Sore Hari Bersama Buku-buku di Halaman Belakang Kineruku Bandung

116
Sore Hari Bersama Buku-buku di Halaman Belakang Kineruku Bandung
Suasana yang homey bikin Kineruku jadi banyak dikunjungi.

Sore Hari Bersama Buku-buku di Halaman Belakang Kineruku Bandung – Bandung selalu punya tempat nongkrong seru. Ya, apalagi, masyarakat Bandung memang gemar sekali duduk-duduk sambil minum kopi, ngemil, ngobrol-ngobrol bareng teman, sampai-sampai lupa waktu.

Namun nyatanya, tempat nongkrong di Bandung bukan cuma sekadar cafe aja. Orang-orang Bandung ternyata juga suka nongkrong di perpustakaan. Namanya Kineruku.


Baca juga: Liburan Satu Hari di Bandung, ke Mana Saja?

Pas main ke Bandung, akhirnya saya menyempatkan diri ke Kineruku. Soalnya, semenjak menyelenggarakan Indie Bookshop Tour beberapa waktu lalu, saya jadi keranjingan pergi ke toko buku indie atau perpustakaan di kota-kota lain di Indonesia.

Tentunya, Kineruku Bandung enggak boleh ketinggalan, dong! Apalagi, halaman belakang Kineruku selalu jadi primadona. Saya makin penasaran!

Sore Hari Bersama Buku-buku di Halaman Belakang Kineruku Bandung

kineruku bandung

Saya menumpang ojeg online yang mengantar saya hingga ke depan Kineruku Bandung. Karena baru pertama kali ke sana dan masih asing dengan tempatnya, saya sempat kelewatan!

“Eh, Mas, Mas, kelewatan!” ujar saya spontan sambil menepuk pundak kanan driver saya. Ternyata plang bertuliskan Kineruku berada di teras rumah, yang mana butuh mata jeli untuk melihatnya. Untung aja enggak kelewat jauh.


Duh, super enggak sabar menjelajahi Kineruku. Pertama kali mendengar nama toko buku indie ini, saya langsung penasaran… dari mana sih awal mula nama ini?

Rupanya, Kineruku ini awalnya merupakan sebuah perpustakaan bernama Rumah Buku, yang mana didirikan pada 29 Maret 2003.

Kineruku yang didirikan oleh beberapa orang ini merasa bahwa masyarakat masih mengalami kesulitan dalam mengakses berbagai sumber informasi. Makanya, salah satu pendiri pun membuka perpustakaan di rumah peninggalan kakeknya.

Nama Kineruku pun berasal dari dua suku kata, yakni kine dan ruku. Kine berasal dari kata sinematik, sedangkan ruku merupakan singkatan dari Rumah Buku. Nah, jadilah Kineruku.

Seiring perkembangan waktu, Kineruku bukan cuma dijadikan sebagai perpustakaan aja, melainkan toko buku indie, serta kafe baca.

Makanya, enggak heran kalau pengunjung bisa menemukan hal-hal lain yang sama serunya seperti buku, contohnya musik dan film.

\Berdasarkan tulisan yang dimuat TravelBlog, diketahui bahwa Kineruku memiliki sekitar 4000 judul buku, 1000 CD, juga 1000 judul film. Wihh… banyak banget!

Eh iya, sebelum masuk ke dalam Kineruku, saya melihat ada loker berbahan kayu di teras rumah. Saya bertanya pada seorang petugas di balik meja kasir. “Tasnya harus dititipin, ya?” kata saya.

“Iya, silakan dititipkan di loker dengan kunci yang masih menggantung,” jawabnya.

Saya pun langsung mengeluarkan dompet serta kamera SLR, lalu memasukkan tas ke dalam loker dan menguncinya.

ruangan sebelum menuju halaman belakang kineruku bandung

Oh ya, karena Kineruku ini menempati sebuah rumah, layout ruangan-ruangannya pun enggak berubah, hanya beralih fungsi saja.

Makanya, ketika tengah berada Kineruku Bandung yang suasana vintage-nya begitu terasa, pengunjung seolah diajak untuk menjelajahi ruangan demi ruangan di sana.

Contohnya, ruangan pertama yang kita anggap saja seperti ruang tamu, bisa dibilang sebagai toko buku indie. Di sini, ada rak-rak dengan berbagai buku yang bisa dibeli pengunjung.

