Yang Gugur di Medan Perang, Yang Dikenang di Ereveld Menteng Pulo

Oct 30, 2020

Yang Gugur di Medan Perang, Yang Dikenang di Ereveld Menteng Pulo – Berkali-kali saya menekan bel di sisi kiri gerbang hitam yang masih tertutup rapat pagi itu. Sekali, dua kali, tak ada yang ke luar. Hingga menggaung bunyi bel untuk kesekian kali, seorang pria dengan masker di mulutnya tampak mendekat ke arah gerbang.

“Pagi, Pak,” kata saya menyapanya.

“Pagi.” Bergegas ia membukakan gerbang, mempersilakan saya masuk dan memarkirkan kendaraan di dalam.

Ereveld Menteng Pulo, begitu tertulis di gapura utama. Seorang wanita tampak paruh baya berbaju biru menyambut kedatangan saya. Ternyata ia adalah Bu Wulan, salah seorang pengurus sekaligus pemandu di tempat ini.

Sehari sebelumnya, saya sempat mengirim DM ke akun Instagram @erevelden_in_indonesia, menanyakan apakah ada petugas yang dapat mengajak saya berkeliling di tempat ini. Balas mereka, saya dapat membuat janji terlebih dahulu atau langsung mengontak Ereveld Menteng Pulo dengan Ibu Wulan. Ah, ini dia orangnya.

Setelah berbincang sedikit soal asal dan tujuan saya ke Ereveld Mentang Pulo, Bu Wulan langsung mempersilakan saya masuk ke pendopo untuk dicek suhu tubuhnya, mengisi buku tamu, lalu diajaklah saya berkeliling.

Ereveld Menteng Pulo sejatinya merupakan Makam Kehormatan Belanda yang dikhususkan bagi para korban Perang Dunia II yang gugur dalam pertempuran melawan Tentara Jepang pada 1941-1945, serta selama masa revolusi pada 1945-1949.

Pemakaman yang berdiri di sebuah tanah berbentuk L ini dibangun oleh Belanda dan diresmikan pada 8 Desember 1947 oleh Jenderal Spoor, dua tahun berselang setelah Soekarno memproklamasikan kemerdekaan. Tanah pemberian pemerintah Indonesia ini nyatanya menyimpan sejarah yang membuat siapa saja pilu kala mendengarnya.

Namun, jangan disangka jika korban perang di sini hanyalah tentara. Bu Wulan bercerita pada saya bahwa warga sipil pun banyak yang menjadi korban, termasuk para keluarga yang di dalamnnya terdapat anak-anak. Bahkan, saya sempat ditunjukkan sebuah makan bayi berusia satu bulan. Sedih luar biasa rasanya.

Rupanya, selama penjajahan Jepang, warga sipil Belanda ditawan dan diadikan pekerja paksa. Salah satunya adalah untuk membangun rel kereta Burma-Siam yang akan saya tunjukkan gambarnya nanti. Di sisi lain, warga pribumi Indonesia dibiarkan menderita akibat kekurangan makanan. Tak heran jika banyak yang busung lapar.

Ereveld Menteng Pulo

Berdasarkan informasi yang didapat, dulunya terdapat 22 Makam Kehormatan Belanda yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, kini hanya dijadikan 7 ereveld saja dan semuanya dipusatkan di Pulau Jawa.

Begini pembagiannya: Jakarta (Ereveld Menteng Pulo dan Ereveld Ancol), Bandung (Ereveld Pandu), Cimahi (Ereveld Leuwigajah), Semarang ( Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi), dan Surabaya (Ereveld Kembang Kuning. Semua ereveld ini dikelola langsung oleh Oorlogsgravenstichting (Yayasan Makam Kehormatan Belanda).

Baca juga: Tebing Koja Tangerang: Review Tempat dan Panduan Lengkap

Oh ya, setiap ereveld ini pun memiliki keunikannya masing-masing. Misalnya, di Ereveld Ancol terdapat hemelboom atau pohon surga yang menjadi saksi bisu kekejian Perang Dunia II, sekaligus tempat sebagian besar eksekusi dilakukan. Sementara itu, hanya di Ereveld Menteng Pulo lah yang terdapat gereja untuk upacara peringatan.

