7 Strategi Jitu Menambah Penghasilan dari Buku

342
7 Strategi Jitu Menambah Penghasilan dari Buku - perpustakaan goethe institut

7 Strategi Jitu Menambah Penghasilan dari Buku – Kayaknya… pas akhir pekan saya emang enggak boleh main ke mal, deh. Adaaaa aja yang pengin dibeli. Beli makanan ini, beli camilan itu, beli Boba Milk Tea, belum lagi mampir ke toko buku.

Awalnya sih cuma pengin lihat-lihat koleksi buku yang baru terbit, eh keluar dari sana malah bawa sekantung belanjaan berisi 3 buah buku. Tanpa sadar, keluar dari toko buku tiba-tiba saya nyeletuk, “Shoot, I’m broke!“.


Ya iyalah, belum lama ini beli buku, eh beli buku lagi. Kalau buku-buku di rumah bisa ngomong, mereka pasti ngambek sama saya gara-gara saya lebih memilih untuk membeli buku baru, ketimbang membaca buku-buku yang udah dibeli lebih dulu. Hehehe. 😀

Baca juga: 5 Cara Menabung untuk Membeli Buku

Tapi beneran deh, belakangan saya emang lagi boros banget. Dalam sehari aja, saya bisa mengeluarkan uang ratusan ribu demi membeli ini dan itu.

Namun untungnya, saya menerapkan prinsip bahwa pengeluaran enggak boleh lebih banyak dari pendapatan.

Makanya, selain memperoleh pendapatan bulanan dari pekerjaan full time saat ini, ada cara-cara lain yang saya lakukan untuk menambah penghasilan dari buku. Seenggaknya, setelah mengeluarkan banyak uang, saya harus bisa memperoleh pemasukan kembali.


Lantas, gimana caranya? Berikut ini bocorannya! 😀

7 Strategi Jitu Menambah Penghasilan dari Buku

1Jual buku-buku lama

Bahasa kerennya… book unhaul. Saya sendiri beberapa kali menjual buku-buku di rumah yang memenuhi kriteria berikut:

  • buku yang emang enggak dibaca,
  • buku yang kurang menarik minat saya,
  • buku yang cuma asal beli aja tapi enggak ada waktu buat bacanya, dan
  • buku yang memang sengaja ingin saya jual.

Sebenarnya menjual buku-buku lama ini bukan cuma dijadikan saluran untuk mendapatkan penghasilan lebih aja. Namun, lebih kepada saya yang ingin memberikan ruang lebih untuk buku-buku baru bacaan yang memang benar-benar ingin saya miliki.

Oh ya, saya sengaja membuat akun Instagram khusus yang isinya adalah book unhaul. Namanya @bookishproject_. Kalau ada buku yang ingin kamu miliki, just shoot me on DM, ya! 😀


2Disewakan

Saya ingat, dulu di depan sekolah saya ada ruko yang meminjamkan buku-buku komik. Sepulang sekolah, saya rajin banget ke sana dan melihat beragam koleksinya. Enggak jarang juga saya meminjam buku-bukunya.

Kalau enggak salah, ada biaya deposit sebesar Rp5.000 dan ada biaya peminjaman buku yang saya lupa berapa nominalnya.

Namun, semenjak ada razia di sekolah, yang mana ternyata enggak memperbolehkan siswa-siswinya membawa komik (ya… meski minjam dari ruko depan sekolah, tetep aja deg-degan nggak sih, kalau ketahuan guru 😂), jadinya jarang pinjam komik di sana, deh.

Kalau dipikir-pikir, menyewakan buku-buku di rumah bisa menambah penghasilan, nih. Lagipula, buku-buku di rumah pasti nganggur, kan. Sayang banget kalau dibiarkan berdebu dan enggak dijadikan ladang uang tambahan.

Oh ya, sebelum menyewakan buku-buku yang dimiliki, penting diingat untuk membuat daftar buku yang dimiliki agar kamu lebih mudah menelusuri siapa peminjam bukumu, kapan dipinjam, juga kapan tanggal seharusnya dikembalikan.