Genrenya macam-macam. Mulai dari filsafat, seni, buku puisi, dan banyak lagi. Beberapa judul buku yang dijual di Kineruku nyatanya pernah saya lihat juga di POST Bookshop Pasar Santa.

Enggak heran, namanya juga sama-sama toko buku indie, tentu ada kemungkinan koleksi mereka bisa sama. 🙂

Oh ya, di dekat meja kasir yang terletak di dekat pintu masuk, terdapat pula berbagai merchandise menggemaskan yang hampir semuanya berhubungan dengan buku. Wah, rasanya pengin bawa pulang semua!

Ruangan di sebelah kiri toko buku indie adalah dapur, tempat para chef meracik menu pesanan para pengunjung.

Kemudian di sebelah kanan, ada ruangan lain yang bisa dianalogikan sebagai ruang makan. Ini merupakan perpustakaan, sekaligus kafe baca Kineruku.

Di ruangan ini, ada beberapa rak yang menempel pada dinding, yang mana berisi buku-buku yang bisa dibaca pengunjung selama di Kineruku Bandung.

Pada bagian tengah, ada meja panjang yang sudah ditempati pengunjung. Nah, di bagian perpustakaan ini, pengunjung diperbolehkan untuk makan, kok. Asyik, ya! 😀

Saya lihat sekilas, koleksi perpustakannya cukup beragam dan sepertinya, genre sastra enggak pernah absen dari perpustakaan mana pun, deh. Hehehe.

Baca juga: Berburu Buku Murah di Vintage Vibes, Alam Sutera

Ruangan lain yang saya masukki sepertinya merupakan kamar tidur, yang mana sudah disulap menjadi ruang yang lebih kecil untuk perpustakaan. Di ruangan ini, ada beberapa meja yang juga sudah ditempati pengunjung.

Selanjutnya, mari ke bagian samping rumah. Ternyata, Kineruku Bandung memanfaatkan ruangan ini dengan menempatkan beberapa meja. Sepengamatan saya, meja-meja di Kineruku sudah terisi penuh! Sama sekali enggak ada yang kosong. Hiks. 😥

halaman belakang kineruku bandung

Saya cuma bisa berharap masih ada tempat kosong di belakang Kineruku Bandung. Soalnya, halaman belakang Kineruku ini sering banget jadi spot favorit. Terang aja, halaman belakangnya dihiasi rumput hijau yang mana kelihatan asri banget.

Baca juga: Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi

Pas saya ke sana, yahh… beneran udah full nih, Kineruku! Sedih. Belom jodoh buat nongkrong sambil baca buku dan ngemil.

Saya memerhatikan orang-orang di halaman belakang Kineruku Bandung yang benar-benar tenggelam dalam kegiatan mereka. Mulai dari ngobrol-ngobrol, makan, menyelesaikan kerjaan dengan laptop mereka, atau yang paling banyak, jelas saja membaca buku.

View this post on Instagram

📚🎶🍹🌿☕️💕 #kineruku

A post shared by Kineruku (@kineruku) on

Menyaksikan hal tersebut rupanya bikin impian saya bertambah satu, punya halaman belakang yang luas yang bisa digunakan untuk membaca buku di sore hari. Mungkin, bisa sambil ditemani alunan musik jazz. Atau, hening saja mendengarkan suara alam rasanya sudah cukup.

Sepertinya, saya enggak akan ke luar rumah saking betahnya membaca buku di halaman belakang. Ya, persis banget seperti Kineruku sore hari itu. Super homey!

Ah, andai saja ada meja kosong di sana (ya, sebenernya bisa aja sih duduk-duduk di pinggir, pokoknya manfaatkan space apapun yang kosong! Hihihi 😆).

Saya pengin banget bisa duduk-duduk santai halaman belakang Kineruku untuk beberapa saat, sembari ditemani Es Teh Tarik, Roti Bakar, atau Pisang Goreng. Kira-kira, ada yang bisa nebak gak, saya lebih konsen baca buku atau ngemil, ya?

Baca juga: Menyeruput Kopi Hangat di Yellow Truck Coffee & Tea Bandung

Eh iya, ternyata halaman belakang Kineruku Bandung ini juga sering dijadikan tempat untuk menggelar suatu acara, lho. Mulai dari nobar, talkshow, hingga pertunjukkan musik. Keren!