Makam Kehormatan ini sangatlah penting karena dapat menyuguhkan sepenggal sejarah Belanda dan Indonesia di Asia Tenggara. Oorlogsgravenstichting ingin memastikan bahwa para korban perang dan cerita-cerita mereka tetap dapat dikenang di dalam sejarah.

Bu Wulan pun kembali bercerita bahwa masih banyak keluarga korban yang berziarah ke tempat ini. “Ada (pihak keluarga) yang datang ke sini setiap tahun. Pertama kali datang masih kuat jalan sendiri, kedua kali datang sudah mulai pakai tongkat/kursi roda. Ketiga kali sudah mulai susah jalannya. Biasanya pihak keluarga (yang sudah tua), ingatannya (tentang perang) kuat sekali. Dia cerita saudaranya jadi korban, sementara ia berhasil menyelamatkan diri,” katanya.

Ereveld Menteng Pulo (dan mungkin juga ereveld lainnya), memiliki 6 tanda makam yang digunakan sebagai salah satu identifier para korban perang.

Tanda makam ini dibedakan menurut agama dan khusus agama Kristen/Katolik, dibedakan lagi berdasarkan jenis kelamin. Oh, ada pula tanda makam yang ukurannya lebih kecil, yang mengidentifikasikan korban anak-anak.

Ereveld Menteng Pulo

Sepengamatan saya, di pemakaman yang dirancang oleh arsitek Belanda bernama Letkol Hugo Anthonius van Oerle ini ada banyak korban perang berjenis kelamin laki-laki dan beragama Kristen/Katolik. Saya jarang menemui yang beragama Buddha, sementara yang beragama Yahudi dapat dihitung jari.

Makam Muslim dapat ditemui di sisi kiri pintu masuk pemakaman yang ternyata menghadap arah kiblat, dan lainnya tersebar di beberapa titik. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Detik.com, mayoritas warga Indonesia yang gugur adalah prajurit Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda yang anggotanya ialah orang Indonesia.

Selain itu, adapula makam massal, yang berarti pindahan dari ereveld lain. Saya sempat bertanya kepada Bu Wulan, “Bu, untuk makam massal, apa agama mereka? Apakah semua tanda makam massal memiliki bentuk salib juga?”

Setelah melontarkan pertanyaan itu, saya merasa agak awkward karena menanyakan apa agama seseorang. Maaf, saya hanya penasaran karena saya hanya melihat tanda makam berbentuk salib untuk makam massal.

Bu Wulan menjawab kalau makam pindahan ini memang biasanya beragama Kristen/Katolik sehingga tanda makam mereka dibuat demikian. Ah, begitu ternyata ceritanya.

Oh ya, ada pula makam bertuliskan Okenbekend yang artinya enggak dikenal. Katanya, korban (kalau enggak salah, ada anak kecil juga) yang dimakamkan ada yang tubuhnya enggak utuh sehingga sulit untuk diidentifikasi. Namun tentu saja, mereka tetap mendapat tempat yang layak di sini.

Di bagian lain pemakaman ini, tepatnya di Blok Tjililitan, terdapat makam khusus para korban perang akibat jatuhnya pesawat. Berdasarkan informasi yang diterima, ini merupakan pindahan dari Ereveld Tjililitan yang mulanya terletak di kawasan Pangkalan Udara Militer Halim Perdanakusuma.

Di area ini, terdapat sebuah tugu dengan baling-baling yang salah satu bagiannya patah. Di tugu ini tertulis, “Ter nagedachtenis aan onze gevallen kameraden” yang artinya “Untuk rekan-rekan kami yang telah jatuh”.

Saya cuma bisa bergidik ngeri membayangkan puluhan tahun silam, sembari bersyukur karena enggak hidup di zaman perang.

