[BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti

203
[BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti
Addio, tentang pahit manisnya cinta, tentang indahnya persahabatan.

[BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti – Saya pernah merasa patah hati karena ditinggalkan orang yang disayang. Dulu, dulu banget. Saya sampai trauma untuk membuka hati kepada orang lain. Bahkan, saya juga pernah percaya bahwa mungkin, dewi fortuna enggak berpihak kepada saya.

Seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu terus-menerus tinggal di dalam diri. Saya sampai heran, kok enggak mau pergi, sih? Betah banget.


Namanya juga patah hati, masa saya enggak mau memberanikan diri buat move on? Tapi nyatanya hal itu enggak semudah yang saya bayangkan. Semakin saya mencoba untuk move on, semakin saya merasakan pahitnya cinta. Duh, galau banget deh kalau ngebayangin zaman dulu. 😭💔

Kendati demikian, saya tahu kalau Tuhan sayang sama saya. Dia ingin saya bangkit. Hingga suatu waktu, saya menemukan titik balik yang selama itu saya cari. Seolah hanya dengan satu klik, click!, dan rasa sakit itu benar-benar hilang.

Setiap orang berharap dapat move on dengan gampangnya. Itu pulalah yang sedang diperjuangkan Rania Handita, tokoh utama dalam novel Addio karya Alya Damianti ini.

Karena saya sudah berbagi cerita, kini giliran Rania bertutur soal masa lalunya bersama Raka, lelaki yang meninggalkan dirinya begitu saja.

[BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti

View this post on Instagram

Kamu lebih pilih NINGGALIN atau DITINGGALIN sama orang yang disayang? 💔💔 . Pertanyaan di atas cuma sekilas cuplikan dari novel Addio karya @alyadami. Novel ini bercerita tentang Rania yang pindah ke Milan untuk kuliah S2 dan mewujudkan mimpinya menjadi seorang visual merchandiser. Namun di balik itu, sebenarnya dia pengin banget melupakan Raka, lelaki yang pernah mengisi hari-harinya. Eh tapi gimana ya, entah emang jodoh atau Tuhan lagi "iseng", keduanya kembali dipertemukan di Milan, dengan cara yang enggak terduga. Pertanyaannya, apakah masing-masing dari mereka bakalan move on? Atau melanjutkan kisah mereka yang belum usai? . ASLI GEREGETAN BANGET BACA NOVEL INI! 😳😳 Addio bikin aku kangen banget baca buku fiksi romantis. Meski ceritanya udah sering dibaca atau ditonton di film-film, tetep aja Addio menyuguhkan kisah yang enggak kalah menarik untuk diikuti hingga akhir. Terus yang aku suka, penulisnya @alyadami, punya gaya bertutur yang asyik dan luwes banget! Bukan cuma itu, aku gampang banget kepincut sama penggambaran Milan, mulai dari pelajar Indonesia di sana, orang-orang lokal, juga makanannya! Aku gak sabar baca novel ini sampai habis, penasaran banget sama kisah Rania dan Raka. Akankah mereka mengucap "Addio" kembali? 😭💔 . Ulasan selengkapnya bakal aku tulis di blog www.sintiaastarina.com, ya! 🍭🍭 . #SintiaReads

A post shared by sɪɴᴛɪᴀ ᴀsᴛᴀʀɪɴᴀ | Indonesia 🇲🇨 (@sintiawithbooks) on


Judul Buku: Addio
Penulis: Alya Damianti
Penerbit: Bhuana Sastra (BIP)
Terbit: 24 Juni 2019
ISBN: 9786232162570
Tebal: 356 halaman
Harga: Rp75.000

Selain untuk meraih gelar master dan mewujudkan mimpinya menjadi seorang visual merchandiser, Rania berharap kepindahannya ke Kota Milan bisa membuatnya melupakan sosok pria di masa lalunya bernama Raka.

Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, siapa sangka justru Milan yang mempertemukan mereka kembali dengan cara tak terduga. Yang menjadi tanda tanya besar, kali ini Raka akan tinggal atau pergi lagi, seperti yang pernah terjadi pada kisah masa lalu mereka?

Kisah ini membawa kita menikmati kehidupan dan keindahan kota-kota di Italia, merasakan pahit manisnya cinta, dan indahnya persahabatan….