Nah, karena enggak ada tempat kosong, akhirnya saya kembali ke ruangan tempat toko buku indie berada. Tadinya sih, saya kepengin membeli dua judul buku. Namun, mengingat masih banyaknya buku di rumah yang masih belum dibaca, terpaksa saya urungkan niat tersebut.

View this post on Instagram

Penulis cerita anak dari Jepang, Shinsuke Yoshitake, punya sederet pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada buku perpustakaan yang baru dikembalikan: "Jadi bagaimana? Apa kamu dibaca dengan antusias? Sempatkah kamu mendengar suara tawa atau malah merasakan air mata?" Sayangnya buku perpustakaan adalah makhluk yang bisa menjaga rahasia. Hampir selalu mereka pulang tanpa mengungkap rahasia apapun tentang pembacanya. – Baru-baru ini, Kineruku kedatangan beberapa buku catatan (notebook) karya @vitarlenology yang covernya memuat buku-buku yang ada di rak perpustakaan kami. Di satu sisi, dia bercerita tentang sebagian koleksi Kineruku. (Mana pilihanmu: rak fiksi atau biografi?) Di sisi lain, kita juga bisa menuliskan cerita kita. Buku catatan ini berukuran 21,5 x 11,5 cm dan terdiri dari 224 halaman dalam dua buku yang bisa diisi ulang. Jika kita rajin mengisinya, tidak mustahil jika suatu hari buku kita menjadi koleksi sebuah perpustakaan. – Buku catatan ini dijual seharga Rp150.000, • Tersedia beberapa pilihan warna • Bisa dibeli langsung di Kineruku maupun via SMS 0878-2428-1152 • email: kineruku@gmail.com • DM IG @kineruku – #Kineruku #BacaDengarTonton

A post shared by Kineruku (@kineruku) on

Alhasil, saya melihat-lihat merchandise lucu di Kineruku Bandung dan kepikiran untuk membawa pulang beberapa. Saya membeli stiker, pembatas buku, scented candle, juga sebuah notebook.

Nah, untuk notebook sendiri, sebenarnya saya maju-mundur terus pas mau beli. 😂 Lihat-lihat, ambil, buka-buka, bolak-balik, begitu terus selama beberapa saat. Saya mikir, harga notebook ini agak pricey, bakalan saya pakai enggak, ya?

Namun, melihat beberapa kenyataan seperti: stoknya cuma satu, saya jarang ke Bandung, plus udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama notebook di Kineruku ini, tanpa pikir panjang lagi saya langsung ambil dan memeluknya ke dekapan. Takut keduluan orang lain! 🙈

Saya masih belum tahu mau digunakan untuk apa notebook tersebut. Mungkin, mencatat ide-ide untuk menulis blog? Atau ide-ide lainnya ketika membuat suatu karya baru? Siapa yang tahu.

Baca juga: Se’i Sapi Lamalera Bandung: Jatuh Cinta Pada Aroma dan Gigitan Pertama

Selepas dari Kineruku, saya melanjutkan perjalanan ke One Eighty Coffee & Music untuk mengisi perut. Langit Bandung sudah semakin gelap.

Saya berjanji ke diri sendiri kalau main ke Bandung lagi, sudah pasti Kineruku akan jadi salah satu tujuan utama. Semoga ada (paling tidak) satu tempat kosong agar bisa duduk santai sambil baca buku dan ngemil.


Duh, jadi kangen Bandung. Ada yang mau main ke Kineruku juga, nggak?

Alamat: Jalan Hegarmanah No.52, Hegarmanah, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40141

Jam Buka:
– Senin, Rabu, Kami, Jumat, Sabtu pukul 10.00-20.00 WIB
– Minggu pukul 11.00-18.00 WIB
– Selasa tutup