Di Ereveld Menteng Pulo ini pun terdapat makam dua tentara yang mungkin namanya sering disebut saat pelajaran Sekolah di bangku dasar. Mereka adalah Jenderal Spoor (ya, ia yang meresmikan tempat ini, ia pula yang tinggal selamanya di sini) dan Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby. Sayang, saya mengetahuinya saat sudah pulang sehingga saya enggak bisa melihat langsung makam mereka.

Di sini, ketika sedang foto-foto sendiri, saya berpapasan dengan rombongan pengurus yang sepertinya hendak berkebun di area ini. Salah seorang dari mereka tiba-tiba menyapa dalam bahasa Inggris.

“Hi, how are you?” tanya seorang pria dengan kacamata hitam dan masker medisnya.

“Hi, I’m good, thank you,” sambil tersenyum saya jawab dengan agak terbata karena sama sekali enggak menyangka akan disapa dan diajak ngobrol.

“Ada pertanyaan yang ingin ditanyakan mengenai tempat ini?” Saya lupa apa pertanyaan pastinya, tapi kurang lebih ia bertanya begini. Lalu setelahnya, berbincanglah kami dengan asik.

“Ah, belum. Saya rasa Bu Wulan sudah menjelaskan semuanya.”

“Okay. Saya cuma mau ngecek apakah dia melakukan pekerjaannya dengan baik atau enggak. Siapa tahu kamu mendadak punya pertanyaan yang ingin ditanyakan.”

“Hehe, belum.”

“Kamu tahu tempat ini dari mana?”

“Oh, salah seorang teman saya pernah menulis tentang tempat ini di blognya dan saya sangat penasaran dengan Ereveld Menteng Pulo, jadi saya datang ke sini bersama Mama. Saya juga ingin menulis artikel yang sama di blog saya.”

“Di blogmu?”

Yes!

Enggak lama, pria di hadapan saya langsung mengambil kartu nama dari dompetnya dan ternyata dia adalah Robbert van de Rijdt, Direktur Oorlogsgravenstichting Indonesia. Wow, I din’t expect that. He’s such a very humble person, tho.

“Kamu bisa menghubungi email ini jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai tempat ini yang bisa kamu tulis di blogmu karena kami akan dengan senang hati menjelaskannya. Kami juga ingin memberi tahu bahwa tempat ini bisa dikunjungi oleh siapa pun. Plus, kami enggak pengin dilihat sebagai ‘Belanda’. Di sini, banyak juga warga Indonesia (bahkan generasi muda, kalau saya enggak salah dengar) yang menjadi korban perang. Kita semua sama,” papar Robbert panjang lebar.

Ya ampun, saya terenyuh sekali. Pulang dari Ereveld Menteng Pulo, saya bukan cuma dapat foto, melainkan relasi, kebaikan, dan cerita-cerita lain yang enggak kalah berharga.

Omong-omong, di Ereveld Menteng Pulo ini, para pengunjung diimbau untuk enggak memotret dari depan/close up atau yang menujukkan nama para korban, ya. Alasannya karena sensitif.

Pernah ada ada yang post foto di makam dan menunjukkan nama dengan begitu jelas dan ternyata ada pihak keluarga yang berkeberatan. Mungkin, bisa saja karena dapat memicul luka-luka lama karena peperangan. Untuk itu, supaya berjaga-jaga dan menghormati pihak keluarga, lebih baik difoto dari belakang saja.

Entah kenapa rasanya betah sekali berlama-lama di sini. Seringkali saya bergumam dalam hati, mengagumi Ereveld Menteng Pulo yang cantik sekali. Sungguh, benar-benar terawat dan rapi.

Ya, siapa lagi kalau bukan Bu Wulan dan pengurus lain di sini yang merawatnya? Di sini memang sudah enggak ada korban perang lain yang “datang” ke Ereveld Menteng Pulo. Oleh karena itu, Bu Wulan dan petugas lain bertanggung jawab atas perawatan makam kehormatan ini.

