Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi

141
Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi
Sudah pernah main ke Galeri Buku Bengkel Deklamasi?

Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi – Taman Ismail Marzuki siang itu tampak agak ramai. Banyak Ibu yang membawa anak-anak mereka mengunjungi Planetarium Jakarta.

Tak sedikit juga muda-mudi yang berfoto di kawasan ini, entah itu di depan patung Ismail Marzuki atau di depan mural-mural cantik di sini.


Saya sendiri langsung bergegas ke sebuah toko buku yang terletak di Taman Ismail Marzuki. Mungkin kamu pernah ke sini? Ya, namanya Galeri Buku Bengkel Deklamasi. Letaknya persis di sebelah Graha Bakti Budaya.

Kalau ke sini, memang, kamu enggak akan menemukan tulisan berupa nama toko buku ini. Namun, wajah alm. Huriah Adam, beserta tulisan “Barabah yang terbang & tak pernah kembali” yang terpampang besar, akan menyambutmu.

Apa hal menarik yang saya temukan di sini? Berikut sekilas perjalanan saya.

Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi

Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini didirikan oleh Jose Rizal Manua, seorang aktor, pujangga, dan sutradara kawakan Indonesia.

Mulanya, ia yang menjadi bagian dari Bengkel Teater Rendra, diundang ke sebuah festival di Amerika Serikat pada 1988. Di Amerika, ia membawa pulang buku teater dan film yang harganya murah.


Ia pun terinspirasi dengan konsep buku bekas di negara tersebut dan Jose Rizal Manua pun ingin membuat toko buku berkonsep serupa di Indonesia.

Akhirnya, pada 1994, ia bertemu dengan Soerjadi Soedirja (Gubernur DKI Jakarta yang saat itu sedang menjabat) untuk mengutarakan gagasannya mengenai secondhand bookstore. Akhirnya, Dinas Kebudayaan DKI pun membangun Galeri Buku Bengkel Deklamasi.

Lalu, di sini dijual buku apa aja, sih? Banyak, banyak banget! Perlahan saya masuk ke dalam Galeri Buku Bengkel Deklamasi.

Baru masuk saja benar-benar sudah disesakki tumpukan buku di sana-sini. Ketika tiba, hanya terlihat dua-tiga orang yang asyik mencari buku incaran mereka di tengah ribuan buku di sana.

Di dalam, terlihat ada showcase cooler berisi berbagai minuman. Teh Kotak, salah satu minuman favorit saya, ada di sana.

Di dalam toko buku, ada pula kipas angin menyala, yang membuat Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini nggak lagi terasa pengap. Di dekat pintu masuk, duduklah seorang pria yang asyik sendiri dengan ponselnya. Setelah googling, barulah saya tahu itu Jose Rizal Manua!

Tadinya saya ingin mencuri foto dirinya, tapi malu-malu. Akhirnya, saya cuma foto-foto kondisi toko buku ini saja, deh. Hehehe. 🙂

“Silakan, cari apa? Masuk aja, Mbak. Di situ juga ada buku,” kata seorang lelaki berbaju merah dan bertubuh kurus nan jangkung, menyapa saya. Lelaki itu terlihat mondar-mandir.

Sesekali ia menyapa pengunjung lainnya, lalu membantu mencarikan mereka buku yang diinginkan di antara segitu banyaknya tumpukan buku. Heran deh, gimana bisa ya, menemukan satu-dua judul buku di toko buku ini.

Omong-omong, buku yang dijual di Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini kebanyakan bergenre sastra, seni, dan budaya.

Kalau diperhatikan, enggak semua kondisi bukunya bagus. Ada yang ujung sampulnya terlipat, ada yang kertasnya sudah menguning, ada yang disampul dan ada yang tidak, plus enggak sedikit yang buku-bukunya berdebu.

Baca juga: Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku

Ah, ternyata Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini memang harus dieksplorasi pelan-pelan saking banyaknya tumpukan buku. Kalau tidak diberi tahu si penjual, mungkin akan kesulitan mencari letak buku-buku bagus.