Telepon: (022) 2039615


Bacaan selanjutnya yang enggak kalah asyik! Yakin nggak mau baca? 🤔

Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku

1. 7 Rekomendasi Toko Buku Favorit Buat Beli Buku Online
2. Apa Itu Bookstagram dan Bagaimana Cara Membuatnya?
3. Apa Itu Books Aficionado?
4. Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks
5. 7 Tips Meningkatkan Follower Bookstagram untuk Pemula
6. 30 Bookstagram Terms You Should Know
7. 20 Inspirasi Rainbow Bookshelf di Bookstagram yang Bikin Betah Baca Buku Seharian
8. Pengalaman Borong Buku dan Panduan Lengkap ke Big Bad Wolf Jakarta
9. 5 Buku Favorit yang Bikin Saya Jatuh Cinta dengan Dunia Anak-anak
10. Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi
11. 5 Teknik Meningkatkan Engagement Bookstagram Lewat Pemberian Komentar
12. 30+ Most Popular Bookstagram Hashtags to Increase Your Followers
13. 15 Rupi Kaur Powerful Quotes Every Girl Needs to Read
14. 15 Akun Bookstagram Indonesia Terfavorit, Sudah Follow Belum?
15. 3 Penulis Teenlit yang Novelnya Bikin Kangen Masa SMA
16. 7 Benda yang Bisa Kamu Jadikan Pembatas Buku
17. Pengalaman Mengirim Buku Gratis Lewat Kantor Pos Setiap Tanggal 17
18. 11 Most Creative Bookstagrammer to Follow in 2018
19. Asyiknya Belanja Buku di Periplus, Toko Buku Impor Langganan
20. [BOOK REVIEW] Gadis Daun Jeruk Karya Rinda Maria Gempita
21. 17 Rekomendasi Buku di POST Bookshop Pasar Santa
22. [BOOKSTAGRAM TIPS] Memotret Buku dengan Kamera HP atau Kamera DSLR?
23. [EKSKLUSIF] Bab Pertama Novel The Perfect Catch Karya Chocola
24. [BOOK REVIEW] Na Willa: Serial Catatan Kemarin Karya Reda Gaudiamo
25. 7 Properti untuk Bookstagram Biar Foto Makin Keren
26. 7 Cara Memfoto Buku untuk Bookstagram
27. Pengalaman Membeli Buku di POST Bookshop Pasar Santa
28. Pengalaman Beli Buku di Grobmart untuk Pertama Kalinya
29. [BOOK REVIEW] Aku, Meps, dan Beps Karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo
30. Bagaimana Cara Menulis Caption untuk Bookstagram?
31. [BOOK REVIEW] The Stories of Choo Choo: You’re Not as Alone as You Think Karya Citra Marina
32. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Karya Marchella FP
33. 10 Kutipan Terbaik dari Buku NKCTHI Karya Marchella FP
34. [BOOK REVIEW] Things & Thoughts I Drew When I was Bored Karya Naela Ali
35. [BOOK REVIEW] Milk and Honey Karya Rupi Kaur Versi Bahasa Indonesia
36. [BOOK REVIEW] Off the Record Karya Ria SW
37. 17 Ide Foto Bookstagram Bertema Natal yang Bisa Kamu Tiru
38. Cara Mudah Menemukan Buku yang Sedang Diskon di Toko Online
39. Berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Tertinggi di Dunia
40. Akhir Pekan Produktif di Haru Bookstore Gading Serpong
41. Mudahnya Beli Buku Online di Belbuk.com
42. Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu
43. Ngobrolin Novel Taman Pasir di Twitter Bareng Penerbit Grasindo
44. Bedah Buku dan Peluncuran Novel Nyanyian Hujan
45. @sintiawithbooks’ Best Nine on Instagram in 2018
46. [BOOK REVIEW] Seri Kemiri Yori Karya Book For Mountain
47. Serunya Kumpul dan Makan Siang Bareng Nagra dan Aru
48. 8 Booktuber Indonesia Favorit yang Wajib Kamu Tonton Videonya
49. 4 Blogger Buku Favorit yang Sering Kasih Rekomendasi Buku Bagus
50. 7 Rekomendasi Buku yang Asyik Dibaca Saat Traveling
51. Kenapa Sih Suka Banget Bawa Buku Saat Traveling?
52. 5 Tips Memilih Buku untuk Dibawa Saat Traveling
53. Apa Itu Book-Shaming dan Kenapa Harus Dihentikan?
54. Donasi Buku Lewat Lemari Bukubuku, Bisa Dapat Gambar Gratis!
55. [BOOK REVIEW] The Book of Imaginary Beliefs Karya Lala Bohang