Jangan lupa, kamu juga bisa membuat peraturan penyewaan buku, misalnya memberikan deposit, lama peminjaman buku, adanya denda untuk keterlambatan pengembalian buku, hingga penggantian buku serupa apabila bukunya rusak, robek, hilang, atau enggak kembali.


3Menulis ulasan buku di blog pribadi

View this post on Instagram

5 HAL MENARIK DI BUKU KAMU TERLALU BANYAK BERCANDA @ktbb.ktbb. . Ada yang udah baca karya terbaru @marchellafp? Nggak butuh waktu lama buatku untuk menamatkan buku ini dan langsung membuat ulasannya. Berikut ini 5 hal menarik yang aku temukan di KTBB: . 🌻 KTBB merupakan gelap dari terangnya @nkcthi. Kalau kamu lihat sampulnya, dua buku ini sangat berkorelasi dan sarat makna. (Clue: jendela) . 🌻 KTBB ini lebih banyak memuat tulisan panjang. Kalau boleh jujur, aku merasa tulisan-tulisan pendeknya malah lebih mengena dan bikin pengin auto-curhat. Coba deh baca bukunya sambil dengerin playlist KTBB. Feel-nya itu, lhooo. :") . 🌻 Penulisan KTBB memakan waktu 10 tahun. Iya, lama sekali. Ini adalah bukti kalau mau menghasilkan karya bagus dan berkualitas memang enggak perlu diburu-buru. Ini karya dari hati. . 🌻 Kita sama seperti Awan, tokoh utama dalam buku ini. Pernah merasa kecewa, sedih, takut, patah. Awan mengajarkan kita untuk enggak lari saat dihadapkan pada masalah. Awan mengajak kita untuk lebih berani. . 🌻 Editor KTBB dan NKCTHI ternyata seniorku di kampus! 🙈🙈Ini beneran bikin surprise! Apalagi setelah tahu Marchella FP "melepaskan diri" dari POP Publisher untuk buku ini, lalu menyasar toko buku kecil. . BACA REVIEW LENGKAP KTBB DENGAN KLIK LINK DI BIO atau kunjungi www.sintiaastarina.com. 🤗❤ . #SintiaReads

A post shared by sɪɴᴛɪᴀ ᴀsᴛᴀʀɪɴᴀ | Indonesia 🇲🇨 (@sintiawithbooks) on

Menulis sudah jadi kegemaran saya sejak kecil. Namun siapa sangka, ternyata berkat menulis, saya bisa punya penghasilan tambahan sendiri, di luar pekerjaan utama saya. Padahal, awalnya cuma iseng nulis dan pengin sharing informasi aja.

Bahkan, sejak munculnya banyak web hosting murah, saya jadi ketagihan ngeblog dan ya… kalau kamu membaca blog ini, ada beberapa ulasan buku di dalamnya.

Baca juga: 4 Blogger Buku Favorit yang Sering Kasih Rekomendasi Buku Bagus

Akan tetapi, bagaimana supaya tulisan saya bisa sampai ke pembaca dengan tepat? Yup, tentu saja dengan menerapkan strategi pemasaran yang tepat, misalnya mempromosikan ulasan buku tersebut di Insta Story dan menambahkan link yang mengarah ke blog.

Kalau kamu ingin membuat ulasan buku di blog dan ternyata hasilnya bagus, akan sangat mungkin berbagai brand mengajak kamu untuk bekerja sama.