Tentang Meninggalkan dan… yang Ditinggalkan

[BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti

Well, kalau ngomongin cinta memang enggak ada habisnya. Ya, nggak sih? Berbagai rasa bisa timbul hanya karena satu kata ini. Rasa senang, bahagia, kecewa, sedih, marah….

Bahkan, seringnya cinta membuat kita enggak mampu mengungkapkan perasaan sendiri. Ya, perasaan itulah yang sepertinya sedang dicoba dilawan Rania.

Baca juga: [BOOK REVIEW] The Loneliest Star in the Sky Karya Waliyadi

Untuk kamu yang sudah makin penasaran, novel Addio ini dibuka dengan cerita soal kepindahan Rania ke Milan, Italia, sebulan yang lalu. Kepindahannya ini bukan hanya karena dirinya ingin mengejar gelar Master, melainkan karena ia ingin melupakan Raka.

Akan tetapi, semakin dirinya menjauh, sosok Raka malah semakin mendekat. Siapa menyangka, Milan malah mempertemukan keduanya kembali. Komunikasi yang intens, pertemuan demi pertemuan, nyatanya membuat benih-benih cinta yang sempat terkubur lama, kini tumbuh kembali.

Ada yang menyarankan Rania untuk segera move on dan enggak perlu lagi berhubungan dengan Raka. Tapiii… gimana ya, namanya juga masih cinta, gimana bisa tahu akhir ceritanya bila enggak dicoba?

Namun pertanyaannya, layakkah keduanya menerima kesempatan kedua? Atau, akankah mereka saling mengucap “Addio” untuk kali terakhir?

[BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti

Akhirnyaaa… ada juga nih, novel yang bikin saya kangen baca buku fiksi romantis. Meski ceritanya udah sering dibaca atau ditonton di film-film, tetep aja Addio menyuguhkan kisah yang enggak kalah menarik untuk diikuti hingga akhir.

Baca juga: [BOOK REVIEW] Avontur, Dear 19 Karya Thinkermoon

Mood dalam novel ini dijaga dengan baik. Cerita yang disampaikan semakin lama semakin dalam. Pembaca pun dibuat penasaran, bagaimana akhir cerita Rania dan Raka?

Terlepas dari itu, ada satu hal yang jadi concern saya terhadap novel ini, yakni soal alurnya yang maju-mundur.

Jadi, dalam satu bab, ada setting di masa sekarang yang mana dicampur dengan masa lalu. Kadang, saya bingung ketika sedang membaca paragraf demi paragraf, hmm… ini setting waktunya di mana, ya?

Kalau bacanya enggak konsen, mungkin saya akan mengira cerita di masa lalu berlatar waktu sekarang, atau mungkin juga sebaliknya.

[BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti

Dulu, saya pernah konsultasi dengan seorang editor fiksi. Katanya, untuk alur campur seperti itu lebih baik babnya dipisah saja agar tidak membingungkan pembaca.

Alternatif lainnya, kalau mau, paragraf tersebut diatur dalam format Italic atau huruf miring sehingga pembaca bisa dengan mudah memisahkan mata plot berlatar masa lampau dan mana yang masa sekarang.

Saya sendiri enggak tahu apa pertimbangan penulis dan editor untuk menyatukan plot tersebut. Namun yang saya yakini, namanya juga menulis, sudah pasti ini merupakan sisi kreatif si pembuat karya.

[BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti

Selanjutnya, soal gaya penulisan. Jujur, saya suka banget dengan cara Alya Damianti menuturkan buah-buah pemikirannya ke dalam bentuk tulisan. Santai dan luwes banget!

Penggunaan bahasa sehari-hari membikin saya lebih mudah memahami apa isi kepala para tokoh-tokohnya. Saya juga jadi bisa lebih cepat membaca novel ini.

Baca juga: [BOOK REVIEW] Flowers over the Bench Karya Gyanindra Ali

Kemudian, menurut saya penulis juga ahli banget dalam menggambarkan kota Milan. Mulai dari kebudayaannya, kebiasaan orang lokal, bagaimana kehidupan pelajar-pelajar Indonesia yang sekolah di sana, dan juga makanannya!