56. Pengorbanan Bookstagrammer Demi Dapat Foto Bagus, Pernah Ngerasain?
57. [Book Review] Deep Wounds Karya Dika Agustin
58. 5 Buku Ilustrasi Favorit untuk Kamu yang Butuh Bacaan Ringan
59. Baca 5 Buku tentang Perempuan Ini Saat Hari Perempuan Internasional
60. Panduan Membuat Kartu Anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
61. Things to Know About Big Bad Wolf Books Sale 2019 and My Book Haul!
62. 10 Male Bookstagrammers Who Will Inspire You to Read More
63. [BOOK REVIEW] Dear Tomorrow: Notes to My Future Self Karya Maudy Ayunda
64. [BOOK REVIEW] The Naked Traveler 8: The Farewell Karya Trinity
65. [BOOK REVIEW] Bicara Tubuh Karya Ucita Pohan dan Jozz Felix
66. Pengalaman Belanja Buku di Gramedia World BSD, Tangerang
67. Singgah Sejenak di Perpustakaan Erasmus Huis Jakarta Selatan
68. The Reading Room, Kemang: Sensasi Makan di Perpustakaan
69. Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku
70. Membawa Buku di Penjuru Dunia ke Transit Bookstore Pasar Santa
71. Indie Bookshop Tour: Tur Toko Buku Independen Perdana di Jakarta
72. 7 Inspirasi Tempat Baca Favorit Para Bookstagrammer
73. Toko Buku Foto Gueari Galeri: Jual Foto, Emosi, dan Cerita
74. [BOOK REVIEW] Kamu Terlalu Banyak Bercanda Karya Marchella FP
75. [BOOK REVIEW] The Loneliest Star in the Sky Karya Waliyadi
76. Ketagihan Baca E-book Gara-gara Gramedia Digital
77. [BOOK REVIEW] Jingga Jenaka Karya Annisa Rizkiana Rahmasari
78. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini Karya Mas Aik
79. [BOOK REVIEW] Avontur, Dear 19 Karya Thinkermoon
80. [BOOK REVIEW] Flowers over the Bench Karya Gyanindra Ali
81. Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi
82. 5 Cara Menabung untuk Membeli Buku
83. 5 Cara Menemukan Inspirasi untuk Bookstagram
84. [BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti
85. 5 Rekomendasi Film Favorit Berlatar Toko Buku, Sudah Nonton?
86. Berburu Buku Murah di Vintage Vibes, Alam Sutera
87. 6 Tips Biar Enggak Kalap Belanja Buku di Big Bad Wolf
88. [BOOK REVIEW] Mind Platter (Bejana Pikiran) Karya Najwa Zebian
89. Perpustakaan Goethe-Institut Jakarta: Tempat Asyik Belajar Budaya Jerman
90. Nyamannya Membaca Buku di Perpustakaan Freedom Institute
91. 7 Strategi Jitu Menambah Penghasilan dari Buku
92. Perpustakaan Habibie dan Ainun, Warisan untuk Masyarakat Indonesia
93. 7 Manfaat Mesin Kasir Mini yang Bikin Bisnis Makin Efektif
94. 5 Panduan Praktis Memilih Aplikasi Salon Terbaik untuk Bisnis
95. 7 Manfaat Aplikasi Penjualan untuk Operasional Bisnis Anda
96. 7 Manfaat Aplikasi Kasir untuk Bisnis Kecil dan Menengah Anda
97. Panduan Lengkap Memilih Aplikasi Kasir Terbaik untuk Bisnis
98. Hindari 7 Masalah Bisnis dengan Aplikasi Pembukuan Online, Wajib Baca!
99. Apa Itu Aplikasi Pembukuan Toko dan Bagaimana Memilihnya?
100. 7 Manfaat Aplikasi Pembukuan Toko untuk Bisnis Masa Kini


8 KOMENTAR

  1. Asyik ya tempatnya.. sy kira indie cm buku indo trnyata banyak dr lusr juga ya? Nama kineruku ky nama2 jepang gitu..apa pemiliknya org jepang atau pernah tinggal di jepang ya ?

    • Toko buku indie banyak banget di luar negeri! Seneng teryata di Indonesia juga ada dan salah satunya Kineruku Bandung ini. Nah, karena kamu nanya, aku jadi nambahin informasi soal asal nama Kineruku, yang mana Kine diambil dari kata sinematik, sedangkan Ruku artinya Rumah Buku. Kedengerannya memang seperti nama Jepang, ya. Hehe.

      Aku juga masih mengulik soal informasi pemiliknya. Akan aku update di blog kalau sudah ketemu, ya. 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.