Itu artinya, kamu bisa menambah penghasilan dari buku secara terus-menerus! Asyik, kan? 😀


4Membuat ulasan buku untuk media

View this post on Instagram

She says "Your happiness is always urgent" on page 105 and I have no other words to say. Let's hug. . . . Membuka lembar demi lembar "The Book of Forbidden Feelings" rasanya seperti tengah meramu percakapan dengan seorang pembaca pikiran ulung. Menyebalkan. Belum juga diberi tahu, ia sudah lebih dulu berhasil mengetahui apa yang ingin saya ucapkan, apa yang saya rasakan. Dia tahu rahasia-rahasia saya, entah bagaimana. Soal pilihan hidup, teman, cuaca, kebosanan, kamar berantakkan, percakapan, kerinduan, kecanduan, hingga si pemikat hati. She's very rude and impolite, I know. Feeling insecure? A lil bit maybe. But I guess that she's a great secret keeper, def a good friend who listens. Yes, isn't it feel so right to have someone who knows you better? Well, of course I'm gonna choose "The Book of Forbidden Feelings" as my sister. If she was real, then it would be my turn to reveal her secret and immortalize it in a book. Time to exhange stories in a nearest bookstore cafe. Bills on me, worry not! Anyway, sorry, "The Book of Invisible Questions", maybe you can be my brother. Loves, Sintia Astarina, 25, Tangerang . . . #TheImaginaryBeliefs #TheBookofSiblings @lalabohang @TheImaginaryBeliefs @bukugpu

A post shared by sɪɴᴛɪᴀ ᴀsᴛᴀʀɪɴᴀ | Indonesia 🇲🇨 (@sintiawithbooks) on

Selain di blog, kamu juga bisa mengirimkan ulasan buku ke media cetak atau media online. Namun, kamu perlu melakukan riset terlebih dulu, media mana saja sih yang menerima kiriman resensi buku.

Kemudian, cari tahu juga buku-buku apa saja yang bisa dimuat ulasannya di media tersebut. Yang enggak kalah penting, cari tahu juga berapa sih, honor yang bakal kamu dapat jika ulasanmu dimuat.

Oh ya, kalau ulasan buku kamu berhasil masuk media, hal tersebut bisa jadi portfolio yang bagus, lho! Semakin sering kamu mengirim ulasan buku, semakin besar juga kesempatan dimuat, dan tentunya semakin banyak pula portfoliomu. 😀


5Membuat konten kreatif di Instagram

Menambah penghasilan dari buku ternyata juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan media sosial, khususnya Instagram.

Sebagai contoh, saya membuat akun Bookstagram yang memang khusus berisi soal buku. Mulai dari fotonya, caption-nya, topik pembahasannya, dan sebagainya.

Awalnya sih cuman sekadar memamerkan foto-foto buku aja. Namun lama-kelamaan, saya jadi gemar menulis ulasan buku yang juga di-posting di akun Bookstagram.

Enggak lupa, saya juga mulai membuat konten-konten kreatif lainnya di Insta Story, Biasanya dalam bentuk foto, teks, video, pertanyaan, polling, animasi, dan sebagainya.

Nah, seiring berjalannya waktu, saya jadi kenal dengan beragam penerbit, penulis, hingga editor baik hati yang enggak jarang menawarkan kerja sama berbayar.

Enggak disangka, awalnya cuma foto-foto iseng, eh sekarang buku bisa jadi sumber pemasukan tambahan. Seneng deh, saya jadi bisa ngerasain, “Oh, ini namanya hobi yang dibayar”. 😀


6Membuka jastip

View this post on Instagram

NGGAK NYESEL SAMA SEKALI MAIN KE GRAMEDIA BOOK SALE SOALNYA BUKU-BUKU YANG DIJUAL MURAH BANGET 😭❤ . Jadiii Minggu kemarin aku ke Taman Tekno BSD, tempat berlangsungnya Gramedia Big Sale. Pas masuk, udah langsung disambut tumpukan buku dan banner harga Rp10.000! Yesss… hampir semua buku di sana bisa dibawa pulang cuma dengan Rp10.000 aja! Tapiii untungnya aku nggak kalap. Hehehe. Aku pilih lagi buku mana aja yang memang ingin aku baca, jadi gak bakalan numpuk di rak buku, deh. . Nah, ada beberapa hal yang aku suka dari Gramedia Big Sale ini: 1. Petugasnya ramah dan membantu banget! 2. Tempatnya adem, jadi nyaman banget kalau mau lihat-lihat buku. 3. Bukunya beragam, mulai dari fiksi sampai buku anak-anak. Aku nemu banyak banget buku Teenlit sama Metropop! 😍😍 4. Harganya fix: 10rb, 20rb, 30rb, sama 50rb! 5. Kasirnya cepet, jadi nggak perlu ngantre, deh! . Kalau kamu mau ke Gramedia Book Sale, catat tanggalnya (atau simpen posting-an ini aja): . 📅: 8-31 Agustus 2019 🚩: Kawasan Industri Pergudangan Taman Tekno BSD, Tangerang ⏰: 09.00 – 17.00 WIB . Selamat berburu buku murah dan jangan lupa ajak temen-temen lain, yaa! Siap-siap kalap! 😂😂😂