Apa saja yang dilakukan? Mereka akan mengecek tanda makam secara berkala, apakah ada yang retak, kotor, atau mungkin catnya pudar? Jika ada, mereka akan memperbaiki tanda makam tersebut sehingga tampak bersih dan kembali baru. Beneran deh, saya enggak nemuin ada satu pun tanda makam yang kelihatan enggak bagus.

Baca juga: Masjid Seribu Pintu: Wisata Religi di Tangerang

Bu Wulan cerita, kalau ada tanda makam yang perlu dibetulkan, tanda makam akan dicabut terlebih dahulu, dicatat, kemudian dibawa ke “bengkel” di bagian belakang pemakaman untuk dibetulkan. Katanya, mereka sudah punya persediaan tanda makam kalau-kalau ada yang rusak.

Kemudian, mereka juga punya 2 penulis khusus untuk menulis keterangan di tanda makam, lho. “Karena enggak semua bisa menulisnya, kan,” ujar Bu Wulan.

Selain mengecek tanda makam, pengurus di sini juga bisa membetulkan jalanan yang rusak, membersihkan bangunan beralaskan ubin, hingga berkebun!

Jujur, Ereveld Menteng Pulo ini rasanya enggak seperti tempat pemakaman yang saya lihat biasanya. Tempat ini begitu menakjubkan dengan berbagai pohon, tanaman, serta bunga cantik (banyak bougenvil, lho!) di sana-sini. Sungguh, pemakaman ini enggak ada seram-seramnya. Seeeeecantik dan seeeeebagus itu! Jatuh hati sekali dengan tempat ini. 😍❀

Columbarium atau Rumah Abu di Ereveld Menteng Pulo

Eittsss … perjalanan saya berkeliling di Ereveld Menteng Pulo ini belum berakhir. Setelah melihat-lihat pemakaman di rumput yang begitu hijau, saya juga diajak untuk mengunjungi dua bangunan yang enggak kalah kerennya. Columbarium, namanya.

Entah kenapa tempat ini begitu mengingatkan saya pada Rumah Abu dalam Hi Bye, Mama!, serial drama Korea yang sukses bikin saya banjir air mata.

Begitu memasuki bangunan ini, saya disambut berbagai tanaman hijau, bunga bougenvil, serta kolam buatan dengan air mancur di tengahnya.

“Cantik banget, ya.” Ya ampun, semoga Bu Wulan enggak bosan mendengar celoteh kekaguman saya.

Columbarium sendiri merupakan bangunan tempat disimpannya 754 guci abu warga Belanda yang gugur dan dikremasi di sini. Pada guci tersebut tertulis nama, pangkat, tanggal lahir, juga tanggal wafat.

Sama seperti tanda makam, penataan guci abu ini juga rapi dan presisi. Para pengurus pun secara berkala membersihkan guci abu tersebut.

Saya rasa, dengan benar-benar merawat jiwa yang tersisa dari Perang Dunia II, dapat menjadi salah satu tanda kehormatan bagi mereka yang gugur membela bangsa.

Di samping Columbarium, terdapat Gereja Simultan (Simultaankerk) yang didominasi warna putih. Gereja ini enggak digunakan untuk ibadah seperti gereja lainnya, tetapi dikhususkan sebagai tempat untuk berdoa bagi semua agama, tempat untuk upacara/peringatan tertentu, atau bisa juga sebagai aula saat ada kunjungan kenegaraan.

Misalnya, setiap 4 Mei, warga Belanda yang berada di Indonesia berkumpul di sini untuk memperingati mereka yang tewas dalam Perang Dunia II dan sesudahnya.

Kalau di Indonesia, ini mirip dengan Hari Pahlawan pada 10 November. Ibu Ita Pohan, salah satu salah satu staf Oorlogsgravenstichting berkata bahwa masyarakat tidak memperingati 4 Mei sebagai Hari Pahlawan karena ada semua yang tewas ialah korban. Kemudian, pada 15 Agustus sebagai peringaran berakhirnya Perang Dunia II di Asia Tenggara.

