami, Kamu ini. Percaya deh, kalau buku ini dibaca beberapa tahun lagi, Soca will be very proud of her mother (and father).


Bacaan selanjutnya:

[BOOK REVIEW] Aku, Meps, dan Beps Karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo

1. 12 Rekomendasi Toko Buku Favorit Buat Beli Buku Online
2. Apa Itu Bookstagram dan Bagaimana Cara Membuatnya?
3. Apa Itu Books Aficionado?
4. Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks
5. 7 Tips Meningkatkan Follower Bookstagram untuk Pemula
6. 30 Bookstagram Terms You Should Know
7. 20 Inspirasi Rainbow Bookshelf di Bookstagram yang Bikin Betah Baca Buku Seharian
8. Pengalaman Borong Buku dan Panduan Lengkap ke Big Bad Wolf Jakarta
9. 5 Buku Favorit yang Bikin Saya Jatuh Cinta dengan Dunia Anak-anak
10. Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi
11. 7 Teknik Meningkatkan Engagement Bookstagram
12. 50+ Most Popular Bookstagram Hashtags to Increase Your Followers
13. 15 Rupi Kaur Powerful Quotes Every Girl Needs to Read
14. 15 Akun Bookstagram Indonesia Terfavorit, Sudah Follow Belum?
15. 3 Penulis Teenlit yang Novelnya Bikin Kangen Masa SMA
16. 7 Benda yang Bisa Kamu Jadikan Pembatas Buku
17. Pengalaman Mengirim Buku Gratis Lewat Kantor Pos Setiap Tanggal 17
18. 11 Most Creative Bookstagrammer to Follow in 2018
19. Asyiknya Belanja Buku di Periplus, Toko Buku Impor Langganan
20. [BOOK REVIEW] Gadis Daun Jeruk Karya Rinda Maria Gempita
21. 17 Rekomendasi Buku di POST Bookshop Pasar Santa
22. [BOOKSTAGRAM TIPS] Memotret Buku dengan Kamera HP atau Kamera DSLR?
23. [EKSKLUSIF] Bab Pertama Novel The Perfect Catch Karya Chocola
24. [BOOK REVIEW] Na Willa: Serial Catatan Kemarin Karya Reda Gaudiamo
25. 7 Properti untuk Bookstagram Biar Foto Makin Keren
26. 7 Cara Memfoto Buku untuk Bookstagram
27. Pengalaman Membeli Buku di POST Bookshop Pasar Santa
28. Pengalaman Beli Buku di Grobmart untuk Pertama Kalinya
29. [BOOK REVIEW] Aku, Meps, dan Beps Karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo
30. Bagaimana Cara Menulis Caption untuk Bookstagram?
31. [BOOK REVIEW] The Stories of Choo Choo: You’re Not as Alone as You Think Karya Citra Marina
32. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Karya Marchella FP
33. 10 Kutipan Terbaik dari Buku NKCTHI Karya Marchella FP
34. [BOOK REVIEW] Things & Thoughts I Drew When I was Bored Karya Naela Ali
35. [BOOK REVIEW] Milk and Honey Karya Rupi Kaur Versi Bahasa Indonesia
36. [BOOK REVIEW] Off the Record Karya Ria SW
37. 17 Ide Foto Bookstagram Bertema Natal yang Bisa Kamu Tiru
38. Cara Mudah Menemukan Buku yang Sedang Diskon di Toko Online
39. Berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Tertinggi di Dunia
40. Akhir Pekan Produktif di Haru Bookstore Gading Serpong
41. Mudahnya Beli Buku Online di Belbuk.com
42. Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu
43. Ngobrolin Novel Taman Pasir di Twitter Bareng Penerbit Grasindo
44. Bedah Buku dan Peluncuran Novel Nyanyian Hujan
45. @sintiawithbooks’ Best Nine on Instagram in 2018
46. [BOOK REVIEW] Seri Kemiri Yori Karya Book For Mountain
47. Serunya Kumpul dan Makan Siang Bareng Nagra dan Aru
48. 8 Booktuber Indonesia Favorit yang Wajib Kamu Tonton Videonya
49. 4 Blogger Buku Favorit yang Sering Kasih Rekomendasi Buku Bagus
50. 7 Rekomendasi Buku yang Asyik Dibaca Saat Traveling
51. Kenapa Sih Suka Banget Bawa Buku Saat Traveling?
52. 5 Tips Memilih Buku untuk Dibawa Saat Traveling
53. Apa Itu Book-Shaming dan Kenapa Harus Dihentikan?
54. Donasi Buku Lewat Lemari Bukubuku, Bisa Dapat Gambar Gratis!
55. [BOOK REVIEW] The Book of Imaginary Beliefs Karya Lala Bohang
56. Pengorbanan Bookstagrammer Demi Dapat Foto Bagus, Pernah Ngerasain?
57. [Book Review] Deep Wounds Karya Dika Agustin