Kalau membaca novel Addio ini, rasanya saya ikut menjelajah kota Milan yang cantik! Mulai dari tempat-tempat bersejarah di sana, hingga mencicipi beragam makanan yang bikin ngiler. Bahkan, saya jadi kepengin cobain Tiramisu-nya Princi Cafe dan Blueberry Cheesecake-nya California Bakery! 🤤

[BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti

Omong-omong, novel Addio karya Alya Damianti ini punya sampul oranye yang cantik sekali. Pas pertama kali diperlihatkan sampulnya, jatuh cinta banget!

Sampulnya sendiri didesain oleh Addina Faizati dan kalau dilihat-lihat, kehangatan Milan rasanya sampai dengan mudah ke hati para pembaca.

Baca juga: [BOOK REVIEW] Dear Tomorrow: Notes to My Future Self Karya Maudy Ayunda

Secara keseluruhan, saya suka sekali dengan Addio karya Alya Damianti ini. Novel ini bikin saya kangen banget baca fiksi romantis. Kisah-kisah di dalamnya membuat saya percaya bahwa cinta itu nyata adanya.

Nah, untuk kamu yang lagi galau soal percintaan, lagi merantau atau sekolah di luar, atau berandai-andai pengin menelusuri setiap sudut kota Milan dan sekitarnya, Addio bisa jadi bacaan yang tepat buatmu, nih.

Saya berharap, semoga kamu menemukan kebahagiaan kala menyelami pahit manisnya cinta. ❤


Jangan pergi dulu, sempatkan membaca tulisan lainnya di bawah ini, ya.