Di depan Gereja Simultan, terdapat lonceng yang dibunyikan kala ada upacara/peringatan tertentu.

Gereja Simultan atau Simultaankerk di Ereveld Menteng Pulo

Bagaimana dengan di dalamnya? Apabila diperhatikan dalam jarak dekat, gereja ini seperti gereja Katolik sebab di altarnya, terdapat salib besar dengan tubuh Yesus terpaku di sana.

Di bagian kanan, terdapat salib kayu memorial berwarna coklat yang terbuat dari bantalan rel kereta Burma-Siam. Ini merupakan salib penghormatan bagi para tawanan perang asal Amerika, Inggris, Australia, dan Belanda, yang telah berkontribusi dalam pembangunan rel kereta tersebut.

salib kayu memorial yang terbuat dari bantalan rel kereta Birma-Siam di Ereveld Menteng Pulo

Selesai mengunjungi Ereveld Mentang Pulo, saya ingin sekai mengunjungi ereveld lainnya yang ada di Indonesia. Mungkin, yang paling dekat akan ke Ereveld Ancol.

Saya ingin membawa pulang cerita-cerita lain, untuk nantinya saya kisahkan di blog ini. Agar bukan cuma saya yang tahu, tapi teman-teman lain juga berminat untuk mengunjungi, mempelajari sejarahnya, juga memberikan penghormatan pada mereka yang gugur.

Ah, semoga cepat datang kesempatannya.


Lokasi, Alamat, dan Jam Buka

Alamat: Jl. Menteng Pulo RT.003/ RW.012, Menteng Dalam, Tebet, RT.4/RW.12, Menteng Dalam, Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12870

Jam buka: Setiap hari, 07.00 – 17.00 WIB

Telepon: (021) 8313253

Sintia Astarina

Sintia Astarina

is a flΓ’neur with passion in books, writing & traveling. She has fallen in love with writing since Elementary School by telling her personal stories in a secret diary, or submitting her poems to a tabloid you won’t be able to read again. More about sintia >

47 Comments

  1. Rudi Chandra

    Sisi lain dari perang, selain ada pemenang dan yang kalah, ada juga korban-korban perang, sisi yang jarang diangkat.

    Btw, pemakamannya cantik, keliatan rapi banget dan terawat.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Betul Kak, di sini rapi dan terawat banget. Makanya, aku terkagum-kagum banget waktu berkeliling di Ereveld Menteng Pulo ini. πŸ˜€

      Reply
  2. Lia The Dreamer

    Aku ikut hanyut dalam tulisan yang Sintia bagikan πŸ™‚
    Suatu hal baru bagiku untuk mengetahui lebih detil mengenai Ereveld karena selama ini hanya lewat-lewat saja.
    Ternyata banyak hal-hal pilu dibalik berdirinya Ereveld ini.
    Salut juga dengan perawatan yang dilakukan di sini, benar-benar totalitas sekali karena kalau dilihat-lihat memang tidak ada satupun tanda makam yang rusak serta lahannya bersih terawat.
    Semoga Ereveld-ereveld di 6 wilayah lainnya juga bisa terawat dengan baik sebagai tanda terima kasih atas jasa-jasa pahlawan dan para korban perang.
    Terima kasih udah membagikan tulisan ini, Sintia πŸ˜€

    Reply
    • Sintia Astarina

      Kakkk terima kasih yaa sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan panjang ini. Semoga apa yang kubagikan bisa bermanfaat. Dinanti kunjungannya, Kak, ke ereveld-ereveld di Indonesia. πŸ˜€

      Reply
  3. Nasirullah Sitam

    Aku ingat di Kalibanteng Semarang sering lewat kalau pas naik transsemarang. Sempat terpikirkan buat singgah dan mengulik sedikit ceritanya nanti. Menyenangkan bisa ada pemandu yang menemani, sehingga cerita sejarahnya tetap dapat.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Waahh itu udah masuk list destinasi yang ingin aku kunjungi, Kak. Coba mampir Kak, kapan-kapan apabila singgah di Semarang lagi. πŸ˜€