58. 8 Buku Ilustrasi Favorit untuk Kamu yang Butuh Bacaan Ringan
59. Baca 5 Buku tentang Perempuan Ini Saat Hari Perempuan Internasional
60. Panduan Membuat Kartu Anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
61. Things to Know About Big Bad Wolf Books Sale 2019 and My Book Haul!
62. 10 Male Bookstagrammers Who Will Inspire You to Read More
63. [BOOK REVIEW] Dear Tomorrow: Notes to My Future Self Karya Maudy Ayunda
64. [BOOK REVIEW] The Naked Traveler 8: The Farewell Karya Trinity
65. [BOOK REVIEW] Bicara Tubuh Karya Ucita Pohan dan Jozz Felix
66. Pengalaman Belanja Buku di Gramedia World BSD, Tangerang
67. Singgah Sejenak di Perpustakaan Erasmus Huis Jakarta Selatan
68. The Reading Room, Kemang: Sensasi Makan di Perpustakaan
69. Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku
70. Membawa Buku di Penjuru Dunia ke Transit Bookstore Pasar Santa
71. Indie Bookshop Tour: Tur Toko Buku Independen Perdana di Jakarta
72. 7 Inspirasi Tempat Baca Favorit Para Bookstagrammer
73. Toko Buku Foto Gueari Galeri: Jual Foto, Emosi, dan Cerita
74. [BOOK REVIEW] Kamu Terlalu Banyak Bercanda Karya Marchella FP
75. [BOOK REVIEW] The Loneliest Star in the Sky Karya Waliyadi
76. Ketagihan Baca E-book Gara-gara Gramedia Digital
77. [BOOK REVIEW] Jingga Jenaka Karya Annisa Rizkiana Rahmasari
78. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini Karya Mas Aik
79. [BOOK REVIEW] Avontur, Dear 19 Karya Thinkermoon
80. [BOOK REVIEW] Flowers over the Bench Karya Gyanindra Ali
81. Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi
82. 5 Cara Menabung untuk Membeli Buku
83. 5 Cara Menemukan Inspirasi untuk Bookstagram
84. [BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti
85. 5 Rekomendasi Film Favorit Berlatar Toko Buku, Sudah Nonton?
86. Berburu Buku Murah di Vintage Vibes, Alam Sutera
87. 6 Tips Biar Enggak Kalap Belanja Buku di Big Bad Wolf
88. [BOOK REVIEW] Mind Platter (Bejana Pikiran) Karya Najwa Zebian
89. Perpustakaan Goethe-Institut Jakarta: Tempat Asyik Belajar Budaya Jerman
90. Nyamannya Membaca Buku di Perpustakaan Freedom Institute
91. 7 Strategi Jitu Menambah Penghasilan dari Buku
92. Perpustakaan Habibie dan Ainun, Warisan untuk Masyarakat Indonesia
93. Sore Hari Bersama Buku-buku di Halaman Belakang Kineruku Bandung
94. Mengejar Aan Mansyur Hingga ke Katakerja Makassar
95. Kedai Buku Jenny, Lebih dari Sekadar Perpustakaan dan Toko Buku
96. [BOOK REVIEW] Surat untuk Anakku Karya Mahendra Hariyanto
97. [BOOK REVIEW] Selamat Datang, Bulan Karya Theoresia Rumthe
98. 7 Perpustakaan di Jakarta yang Bikin Makin Cinta Membaca
99. 10 Aplikasi Edit Foto Bookstagram yang Sering Saya Gunakan
100. 10 Kutipan Terbaik dari Buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda
101. 8 Tips Meningkatkan Engagement Bookstagram
102. 7 Cara Mudah Membangun Kebiasaan Membaca Buku
103. Pengalaman Menggunakan Cabaca, Platform Penyedia Bacaan Alternatif

Sintia Astarina

Sintia Astarina

A flâneur with passion for books, writing, and traveling. I always have a natural curiosity for words and nature. Good weather, tasty food, and cuddling are some of my favorite things. How about yours?

More about Sintia > 

2 Comments

  1. Lucia Dhinta

    pokok keterlibatan orang tua sangat penting dalam pendewasaan anak-anak. berkomunikasi dan berpikir di proses tumbuh kembangnya. buku ini membawa manfaat untuk peran orangtua serta melihat kedewasaan tumbuh kembang anak

    Reply
  2. Lucia Dhinta

    bagaimana mungkin hubungan orangtua dan anak tertuang dalam buku. mewakili sekali dengan pa yang terjadi di sekitar hidup ini. buku ini sangat ringan pembawaannya dan saya menikmati setiap yang saya baca.

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *