Kedai Buku Jenny, Lebih dari Sekadar Perpustakaan dan Toko Buku

76
Kedai Buku Jenny, Lebih dari Sekadar Perpustakaan dan Toko Buku

Kedai Buku Jenny, Lebih dari Sekadar Perpustakaan dan Toko Buku – Saya melangkahkan kaki menuju sebuah rumah berpagar biru muda di Kompleks Wesabbe Makassar.

Dari luar, rumah tersebut tak tampak terlalu besar. Ada dua pintu utama di rumah ini. Yang sebelah kiri terbuka, sementara yang kanan tertutup.


Siang itu, saya ditemani oleh Wahab, salah seorang pustakawan di Perpustakaan Katakerja. Dialah yang mengajak saya untuk mampir ke Kedai Buku Jenny, yang nyatanya masih satu kompleks dengan Katakerja.

Siang itu, Kedai Buku Jenny sepi sekali. Wahab mengajak saya masuk ke dalam, meski awalnya ragu karena di sana enggak ada orang. Kata Wahab, sepertinya pemilik Kedai Buku Jenny sedang menjemput anaknya di sekolah.

“Eh, enggak apa-apa nih, masuk?” tanya saya pada Wahab.

“Enggak apa-apa. Di sini kami semua saling kenal,” jawab lelaki itu, lalu kami berdua pun masuk ke dalam.

Kedai Buku Jenny, Lebih dari Sekadar Perpustakaan dan Toko Buku

Kedai Buku Jenny pertama kali berdiri pada 2011. Zulkhair Burhan, atau akrab disapa Bobby, adalah salah satu pendirinya.


Baca juga: Indie Bookshop Tour: Tur Toko Buku Independen Perdana di Jakarta

Nama Jenny sendiri sebenarnya terinspirasi dari salah salah satu band indie asal Yogyakarta bernama sama. Yang menarik, meski nama band tersebut seperti nama perempuan, semua personelnya adalah laki-laki.

Akhirnya, Bobby dan para kerabatnya pun mendirikan Kedai Buku Jenny, sebuah perpustakaan, toko buku, toko musik, hingga komunitas literasi bagi para generasi muda di Makassar. Seru banget!

Lantas, apa sih yang menarik dari Kedai Buku Jenny ini? Begitu masuk, saya disambut mural besar pada dinding sebelah kiri.

Baca juga: Singgah Sejenak di Perpustakaan Erasmus Huis Jakarta Selatan

Kemudian, ada banyak mainan anak-anak yang tergantung di sana. Saya penasaran, ini termausk instalasi seni juga enggak, ya?

Lalu, di Kedai Buku Jenny ini juga ada Red Phone Booth yang sangat ikonik di Inggris. Kalau saya lihat sih isinya buku-buku, juga ada banyak botol berisi sampah daur ulang plastik. Di langit-langit toko buku ini, tergantung pula hiasan-hiasan daur ulang, lho.

kedai buku jenny makassar

Nah, di pintu kiri Kedai Buku Jenny yang terbuka, saya melihat seperti ada perpustakaan dan toko buku kecil. Di sisi pinggir, ada rak-rak buku yang menempel di dinding, di mana ratusan buku tersusun rapi.

Kalau melongok ke Instagram @kedaibukujenny, buku-buku yang dijual kebanyakan adalah novel sastra, puisi, juga cerpen.

Nah, di tengah-tengahnya, ada dua meja kecil. Satu meja digunakan untuk menaruh buku, sedangkan yang satu lagi sepertinya digunakan untuk belajar atau mengerjakan PR sekolah.

kedai buku jenny makassar

Saya memerhatikan dinding-dindingnya yang tak tertutup rak buku. Ada mural besar bergambar laki-laki di sisi kiri. Tertulis di sana “Melawan Lupa…”. Entah rupa siapa itu.

Kemudian, di sisi lain saya membaca deretan kalimat panjang, yang entah disadur dari mana, atau karya asli siapa. Pemiliknya, mungkin?

Baca juga: The Reading Room, Kemang: Sensasi Makan di Perpustakaan

Sayang saya enggak bisa mengonfirmasi hal tersebut ketika berada di Kedai Buku Jenny karena belum kesempatan bertemu pemiliknya.

Saya enggak masuk ke dalam perpustakaan ini, hanya foto-foto saja dari luar. Enggak enak, soalnya enggak ada tuan rumahnya.

kedai buku jenny makassar

Kemudian, beralih ke pintu satunya di sebelah kanan. Ruangan yang satu ini memiliki jendela lipat yang kaca-kacanya ditulisi berbagai kalimat menarik. Sepertinya itu merupakan prosa atau cerita pendek.