      Reply
  4. Nadia K. Putri

    Terharu bacanya, sekaligus merinding. Aku jadi inget ada salah satu fotografer yang motret ereveld ini dengan drone. Pemandangannya damai banget :”)

    Semoga lain kalo bisa ke sana ya mbak. Menarik banget ceritanya.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Waahh kalau foto pakai drone pasti cakep banget, sih. Dulu sempet liat pemakaman ini dari lantai 35 kantor dan bagus banget. Pas dilihat dari dekat, sama bagusnya ya ampuuun πŸ˜€

      Reply
  5. Rahman

    Tempat yang penuh dengan kenangan dan pebelajaran serta pengingat tentang sejarah dari berdirinya bangsa ini. Thanks for sharing the story mbak πŸ™‚

    Reply
    • Sintia Astarina

      Terima kasih kembali, Mas Rahman. Semoga bermanfaat, ya. πŸ˜€

      Reply
  6. Maria tanjung

    Halo kak salam kenal ya. Jujur saya baru tahu ada tempat bersejarah ini setelah baca blog kakak. Memang seharusnya kita mengetahui tempat-tempat bersejarah seperti ini agar bisa bercerita ke anak cucu kelak.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Betul sekali, Mbak. Ini juga bikin aku kepengin datengin ereveld lainnya di Indonesia, deh.

      Reply
  7. Uci

    Jadi banyak hal yang aku dpt mengenai Ereveld Menteng Pulo, lengkap banget.

    Reply
  8. Melissa Olivia

    Aku baru tahu ternyata Ereveld ada banyak. Tahunya cuma yang di ancol aja hahaha. Itupun liatnya dari jauh. Dulu waktu SMA ada kelas tetangga yang foto yearbooknya di Ereveld Ancol.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Wawww seru banget foto buku tahunan di pemakaman Belanda! Penasaran gimana fotonya. Hehe. Yes betuull, aku jadi penasaran sama Ereveld Ancol, nih. πŸ˜€

      Reply
  9. Ghina

    Terimakasih mba Sintia sudah mengulas ereveld dengan sangat detail. Semoga suatu saat bisa ada kesempatan buat berkunjung ke makam2 bersejarah seperti ini. Makan dan tempat2nya dirawat dgn baik yaa. Malam par pahlawan kota d tmpt lain kira2 serapih mereka ga ya, hihi 😁

    Reply
    • Sintia Astarina

      Bakalan seneng deh kalau pemakaman lainnya juga dirawat dan ditata cantik seperti ini. Jauh dari kesan seram, malah jadi penasaran sama kisah dan sejarah di baliknya. Ya nggak, sih, Kak? πŸ˜€

      Reply
  10. Lidia

    Umur udah kepala tiga lewat dan tinggal di Jakarta bahkan saya belum pernah berkunjung ke Ereveld Menteng Pulo ini k, ternyata bisa dimasuki oleh umum ya? Saya selama ini hanya lewat sana daerah sana.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Betul ini terbuka untuk umum. Langsung datang saya atau bisa buat janji dulu dengan supervisor di sana. πŸ˜€

      Reply
  11. Gita Siwi

    Familiar dengan namanya tetapi tahu sejarahnya ya dari tulisan ini. Nice info kak makasih

    Reply
    • Sintia Astarina

      Sama-sama, Kak. Belajar Sejarah jadi asyik, ya? πŸ™‚

      Reply
  12. Imawan

    Waaah keren banget Kak pengalamannya berkunjung ke Ereveld Menteng Pulo ini, saya serasa ikut berkunjung baca ceritanya. Hehehe

    Semoga saya pun ntar bisa ke sini juga, pengen kapan-kapan lihat langsung tempat ini.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Hehe, selamat berkunjung ya, Kak Imawan! Semoga bisa bawa pulang banyak cerita seruuu πŸ˜€