A post shared by sɪɴᴛɪᴀ ᴀsᴛᴀʀɪɴᴀ | Indonesia 🇲🇨 (@sintiawithbooks) on

Belakangan, jastip alias jasa titip makin ngetren di kalangan pencinta buku. Kayaknya gara-gara hadirnya Big Bad Wolf di Indonesia, deh. Ya, nggak sih?

Saya jadi ingat, tahun ini saya datang ke Big Bad Wolf di Tangerang dan banyak banget orang-orang yang membuka jastip.

Makanya, enggak heran kalau buku-buku bagus cepet banget habisnya lantaran sudah diborong duluan di hari pertama pembukaan bazaar, bahkan pas Preview Sale.

Baca juga: Pengalaman Belanja Buku di Gramedia World BSD, Tangerang

Jastip sendiri sebenarnya menuai pro dan kontra. Untuk sisi pro, jastip ini sangat membantu orang-orang yang berhalangan hadir ke bazar buku tertentu.

Ya, meski pembeli harus membayar sedikit lebih mahal, yang penting mereka enggak perlu datang jauh-jauh atau menghabiskan waktu buat ngubek-ngubek buku yang jumlahnya seabrek.

Di sisi berlawanan, jastip juga bikin sebel orang-orang. Salah satunya adalah karena buku-buku bagus biasanya udah diborong duluan, minimal di-keep dulu tanpa tahu mereka jadi beli atau enggak.

Ya… enggak ada yang salah, enggak ada yang bener, sih. Toh, jastip sendiri terbukti bisa menambah penghasilan. Kalau memang niat mau membuka jastip buat tambah-tambah uang jajan, kenapa enggak?


7Membuka kursus atau workshop

View this post on Instagram

CAPEK TAPI LUAR BIASA SENANG! 👏🏻👏🏻 . Puji Tuhan akhirnya Indie Bookshop Tour Vol. 1 berhasil diselenggarakan. Nggak kerasa, ngunjungin 4 toko buku independen dalam waktu 5 jam ternyata capek juga, tapi senengnya bukan main! Mulanya cuma berawal dari ide spontan gara-gara ngelihat list toko buku independen di Story Ucha (@enthalpybooks), yang mana bikin aku bertanya-tanya, "Dari sekian banyak toko buku independen di Indonesia, kok yang baru aku datangi bisa dihitung jari, ya?" Lalu aku ngajakkin Ucha buat garap tur ini bareng-bareng dan untungnya ia juga bersemangat! . Pas dibuka pendaftaran, ternyata sudah melebihi kuota. Sempet deg-degan, duh bakalan berjalan dengan lancar nggak, ya? Peserta bakalan datang semua nggak, ya? Aku tambah cemas karena aku sendiri sebenernya belum pernah bikin Indie Bookshop Tour semacam ini. Jadi, persiapanku dan Ucha ya sebisa dan semaksimal kami saja. . Tapi pas hari H, rasa takut itu hilang sendirinya. Jumlah peserta yang datang sesuai dengan kuota yang ditargetkan, semua antusias ikutan kuis buatan Ucha, para bookshop owners juga menyambut kami dengan begitu ramah. Pulang dari tur ini, kami dapat teman dan kenalan baru, pengalaman berharga, ilmu baru, rekomendasi buku, juga bingkisan manis dari para bookshop owners. Rasanya kami auto-akrab satu sama lain. ❤❤ . Terima kasih untuk Dinda dari @aksarakemang, Mas Indra dari @transitsanta, Maesy dan Teddy dari @post_santa, juga Mbak Caron dan Mas Ari dari @guearigaleri. Kapan-kapan kami main lagi, ya. . Anyway, silakan klik link di Bio yaa, aku udah nulis pengalaman lengkap di blog www.sintiaastarina.com. ❤❤

A post shared by sɪɴᴛɪᴀ ᴀsᴛᴀʀɪɴᴀ | Indonesia 🇲🇨 (@sintiawithbooks) on

Suka membuat ulasan buku? Atau… jago bikin konten kreatif di Bookstagram? Jangan disimpen sendiri aja. Kenapa enggak membuka kursus atau workshop mengenai bidang-bidang yang dikuasai?

Di sinilah ajangnya kamu bisa share ilmu dan pengalaman, juga menambah penghasilan dari buku.

Baca juga: Berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Tertinggi di Dunia

Saya sendiri udah lama pengin buka kelas atau workshop soal kepenulisan atau Bookstagram, tapi belum ngerasa pede lantaran masih banyak banget ilmu yang belum didapat. Doakan ya, suatu hari nanti bisa membuka kelas kursus atau workshop sendiri. 🙂

Nah, itulah dia 7 strategi jitu menambah penghasilan dari buku. Kamu paling tertarik yang mana?

Intinya, milikilah mindset bahwa membeli buku itu enggak selamanya boros. Ketika kamu merasa sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli ini dan itu, itu artinya kamu juga harus memperoleh lebih banyak uang untuk disimpan.

Yuk, lebih jeli menangkap peluang di sekitar kita dan semoga cara-cara di atas bermanfaat, ya! 😀