Nah, berbeda dengan ruangan di bagian kiri, yang satu ini tertutup. Tanpa ragu Wahab membuka pintu tersebut sehingga saya bisa melihat-lihat kondisi di dalamnya.

Baca juga: Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku

Lagi-lagi, saya agak ragu ketika ingin masuk ke dalam. Makanya saya hanya berdiri di ambang pintu saja, sembari melongok ke dalam dan melihat ada apa di dalam ruangan tersebut.

kedai buku jenny makassar

Oh ternyata di bagian ini, Kedai Buku Jenny menjual berbagai macam CD musik. Koleksinya banyak banget! Kebanyakan CD musik enggak terlalu familiar bagi saya, kecuali Payung Teduh, Andien, Pee Wee Gaskins, dan Yura.

Bila diperhatikan, genre musiknya bermacam-macam. Saya menebak, sepertinya ada album band indie asal Makassar, deh. Soalnya, Wahab juga bercerita kalau di Kedai Buku Jenny, sering diadakan pertunjukkan musik.

“Kebanyakan terkenal gara-gara habis main (musik) di sini,” ujarnya.

View this post on Instagram

Sejak volume awal, KBJamming sebagai microgigs rumahan masih menawarkan keintiman, kesederhanaan, ide-ide yang memenuhi ruang dan menyisakan pekerjaan rumah untuk dikerjakan bersama-sama. Dan hingga kemarin (Jumat, 12 Juli 2019) di kali ke 24 KBJamming dilaksanakan, rasa itu masih sama dan terus berlipat ganda. Kami memulainya dengan bedah dan diskusi buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya. @maulanarahmat_ mengantar diskusi ini dengan memaparkan beberapa poin dalam buku karya teranyar @idharrez ini. Diskusi kemudian berkembang melalui paparan teman-teman peserta diskusi yg datang dari berbagai profesi yg ada kaitannya dengan musik seperti akademisi seni, manajer band dan musisi. Secara garis besar mereka menyatakan pentingnya jurnalisme musik karena ia salah satunya dapat berfungsi sebagai interuptor dan sekaligus kritik atas karya. Dari diskusi ini juga mencuat berbagai hal yg menjadi sebab mengapa pencatatan atas peristiwa musik di Makassar semakin minim. Salah satunya karena minimnya media yg memang memberikan perhatian terhadap praktik jurnalisme musik dan di sisi yg lain memang semakin sedikit yg memilih jalur menjadi pencatat dibanding menjadi pelaku musik. Diujung diskusi ada harapan untuk menginisiasi media musik dengan model kolektif yang semoga dapat dikerjakan bersama-sama. KBJamming dilanjutkan dengan penampilan berturut-turut @halfmoon.inc @skinnblister dan ditutup oleh @penenunkatamusik yang sedang menjalankan tur album barunya. Dan seperti biasa, puncak KBJamming justru setelah helatan ini ditutup dan semua yang hadir saling berbagi sapa dan cerita sebelum akhirnya mereka mengucapkan permisi untuk beranjak. Iya, kota ini tetap membutuhkan panggung dimana temaram lampu tak menyilaukan namun harapan tetap ditata. Terima kasih buat semua yang telah hadir dan Sampai jumpa di KBJamming volume berikutnya. #kbjammingvol24 #jurnalismemusik #microgigs #makassar #kedaibukujenny

A post shared by kedai buku jenny (@kedaibukujenny) on

Ya, Kedai Buku Jenny ini memang bukan cuma mengusung perpustakaan atau toko buku saja, melainkan ruang bagi siapa saja yang ingin mengembangkan bakat dan kemampuannya di bidang seni.

GoSulsel pernah menulis bahwa Zulkhair Burhan atau Bobby, pemilik Kedai Buku Jenny, sering menyaksikan berbagai pertunjukkan musik dan kesenian bersama sahabat-sahabatnya, mulai dari yang skalanya kecil hingga besar.

Semenjak dari situ, mereka pun berpikiran untuk menyadur konsep tersebut di Makassar, sebab ruang kreatif seperti itu ternyata sulit banget ditemukan di Makassar.

Itulah mengapa selain pertunjukkan musik, Kedai Buku Jenny juga sering mengadakan diskusi, pelatihan teater anak-anak, serta praktik kebudayaan mengenai politik, sosial, perkembangan kota, musik, dan sebagainya.

Baca juga: Mengulik Koleksi Buku Milik Transit Bookstore Pasar Santa

Tujuannya cuma satu, ingin agar anak-anak muda Makassar bisa datang dan enggak malu memamerkan hasil karya mereka di Kedai Buku Jenny.

Saya kira hal ini sangatlah menarik. Enggak jauh berbeda dengan Perpustakaan Katakerja, nyatanya Kedai Buku Jenny juga ingin menghadirkan ruang publik bagi masyarakat Makassar agar mereka bisa lebih mengekspresikan diri. Bedanya, Kedai Buku Jenny lebih mengusung tema seni.