      Reply
  13. Kata Shyntako

    Aku suka banget pas bagian si Mister bilang kalo gak suka disebut Belanda, toh korban perang itu semua sama manusia, mau orang Indo maupun Belanda. Andai banyak orang kaya gini di dunia, pasti dunia jadi damai ya

    Reply
    • Sintia Astarina

      Iya. Sangat mendambakan keberagaman tanpa mandang ini-itu. Makanya, pas Sir Robbert bilang itu, mataku jadi terbuka dan aku bisa memandang dari perspektif lain yang rupanya, aku setujui juga. Menarik, ya. πŸ™‚

      Reply
  14. Suciarti Wahyuningtyas

    Ini tuh aku pengen banget kesini karena pernah mau ikutan Walking Tour gitu karena kalau sendiri gak berani. Hehehehee… Pernah lihat di instagram temanku juga saat dia kesini. Btw ini kalau gak bikin janji dulu gppkan ya mbak?

    Reply
  15. Massaputro Delly TP.

    Saya sangat suka dengan sejarah, dari sejarah saya mengenal jati diri bangsa. Saya mencoba memahami banyak hal dari sejarah, tidak hanya dari satu sisi. Sejarah itu bagaikan data dan informasi, dapat diambil sebagai bahan kebijakan atau keputusan buat masa depan.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Waaaa untuk yang suka dengan sejarah, datang ke tempat seperti ini pasti menyenangkan dan memorable banget, Mas. Siapa tahu pulang dari Ereveld Menteng Pulo bisa bawa banyak cerita bagus. πŸ˜€

      Reply
  16. Yopi Saputra

    Hi kak salam kenal ya.
    Jujur keren banget ulasannya detail banget, aku belum pernah ke sana. Pengen deh berkunjung atau mau lihat-lihat secara nyata.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Hai, Kak Yopi! Salam kenal dan terima kasih, ya. Yuk Kak, mampir berkunjung sambil belajar sejarah. Seru lhooo! πŸ˜€

      Reply
  17. Keke Naima

    Saya baru tau kalau warga sipil Belanda pun ada yang harus kerja paksa. Perang memang kejam ya, Mbak. Oiya ada penjelasan gak kenapa dari 22 makan kehormatan, sekarang jadi 7 everald?

    Reply
    • Sintia Astarina

      Hi, Mbak Keke. Setahuku, setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1960-an, Pemerintah Belanda meminta untuk memusatkan Makam Kehormatan Belanda di Pulau Jawa saja. Jadi, dari 22 makam dipusatkan jadi 7 makam (7 makam ini dari dulu sudah ada) sehingga di 7 makam ini, ada makam yang dipidahkan dari tempat-tempat lain dan kalau enggak salah, tanda makamnya disebut Makam Massal.

      Reply
  18. yayat

    meski makamnya cantik tapi kalo saya pasti ada rasa merinding kalo berkunjung ke tempat begini… langsung inget dosa dosa dan takut wafat tiba tiba hikssss

    Reply
    • Sintia Astarina

      Langsung inget harus berbuat baik like there’s no tomorrow yaa :”)

      Reply
  19. XCMG

    Aku suka berdiam diri dan merenung di tempat pemakaman seperti itu, merasa tenang dan nyaman.. Thanks! Foto nya indah!

    Reply
  20. Daeng Ipul

    Wah! Ternyata ada tempat sekeren ini di Jakarta.
    Bukan cuma penampakannya yang indah, tapi muatan sejarah yang ada di tempat ini juga pastinya sangat mengesankan. Kebetulan saya suka sekali sama hal-hal yang berbau sejarah, apalagi Perang Dunia II

    Insya Allah suatu saat kalau saya ke Jakarta, saya akan jalan-jalan ke sini deh. Apalagi lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat saya biasa jalan di Jakarta.