[BOOK REVIEW] Deep Wounds Karya Dika Agustin

1. 7 Rekomendasi Toko Buku Favorit Buat Beli Buku Online
2. Apa Itu Bookstagram dan Bagaimana Cara Membuatnya?
3. Apa Itu Books Aficionado?
4. Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks
5. 7 Tips Meningkatkan Follower Bookstagram untuk Pemula
6. 30 Bookstagram Terms You Should Know
7. 20 Inspirasi Rainbow Bookshelf di Bookstagram yang Bikin Betah Baca Buku Seharian
8. Pengalaman Borong Buku dan Panduan Lengkap ke Big Bad Wolf Jakarta
9. 5 Buku Favorit yang Bikin Saya Jatuh Cinta dengan Dunia Anak-anak
10. Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi
11. 5 Teknik Meningkatkan Engagement Bookstagram Lewat Pemberian Komentar
12. 30+ Most Popular Bookstagram Hashtags to Increase Your Followers
13. 15 Rupi Kaur Powerful Quotes Every Girl Needs to Read
14. 15 Akun Bookstagram Indonesia Terfavorit, Sudah Follow Belum?
15. 3 Penulis Teenlit yang Novelnya Bikin Kangen Masa SMA
16. 7 Benda yang Bisa Kamu Jadikan Pembatas Buku
17. Pengalaman Mengirim Buku Gratis Lewat Kantor Pos Setiap Tanggal 17
18. 11 Most Creative Bookstagrammer to Follow in 2018
19. Asyiknya Belanja Buku di Periplus, Toko Buku Impor Langganan
20. [BOOK REVIEW] Gadis Daun Jeruk Karya Rinda Maria Gempita
21. 17 Rekomendasi Buku di POST Bookshop Pasar Santa
22. [BOOKSTAGRAM TIPS] Memotret Buku dengan Kamera HP atau Kamera DSLR?
23. [EKSKLUSIF] Bab Pertama Novel The Perfect Catch Karya Chocola
24. [BOOK REVIEW] Na Willa: Serial Catatan Kemarin Karya Reda Gaudiamo
25. 7 Properti untuk Bookstagram Biar Foto Makin Keren
26. 7 Cara Memfoto Buku untuk Bookstagram
27. Pengalaman Membeli Buku di POST Bookshop Pasar Santa
28. Pengalaman Beli Buku di Grobmart untuk Pertama Kalinya
29. [BOOK REVIEW] Aku, Meps, dan Beps Karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo
30. Bagaimana Cara Menulis Caption untuk Bookstagram?
31. [BOOK REVIEW] The Stories of Choo Choo: You’re Not as Alone as You Think Karya Citra Marina
32. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Karya Marchella FP
33. 10 Kutipan Terbaik dari Buku NKCTHI Karya Marchella FP
34. [BOOK REVIEW] Things & Thoughts I Drew When I was Bored Karya Naela Ali
35. [BOOK REVIEW] Milk and Honey Karya Rupi Kaur Versi Bahasa Indonesia
36. [BOOK REVIEW] Off the Record Karya Ria SW
37. 17 Ide Foto Bookstagram Bertema Natal yang Bisa Kamu Tiru
38. Cara Mudah Menemukan Buku yang Sedang Diskon di Toko Online
39. Berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Tertinggi di Dunia
40. Akhir Pekan Produktif di Haru Bookstore Gading Serpong
41. Mudahnya Beli Buku Online di Belbuk.com
42. Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu
43. Ngobrolin Novel Taman Pasir di Twitter Bareng Penerbit Grasindo
44. Bedah Buku dan Peluncuran Novel Nyanyian Hujan
45. @sintiawithbooks’ Best Nine on Instagram in 2018
46. [BOOK REVIEW] Seri Kemiri Yori Karya Book For Mountain
47. Serunya Kumpul dan Makan Siang Bareng Nagra dan Aru
48. 8 Booktuber Indonesia Favorit yang Wajib Kamu Tonton Videonya
49. 4 Blogger Buku Favorit yang Sering Kasih Rekomendasi Buku Bagus
50. 7 Rekomendasi Buku yang Asyik Dibaca Saat Traveling
51. Kenapa Sih Suka Banget Bawa Buku Saat Traveling?
52. 5 Tips Memilih Buku untuk Dibawa Saat Traveling
53. Apa Itu Book-Shaming dan Kenapa Harus Dihentikan?
54. Donasi Buku Lewat Lemari Bukubuku, Bisa Dapat Gambar Gratis!
55. [BOOK REVIEW] The Book of Imaginary Beliefs Karya Lala Bohang
56. Pengorbanan Bookstagrammer Demi Dapat Foto Bagus, Pernah Ngerasain?
57. [Book Review] Deep Wounds Karya Dika Agustin
58. 5 Buku Ilustrasi Favorit untuk Kamu yang Butuh Bacaan Ringan
59. Baca 5 Buku tentang Perempuan Ini Saat Hari Perempuan Internasional
60. Panduan Membuat Kartu Anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
61. Things to Know About Big Bad Wolf Books Sale 2019 and My Book Haul!
62. 10 Male Bookstagrammers Who Will Inspire You to Read More
63. [BOOK REVIEW] Dear Tomorrow: Notes to My Future Self Karya Maudy Ayunda
64. [BOOK REVIEW] The Naked Traveler 8: The Farewell Karya Trinity
65. [BOOK REVIEW] Bicara Tubuh Karya Ucita Pohan dan Jozz Felix
66. Pengalaman Belanja Buku di Gramedia World BSD, Tangerang
67. Singgah Sejenak di Perpustakaan Erasmus Huis Jakarta Selatan
68. The Reading Room, Kemang: Sensasi Makan di Perpustakaan
69. Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku
70. Membawa Buku di Penjuru Dunia ke Transit Bookstore Pasar Santa
71. Indie Bookshop Tour: Tur Toko Buku Independen Perdana di Jakarta
72. 7 Inspirasi Tempat Baca Favorit Para Bookstagrammer
73. Toko Buku Foto Gueari Galeri: Jual Foto, Emosi, dan Cerita
74. [BOOK REVIEW] Kamu Terlalu Banyak Bercanda Karya Marchella FP
75. [BOOK REVIEW] The Loneliest Star in the Sky Karya Waliyadi
76. Ketagihan Baca E-book Gara-gara Gramedia Digital
77. [BOOK REVIEW] Jingga Jenaka Karya Annisa Rizkiana Rahmasari
78. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini Karya Mas Aik
79. [BOOK REVIEW] Avontur, Dear 19 Karya Thinkermoon
80. [BOOK REVIEW] Flowers over the Bench Karya Gyanindra Ali
81. Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi
82. 5 Cara Menabung untuk Membeli Buku
83. 5 Cara Menemukan Inspirasi untuk Bookstagram
84. Berburu Buku Murah di Vintage Vibes, Alam Sutera
85. 5 Rekomendasi Film Favorit Berlatar Toko Buku, Sudah Nonton?


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.