Bacaan selanjutnya yang enggak kalah asyik! Yakin nggak mau baca? 🤔

5 Cara Menemukan Inspirasi untuk Bookstagram

1. 7 Rekomendasi Toko Buku Favorit Buat Beli Buku Online
2. Apa Itu Bookstagram dan Bagaimana Cara Membuatnya?
3. Apa Itu Books Aficionado?
4. Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks
5. 7 Tips Meningkatkan Follower Bookstagram untuk Pemula
6. 30 Bookstagram Terms You Should Know
7. 20 Inspirasi Rainbow Bookshelf di Bookstagram yang Bikin Betah Baca Buku Seharian
8. Pengalaman Borong Buku dan Panduan Lengkap ke Big Bad Wolf Jakarta
9. 5 Buku Favorit yang Bikin Saya Jatuh Cinta dengan Dunia Anak-anak
10. Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi
11. 5 Teknik Meningkatkan Engagement Bookstagram Lewat Pemberian Komentar
12. 30+ Most Popular Bookstagram Hashtags to Increase Your Followers
13. 15 Rupi Kaur Powerful Quotes Every Girl Needs to Read
14. 15 Akun Bookstagram Indonesia Terfavorit, Sudah Follow Belum?
15. 3 Penulis Teenlit yang Novelnya Bikin Kangen Masa SMA
16. 7 Benda yang Bisa Kamu Jadikan Pembatas Buku
17. Pengalaman Mengirim Buku Gratis Lewat Kantor Pos Setiap Tanggal 17
18. 11 Most Creative Bookstagrammer to Follow in 2018
19. Asyiknya Belanja Buku di Periplus, Toko Buku Impor Langganan
20. [BOOK REVIEW] Gadis Daun Jeruk Karya Rinda Maria Gempita
21. 17 Rekomendasi Buku di POST Bookshop Pasar Santa
22. [BOOKSTAGRAM TIPS] Memotret Buku dengan Kamera HP atau Kamera DSLR?
23. [EKSKLUSIF] Bab Pertama Novel The Perfect Catch Karya Chocola
24. [BOOK REVIEW] Na Willa: Serial Catatan Kemarin Karya Reda Gaudiamo
25. 7 Properti untuk Bookstagram Biar Foto Makin Keren
26. 7 Cara Memfoto Buku untuk Bookstagram
27. Pengalaman Membeli Buku di POST Bookshop Pasar Santa
28. Pengalaman Beli Buku di Grobmart untuk Pertama Kalinya
29. [BOOK REVIEW] Aku, Meps, dan Beps Karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo
30. Bagaimana Cara Menulis Caption untuk Bookstagram?
31. [BOOK REVIEW] The Stories of Choo Choo: You’re Not as Alone as You Think Karya Citra Marina
32. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Karya Marchella FP
33. 10 Kutipan Terbaik dari Buku NKCTHI Karya Marchella FP
34. [BOOK REVIEW] Things & Thoughts I Drew When I was Bored Karya Naela Ali
35. [BOOK REVIEW] Milk and Honey Karya Rupi Kaur Versi Bahasa Indonesia
36. [BOOK REVIEW] Off the Record Karya Ria SW
37. 17 Ide Foto Bookstagram Bertema Natal yang Bisa Kamu Tiru
38. Cara Mudah Menemukan Buku yang Sedang Diskon di Toko Online
39. Berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Tertinggi di Dunia
40. Akhir Pekan Produktif di Haru Bookstore Gading Serpong
41. Mudahnya Beli Buku Online di Belbuk.com
42. Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu
43. Ngobrolin Novel Taman Pasir di Twitter Bareng Penerbit Grasindo
44. Bedah Buku dan Peluncuran Novel Nyanyian Hujan
45. @sintiawithbooks’ Best Nine on Instagram in 2018
46. [BOOK REVIEW] Seri Kemiri Yori Karya Book For Mountain
47. Serunya Kumpul dan Makan Siang Bareng Nagra dan Aru
48. 8 Booktuber Indonesia Favorit yang Wajib Kamu Tonton Videonya
49. 4 Blogger Buku Favorit yang Sering Kasih Rekomendasi Buku Bagus
50. 7 Rekomendasi Buku yang Asyik Dibaca Saat Traveling
51. Kenapa Sih Suka Banget Bawa Buku Saat Traveling?
52. 5 Tips Memilih Buku untuk Dibawa Saat Traveling
53. Apa Itu Book-Shaming dan Kenapa Harus Dihentikan?
54. Donasi Buku Lewat Lemari Bukubuku, Bisa Dapat Gambar Gratis!
55. [BOOK REVIEW] The Book of Imaginary Beliefs Karya Lala Bohang
56. Pengorbanan Bookstagrammer Demi Dapat Foto Bagus, Pernah Ngerasain?
57. [Book Review] Deep Wounds Karya Dika Agustin
58. 5 Buku Ilustrasi Favorit untuk Kamu yang Butuh Bacaan Ringan
59. Baca 5 Buku tentang Perempuan Ini Saat Hari Perempuan Internasional
60. Panduan Membuat Kartu Anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
61. Things to Know About Big Bad Wolf Books Sale 2019 and My Book Haul!
62. 10 Male Bookstagrammers Who Will Inspire You to Read More
63. [BOOK REVIEW] Dear Tomorrow: Notes to My Future Self Karya Maudy Ayunda
64. [BOOK REVIEW] The Naked Traveler 8: The Farewell Karya Trinity
65. [BOOK REVIEW] Bicara Tubuh Karya Ucita Pohan dan Jozz Felix
66. Pengalaman Belanja Buku di Gramedia World BSD, Tangerang
67. Singgah Sejenak di Perpustakaan Erasmus Huis Jakarta Selatan
68. The Reading Room, Kemang: Sensasi Makan di Perpustakaan
69. Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku
70. Membawa Buku di Penjuru Dunia ke Transit Bookstore Pasar Santa
71. Indie Bookshop Tour: Tur Toko Buku Independen Perdana di Jakarta
72. 7 Inspirasi Tempat Baca Favorit Para Bookstagrammer
73. Toko Buku Foto Gueari Galeri: Jual Foto, Emosi, dan Cerita
74. [BOOK REVIEW] Kamu Terlalu Banyak Bercanda Karya Marchella FP
75. [BOOK REVIEW] The Loneliest Star in the Sky Karya Waliyadi
76. Ketagihan Baca E-book Gara-gara Gramedia Digital
77. [BOOK REVIEW] Jingga Jenaka Karya Annisa Rizkiana Rahmasari
78. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini Karya Mas Aik
79. [BOOK REVIEW] Avontur, Dear 19 Karya Thinkermoon
80. [BOOK REVIEW] Flowers over the Bench Karya Gyanindra Ali
81. Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi
82. 5 Cara Menabung untuk Membeli Buku
83. 5 Cara Menemukan Inspirasi untuk Bookstagram
84. [BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti
85. 5 Rekomendasi Film Favorit Berlatar Toko Buku, Sudah Nonton?
86. Berburu Buku Murah di Vintage Vibes, Alam Sutera
87. 6 Tips Biar Enggak Kalap Belanja Buku di Big Bad Wolf
88. [BOOK REVIEW] Mind Platter (Bejana Pikiran) Karya Najwa Zebian
89. Perpustakaan Goethe-Institut Jakarta: Tempat Asyik Belajar Budaya Jerman
90. Nyamannya Membaca Buku di Perpustakaan Freedom Institute