    Terima kasih infonya

    Reply
    • Sintia Astarina

      Wahhh so happy to know that! Selamat explore, yaa πŸ˜€ Semoga bisa jadi cerita yang bisa dibagikan juga di blog. Hehe

      Reply
  21. Yoexplore

    Tulisan yang sangat menarik, dimana sebuah Pemakaman menjadi pembelajaran tersendiri untuk generasi muda sekarang. Ternyata simbol pemakaman agama islam dan budha sering tertukar ya pada saat sekarang atau disamakan. Terima kasih artikel kerennya. Kalau kakak berminat untuk menulis diberbagai website jangan lupa untuk mengunjungi web kami ya

    Reply
    • Sintia Astarina

      Terima kasih sudah membaca tulisan ini, ya. Dan terima kasih juga untuk infonya πŸ™‚

      Reply
  22. Anton

    After all, they were all human beings, like us. Mereka juga layak diberikan penghormatan yang layak di saat sudah tiada. Bagaimanapun, mereka adalah bagian sejarah dari negeri ini juga, meski dari sisi yang berlawanan.

    Salut juga membaca perawatan yang dilakukan pada ereveld ini. Kalau dipandang dari sisi lain, pemakaman ini juga merupakan saksi bisu sejarah di masa lampau dan sudah seharusnya juga dirawat agar berbagai cerita yang terkandung bersama jasad-jasad di dalam makam itu tidak menghilang begitu saja.

    Nice story sis *angkat topi*

    Reply
    • Sintia Astarina

      Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan ini. πŸ™‚

      Reply
  23. Dinilint

    Cerita tentang Ereveld ini menarik sekali. Pemakaman yang dirawat layaknya taman ini punya banyak cerita ya. Terima kasih sudah menulis dan berbagi tentang cerita Ereveld Menteng Pulo.
    Aku mendapat kesan, perang memang tidak menyenangkan, cukup untuk dikenang dan dijadikan pembelajaran.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Kak, terima kasih sudah mampir ke tulisan ini, ya. :))

      Reply
  24. Rivai Hidayat

    Hai kak Sintia, salam kenal πŸ™‚
    Cerita sangat bagus kak,
    Aku asli semarang dan kebetulan aku juga pernah ke ereveld kalibanteng dan sudah aku tulis di blog aku juga.

    Benar sekali, setiap ereveld punya ceritanya masing-masing. Begitu juga denga ereveld kalibanteng. Di ereveld kalibanteng banyak dimakamkan jenazah perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang. Makanya ereveld Kalibanteng dikenal dengan ereveld perempuan dan anak-anak. Meskipun juga ada jenazah laki-laki.

    Sebagai penghormatan, di ereveld kalibanteng juga dibangun monumen perempuan, monumen anak-anak, monumen perempuan tidak dikenal, dan monumen kehormatan. Monumen ini dibangun sebagai peghormatan korban perang yang tidak bisa dimakamkan di ereveld.

    Sedangkan ereveld candi lebih didominasi oleh korban perang dari pihak militer. jadi hampir semuanya adalah laki-laki. Aku belum sempat ke sana sih. Hanya beberapa kali melewati tempat ini.

    Sebelum pandemi, setiap tahun ada keluarga, atau korban perang yang selamat itu sendiri yang berziarah di ereveld-ereveld yang ada di indonesia. Biasanya mereka juga mengajak anak dan cucunya. Itu sebagai cara untuk mengenang dan penghormatan kepada leluhurnya. beberapa korban yang selamat masih mengalami trauma dengan perang yang terjadi di masa lalu. Kalau sekarang sudah sangat tua.

    Seperti kata pak robert, beliau selalu mengajak generasi muda untuk berkunjung ke ereveld. Tidak melupakan sejarah, dan bisa belajar dari sejarah agar tidak terjadi lagi di masa-masa mendatang. Hanya ada penderitaan dalam sebuah peperangan.

    kalau kak sintia berkunjung ke semarang, jangan lupa untuk berkunjung ke ereveld kalibanteng dan ereveld candi yaa πŸ™‚

    Reply
    • Sintia Astarina

      Massss thanks so much for sharing the story! Noted, kalau lagi di Semarang aku bakalan mampir. Janji!

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.