Saya sendiri lagi enggak cari buku tertentu. Saya ke Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini hanya sekadar untuk melihat-lihat saja koleksi mereka. Kalau beruntung ketemu buku bagus dengan harga yang oke, ya berarti emang jodohnya saya.

Saya melangkahkan kaki ke bagian dalam toko buku yang dibatasi oleh pintu. Wihh… di sini enggak kalah padat dan sesak!

Ada bagain di mana rak beserta buku-bukunya tersusun begitu rapi. Namun sebaliknya, ada juga rak-rak yang enggak pada posisinya, beserta barang-barang berserakkan di lantai.

Pada beberapa bagian, sarang laba-laba dan debu terlihat menumpuk. Jujur, saya enggak berani lama-lama di sini. 😅

galeri buku bengkel deklamasi - jose rizal manua

Oh ya, ternyata Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini juga menjual kacet dan CD lama. Saya enggak terlalu kenal sih dengan musisi-musisinya. Makanya saya hanya melihat sekilas juga.

galeri buku bengkel deklamasi - jose rizal manua

Lalu, pada salah satu rak buku, tertempel kliping koran yang mengulas sosok Jose Rizal Manua dan kontribusinya dalam teater anak-anak. Kalau kamu familiar dengan nama Teater Tanah Air, yes hal tersebut enggak lepas dari kontribusi besar si pemilik toko buku lawas ini. Keren banget, ya!

Oke, sebentar saja saya mengulik bagian dalam Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini. Saya pun kembali ke bagian luar karena di sini lebih ada udara.

Saya pun menyusuri satu-dua sudut rak buku saja, lalu saya perhatikan dengan detail nama-nama atau judul yang tertulis pada sampul buku.

galeri buku bengkel deklamasi - jose rizal manua

Beberapa buku dengan nama penulis yang familiar saya temukan di Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini. Misalnya, ada buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi. Lalu, ada pula Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis di sini.

Pada plastik yang membungkus buku ini, tertera harga Rp75.000. Ternyata harganya lebih mahal Rp20.000 dibandingkan di toko buku online. Saya pernah membeli Perempuan di Titik Nol dan harganya Rp55.000. Tadinya, lumayan tergoda untuk membeli Harimau! Harimau!, tapi ternyata harganya lebih mahal.

Baca juga: Akhir Pekan Produktif di Haru Bookstore Gading Serpong

Namun setahu saya, harga buku di Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini bisa ditawar, kok. Waktu itu ada pengunjung yang menawar harga lebih murah. Si lelaki berbaju merah bertanya ke Jose Rizal Manua dengan memanggilnya Mas, dan ternyata diperbolehkan.

Nah, karena enggak tahu mau membeli buku apa di Galeri Buku Bengkel Deklamasi, plus udah keburu pusing duluan melihat ribuan judul buku di sana, perlahan saya beranjak ke luar.

Saya bertanya kepada lelaki berbaju merah, “Mas, di sini biasanya tutup jam berapa?”

“Biasanya jam 10 atau jam 11,” jawbanya.

“Kalau bukanya jam?”

“Kalau kita buka enggak tentu, sih. Pagi, siang,” katanya lagi sambil mengulas senyum.

Saya kemudian pamit. Hari semakin sore. Saya melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.

Meski cuma sebentar saja di Galeri Buku Bengkel Deklamasi, senang sekali bisa melihat pemiliknya langsung. Senang juga mengetahui toko buku ini masih eksis.

galeri buku bengkel deklamasi - jose rizal manua

Tahu enggak sih, beberapa waktu lalu ada wacana Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini bakal digusur. Katanya sih, mau dibangun cafe di Taman Ismail Marzuki. Namun, belum lama saya ke sana, toko buku ini masih eksis dan buka, kok.

Fyuuhhh… syukur deh. Jangan sampai digusur. Bakalan sedih banget enggak sih, kalau toko buku lawas yang udah eksis semenjak puluhan tahun lalu harus kehilangan “rumahnya”?

Baca juga: Membawa Buku di Penjuru Dunia ke Transit Bookstore Pasar Santa

Kalau yang saya baca dari beberapa media, banyak banget lho, orang-orang yang mampir ke Galeri Buku Bengkel Deklamasi ini untuk mencari buku-buku lawas atau mahasiswa yang mencari referensi buku di sini. Bakalan sayang banget kalau toko buku di Jakarta berkurang.

Untuk itu, saya pengin ngajakkin temen-temen untuk mampir ke Galeri Buku Bengkel Deklamasi di Taman Ismail Marzuki ini. Coba deh, lihat koleksinya yang super banyak. Siapa tahu kamu malah menemukan “harta karun” yang udah diincar selama ini. Kalau dapat harga murah, itu bonus!

Saran saya, kalau sedang mencari buku tertentu, jangan ragu untuk bertanya ke penjualnya, ya. Ia akan dengan senang hati memberi tahu di mana lokasi buku yang diinginkan. Bila beruntung, bisa bertemu dengan Jose Rizal Manua langsung, lho! 😀


Selamat berburu buku-buku lawas di toko buku ini!

Alamat: Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, RT.4/RW.2, Cikini, Jakarta Pusat

Jam buka: setiap hari, pagi sampai malam


Bacaan selanjutnya yang enggak kalah asyik! Yakin nggak mau baca? 🤔

Toko Buku Foto Gueari Galeri: Jual Foto, Emosi, dan Cerita

1. 7 Rekomendasi Toko Buku Favorit Buat Beli Buku Online
2. Apa Itu Bookstagram dan Bagaimana Cara Membuatnya?
3. Apa Itu Books Aficionado?
4. Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks
5. 7 Tips Meningkatkan Follower Bookstagram untuk Pemula
6. 30 Bookstagram Terms You Should Know
7. 20 Inspirasi Rainbow Bookshelf di Bookstagram yang Bikin Betah Baca Buku Seharian
8. Pengalaman Borong Buku dan Panduan Lengkap ke Big Bad Wolf Jakarta
9. 5 Buku Favorit yang Bikin Saya Jatuh Cinta dengan Dunia Anak-anak
10. Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi
11. 5 Teknik Meningkatkan Engagement Bookstagram Lewat Pemberian Komentar
12. 30+ Most Popular Bookstagram Hashtags to Increase Your Followers
13. 15 Rupi Kaur Powerful Quotes Every Girl Needs to Read
14. 15 Akun Bookstagram Indonesia Terfavorit, Sudah Follow Belum?
15. 3 Penulis Teenlit yang Novelnya Bikin Kangen Masa SMA
16. 7 Benda yang Bisa Kamu Jadikan Pembatas Buku
17. Pengalaman Mengirim Buku Gratis Lewat Kantor Pos Setiap Tanggal 17
18. 11 Most Creative Bookstagrammer to Follow in 2018
19. Asyiknya Belanja Buku di Periplus, Toko Buku Impor Langganan
20. [BOOK REVIEW] Gadis Daun Jeruk Karya Rinda Maria Gempita
21. 17 Rekomendasi Buku di POST Bookshop Pasar Santa
22. [BOOKSTAGRAM TIPS] Memotret Buku dengan Kamera HP atau Kamera DSLR?
23. [EKSKLUSIF] Bab Pertama Novel The Perfect Catch Karya Chocola
24. [BOOK REVIEW] Na Willa: Serial Catatan Kemarin Karya Reda Gaudiamo
25. 7 Properti untuk Bookstagram Biar Foto Makin Keren
26. 7 Cara Memfoto Buku untuk Bookstagram
27. Pengalaman Membeli Buku di POST Bookshop Pasar Santa
28. Pengalaman Beli Buku di Grobmart untuk Pertama Kalinya
29. [BOOK REVIEW] Aku, Meps, dan Beps Karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo
30. Bagaimana Cara Menulis Caption untuk Bookstagram?
31. [BOOK REVIEW] The Stories of Choo Choo: You’re Not as Alone as You Think Karya Citra Marina
32. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Karya Marchella FP
33. 10 Kutipan Terbaik dari Buku NKCTHI Karya Marchella FP
34. [BOOK REVIEW] Things & Thoughts I Drew When I was Bored Karya Naela Ali
35. [BOOK REVIEW] Milk and Honey Karya Rupi Kaur Versi Bahasa Indonesia
36. [BOOK REVIEW] Off the Record Karya Ria SW
37. 17 Ide Foto Bookstagram Bertema Natal yang Bisa Kamu Tiru
38. Cara Mudah Menemukan Buku yang Sedang Diskon di Toko Online
39. Berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Tertinggi di Dunia
40. Akhir Pekan Produktif di Haru Bookstore Gading Serpong
41. Mudahnya Beli Buku Online di Belbuk.com
42. Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu
43. Ngobrolin Novel Taman Pasir di Twitter Bareng Penerbit Grasindo
44. Bedah Buku dan Peluncuran Novel Nyanyian Hujan
45. @sintiawithbooks’ Best Nine on Instagram in 2018
46. [BOOK REVIEW] Seri Kemiri Yori Karya Book For Mountain
47. Serunya Kumpul dan Makan Siang Bareng Nagra dan Aru
48. 8 Booktuber Indonesia Favorit yang Wajib Kamu Tonton Videonya
49. 4 Blogger Buku Favorit yang Sering Kasih Rekomendasi Buku Bagus
50. 7 Rekomendasi Buku yang Asyik Dibaca Saat Traveling
51. Kenapa Sih Suka Banget Bawa Buku Saat Traveling?
52. 5 Tips Memilih Buku untuk Dibawa Saat Traveling
53. Apa Itu Book-Shaming dan Kenapa Harus Dihentikan?
54. Donasi Buku Lewat Lemari Bukubuku, Bisa Dapat Gambar Gratis!
55. [BOOK REVIEW] The Book of Imaginary Beliefs Karya Lala Bohang
56. Pengorbanan Bookstagrammer Demi Dapat Foto Bagus, Pernah Ngerasain?
57. [Book Review] Deep Wounds Karya Dika Agustin
58. 5 Buku Ilustrasi Favorit untuk Kamu yang Butuh Bacaan Ringan
59. Baca 5 Buku tentang Perempuan Ini Saat Hari Perempuan Internasional
60. Panduan Membuat Kartu Anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
61. Things to Know About Big Bad Wolf Books Sale 2019 and My Book Haul!
62. 10 Male Bookstagrammers Who Will Inspire You to Read More
63. [BOOK REVIEW] Dear Tomorrow: Notes to My Future Self Karya Maudy Ayunda
64. [BOOK REVIEW] The Naked Traveler 8: The Farewell Karya Trinity
65. [BOOK REVIEW] Bicara Tubuh Karya Ucita Pohan dan Jozz Felix
66. Pengalaman Belanja Buku di Gramedia World BSD, Tangerang
67. Singgah Sejenak di Perpustakaan Erasmus Huis Jakarta Selatan
68. The Reading Room, Kemang: Sensasi Makan di Perpustakaan
69. Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku
70. Membawa Buku di Penjuru Dunia ke Transit Bookstore Pasar Santa
71. Indie Bookshop Tour: Tur Toko Buku Independen Perdana di Jakarta
72. 7 Inspirasi Tempat Baca Favorit Para Bookstagrammer
73. Toko Buku Foto Gueari Galeri: Jual Foto, Emosi, dan Cerita
74. [BOOK REVIEW] Kamu Terlalu Banyak Bercanda Karya Marchella FP
75. [BOOK REVIEW] The Loneliest Star in the Sky Karya Waliyadi
76. Ketagihan Baca E-book Gara-gara Gramedia Digital
77. [BOOK REVIEW] Jingga Jenaka Karya Annisa Rizkiana Rahmasari
78. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini Karya Mas Aik
79. [BOOK REVIEW] Avontur, Dear 19 Karya Thinkermoon
80. [BOOK REVIEW] Flowers over the Bench Karya Gyanindra Ali


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.