Kalau di Jakarta, mungkin kita mengenal M Bloc, Dia.Lo.Gue Artspace, atau Taman Ismail Marzuki.

Seneng deh, banyak masyarakat yang berinisiatif untuk membuat banyak ruang berekspresi. Harapannya, anak-anak muda pun juga semakin senang berkumpul dan memanfaatkan ruang tersebut untuk mengembangkan minat dan bakat mereka.

Ah, jadi enggak sabar main ke Kedai Buku Jenny Makassar lagi. Semoga bisa ketemu sama pemiliknya langsung.


Bila ke Makassar, sempatkan mampir ke sini, ya! 😀

Alamat: Kompleks Wesabbe Blok C 17, Jl. Perintis Kemerdekaan 10, Tamalanrea, Kec. Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan – 90245


Rekomendasi artikel selanjutnya yang wajib kamu baca, nih! 😍

Nyamannya Membaca Buku di Perpustakaan Freedom Institute

1. 7 Rekomendasi Toko Buku Favorit Buat Beli Buku Online
2. Apa Itu Bookstagram dan Bagaimana Cara Membuatnya?
3. Apa Itu Books Aficionado?
4. Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks
5. 7 Tips Meningkatkan Follower Bookstagram untuk Pemula
6. 30 Bookstagram Terms You Should Know
7. 20 Inspirasi Rainbow Bookshelf di Bookstagram yang Bikin Betah Baca Buku Seharian
8. Pengalaman Borong Buku dan Panduan Lengkap ke Big Bad Wolf Jakarta
9. 5 Buku Favorit yang Bikin Saya Jatuh Cinta dengan Dunia Anak-anak
10. Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi
11. 5 Teknik Meningkatkan Engagement Bookstagram Lewat Pemberian Komentar
12. 30+ Most Popular Bookstagram Hashtags to Increase Your Followers
13. 15 Rupi Kaur Powerful Quotes Every Girl Needs to Read
14. 15 Akun Bookstagram Indonesia Terfavorit, Sudah Follow Belum?
15. 3 Penulis Teenlit yang Novelnya Bikin Kangen Masa SMA
16. 7 Benda yang Bisa Kamu Jadikan Pembatas Buku
17. Pengalaman Mengirim Buku Gratis Lewat Kantor Pos Setiap Tanggal 17
18. 11 Most Creative Bookstagrammer to Follow in 2018
19. Asyiknya Belanja Buku di Periplus, Toko Buku Impor Langganan
20. [BOOK REVIEW] Gadis Daun Jeruk Karya Rinda Maria Gempita
21. 17 Rekomendasi Buku di POST Bookshop Pasar Santa
22. [BOOKSTAGRAM TIPS] Memotret Buku dengan Kamera HP atau Kamera DSLR?
23. [EKSKLUSIF] Bab Pertama Novel The Perfect Catch Karya Chocola
24. [BOOK REVIEW] Na Willa: Serial Catatan Kemarin Karya Reda Gaudiamo
25. 7 Properti untuk Bookstagram Biar Foto Makin Keren
26. 7 Cara Memfoto Buku untuk Bookstagram
27. Pengalaman Membeli Buku di POST Bookshop Pasar Santa
28. Pengalaman Beli Buku di Grobmart untuk Pertama Kalinya
29. [BOOK REVIEW] Aku, Meps, dan Beps Karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo
30. Bagaimana Cara Menulis Caption untuk Bookstagram?
31. [BOOK REVIEW] The Stories of Choo Choo: You’re Not as Alone as You Think Karya Citra Marina
32. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Karya Marchella FP
33. 10 Kutipan Terbaik dari Buku NKCTHI Karya Marchella FP
34. [BOOK REVIEW] Things & Thoughts I Drew When I was Bored Karya Naela Ali
35. [BOOK REVIEW] Milk and Honey Karya Rupi Kaur Versi Bahasa Indonesia
36. [BOOK REVIEW] Off the Record Karya Ria SW
37. 17 Ide Foto Bookstagram Bertema Natal yang Bisa Kamu Tiru
38. Cara Mudah Menemukan Buku yang Sedang Diskon di Toko Online
39. Berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Tertinggi di Dunia
40. Akhir Pekan Produktif di Haru Bookstore Gading Serpong
41. Mudahnya Beli Buku Online di Belbuk.com
42. Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu
43. Ngobrolin Novel Taman Pasir di Twitter Bareng Penerbit Grasindo
44. Bedah Buku dan Peluncuran Novel Nyanyian Hujan
45. @sintiawithbooks’ Best Nine on Instagram in 2018
46. [BOOK REVIEW] Seri Kemiri Yori Karya Book For Mountain