7 KOMENTAR

  1. Saya salah satu orang yang lebih suka membeli buku daripada membacanya.
    Dulu niat awal beli buku agar bisa memantik membaca dan mengulas di blog. Setelah aku lihat di blog satunya, tulisan ulasan buku terakhir hampir setengah tahun yang lalu. Sampe sekarang masih mandeg lagi.

    • Hehehe aku setuju banget sama kalimat pertama, Kak. ><" Boleh kak sharing-sharing lagi soal buku, soalnya ternyata banyak juga yang penasaran sama rekomendasi bacaan orang lain. 😀

    • hahaha saya juga salah satu orang yang suka membeli buku daripada membacanya. Tapi saya tauu itu tidak sehat, karena masih ngekos dan kamar kecil membuat saya sadar.

      Wah ga bener nih makin numpuk aja buku, tapi buku pertama yg dibaca ga kelar kelar.
      hahaha

      solusinya emang, yang ga dibaca musti dijual. Atau dibaca cepetan dengan motivasi supaya bisa cepet cepet di review 😀

  2. Semasa di Jogja, begitu dimanjakan banget sama beragam pameran buku yang bisa 5, 6, 7 kali dalam setahun. Belum lagi keberadaan toko-toko buku diskon seperti Toga Mas dan (langganan saya ini) Social Agency. Malah di tahun itu (kisaran 2005), sudah sempat berpikir bikin semacam toko buku online. Sayang sekali ide ini tidak saya eksekusi karena lebih fokus ke masalah yang dihadapi, terutama mahalnya biaya bikin web dengan sistem otomasi tertentu untuk mendukung toko ini berjalan secara otomatis selama 24 jam sehari 7 hari sepekan dan 30 hari sebulan.

    Anyway, nice post, Mbak. Beberapa di antaranya bener-bener bikin saya terhenyak dan membatin, “Ternyata gitu juga bisa jadi sumber duit ya?” 😀

    • Wahh… aku malah kepengin banget bisa punya toko buku sendiri, tapi toko buku offline. Aku terinspirasi dari berbagai toko buku kecil di Pasar Santa, seperti POST Bookshop dan Transit Bookstore. Keren banget kalau sampai Mas EKo bisa mewujudkan tokok buku tersebut. Kepengin bikin lagi nggak Mas dalam waktu dekat ini? 😀

  3. Klo aku bukannya nge unhaul, malah penikmat book unhaul. Hehehhe.. abis selama bukunya bagus, aku ga msalah mau baca buku lama juga, asal kondisi nya masih bagus (dan lebih ramah di kantong 😁). Sayang kmren pas kak sintia nge unhaul aku keburu kehabisan yg dipengenin. Huhu..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.