47. Serunya Kumpul dan Makan Siang Bareng Nagra dan Aru
48. 8 Booktuber Indonesia Favorit yang Wajib Kamu Tonton Videonya
49. 4 Blogger Buku Favorit yang Sering Kasih Rekomendasi Buku Bagus
50. 7 Rekomendasi Buku yang Asyik Dibaca Saat Traveling
51. Kenapa Sih Suka Banget Bawa Buku Saat Traveling?
52. 5 Tips Memilih Buku untuk Dibawa Saat Traveling
53. Apa Itu Book-Shaming dan Kenapa Harus Dihentikan?
54. Donasi Buku Lewat Lemari Bukubuku, Bisa Dapat Gambar Gratis!
55. [BOOK REVIEW] The Book of Imaginary Beliefs Karya Lala Bohang
56. Pengorbanan Bookstagrammer Demi Dapat Foto Bagus, Pernah Ngerasain?
57. [Book Review] Deep Wounds Karya Dika Agustin
58. 5 Buku Ilustrasi Favorit untuk Kamu yang Butuh Bacaan Ringan
59. Baca 5 Buku tentang Perempuan Ini Saat Hari Perempuan Internasional
60. Panduan Membuat Kartu Anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
61. Things to Know About Big Bad Wolf Books Sale 2019 and My Book Haul!
62. 10 Male Bookstagrammers Who Will Inspire You to Read More
63. [BOOK REVIEW] Dear Tomorrow: Notes to My Future Self Karya Maudy Ayunda
64. [BOOK REVIEW] The Naked Traveler 8: The Farewell Karya Trinity
65. [BOOK REVIEW] Bicara Tubuh Karya Ucita Pohan dan Jozz Felix
66. Pengalaman Belanja Buku di Gramedia World BSD, Tangerang
67. Singgah Sejenak di Perpustakaan Erasmus Huis Jakarta Selatan
68. The Reading Room, Kemang: Sensasi Makan di Perpustakaan
69. Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku
70. Membawa Buku di Penjuru Dunia ke Transit Bookstore Pasar Santa
71. Indie Bookshop Tour: Tur Toko Buku Independen Perdana di Jakarta
72. 7 Inspirasi Tempat Baca Favorit Para Bookstagrammer
73. Toko Buku Foto Gueari Galeri: Jual Foto, Emosi, dan Cerita
74. [BOOK REVIEW] Kamu Terlalu Banyak Bercanda Karya Marchella FP
75. [BOOK REVIEW] The Loneliest Star in the Sky Karya Waliyadi
76. Ketagihan Baca E-book Gara-gara Gramedia Digital
77. [BOOK REVIEW] Jingga Jenaka Karya Annisa Rizkiana Rahmasari
78. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini Karya Mas Aik
79. [BOOK REVIEW] Avontur, Dear 19 Karya Thinkermoon
80. [BOOK REVIEW] Flowers over the Bench Karya Gyanindra Ali
81. Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi
82. 5 Cara Menabung untuk Membeli Buku
83. 5 Cara Menemukan Inspirasi untuk Bookstagram
84. [BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti
85. 5 Rekomendasi Film Favorit Berlatar Toko Buku, Sudah Nonton?
86. Berburu Buku Murah di Vintage Vibes, Alam Sutera
87. 6 Tips Biar Enggak Kalap Belanja Buku di Big Bad Wolf
88. [BOOK REVIEW] Mind Platter (Bejana Pikiran) Karya Najwa Zebian
89. Perpustakaan Goethe-Institut Jakarta: Tempat Asyik Belajar Budaya Jerman
90. Nyamannya Membaca Buku di Perpustakaan Freedom Institute
91. 7 Strategi Jitu Menambah Penghasilan dari Buku
92. Perpustakaan Habibie dan Ainun, Warisan untuk Masyarakat Indonesia
93. Sore Hari Bersama Buku-buku di Halaman Belakang Kineruku Bandung
94. Mengejar Aan Mansyur Hingga ke Katakerja Makassar


2 KOMENTAR

  1. Di Makassar geliat literasinya memang keren. Yangs aya tahu ada pustakawan keren namanya Irsan atau siapa itu juga bagus gebrakannya.
    Sekarang kedai buku sudah mirip taman baca, tidak hanya menjual buku tapi menyediakan tempat untuk membaca, bahkan untuk ragam kegiatan yang lainnya.

    • Wah nama lengkapnya Irsan siapa? Iya, aku juga kaget ternyata masyarakat Makassar sangat berinisiatif untuk membuat ruang baca seperti ini. Seneng banget kalau anak-anak muda di sana enggak lagi kesulitan jika ingin membaca buku atau memamerkan kemampuan seni mereka. 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.