10 Aplikasi Edit Foto Bookstagram yang Sering Saya Gunakan

25098
7 Aplikasi Edit Foto Bookstagram yang Sering Saya Gunakan - Sintia Astarina

10 Aplikasi Edit Foto Bookstagram yang Sering Saya Gunakan – Untuk menggaet lebih banyak followers, bohong rasanya kalau saya enggak memperhatikan kualitas foto.

Mulai dari mencoba beragam pose hingga angle, memerhatikan ukuran foto, hingga menjaga tone supaya tetap satu tema. Selama mengurus Bookstagram @sintiawithbooks, ternyata menjaga kualitas foto itu sama sekali enggak mudah, terutama saat pengeditan.


Terkadang, ketika memotret, foto yang dihasilkan terlalu gelap atau terlalu terang. Jadi, saya perlu kembali menyamakan warna. Belum lagi jika memotret di tempat yang berbeda-beda, foto yang dihasilkan pun juga berbeda-beda.

Namun, untungnya ada aplikasi edit foto Bookstagram yang bisa membantu saya untuk menjaga kualitas foto. Beberapa aplikasi yang saya pakai ternyata juga sering digunakan oleh teman-teman Bookstagrammer lainnya, lho.

Namun, perlu diingat, menggunakan aplikasi-aplikasi di bawah ini belum tentu langsung bagus secara instan juga, sih. Semua kembali lagi disesuaikan dengan kemampuan kamu dalam mengambil gambar, mengedit foto, juga selera masing-masing orang. Yuk, simak!

10 Aplikasi Edit Foto Bookstagram yang Sering Saya Gunakan

1VSCO, punya beragam filter yang keren banget!

Aplikasi edit foto Bookstagram yang satu ini selalu jadi pelarian saya jika ingin mengaplikasikan filter tambahan yang bisa bikin foto-foto kreasi saya terlihat lebih aesthetically pleasing. Sepengetahuan saya, enggak sedikit Bookstagrammer yang mengunakan VSCO karena filter yang dimiliki bagus-bagus banget!

Saya sendiri menggunakan filter A6 untuk setiap foto di Bookstagram. Enggak lupa, saya juga pasti akan menyesuaikan Exposure, Contrast, Adjust, dan pengaturan lainnya supaya hasil editan foto sesuai dengan yang saya inginkan.


Menariknya, supaya filter foto-foto Bookstagram saya benar-benar sama, saya bisa meng-copy editan filter tersebut ke foto-foto lainnya. Ini salah satu rahasia saya, bisa punya tone foto yang seragam.


2Snapseed, mampu hilangkan objek dengan mudah!

Kemudian, saya juga lumayan sering menggunakan Snapseed. Biasanya untuk mengatur brightness lewat aplikasi edit foto Bookstagram yang satu ini sih, oke banget.

Kemudian, kalau kamu membuka menu Tools, akan ada banyak pengaturan yang bisa bikin kamu lebih leluasa mengutak-atik foto kamu.

Biasanya, saya menggunakan mode Drama untuk menerangkan foto yang sangat gelap. Kemudian, saya juga menggunakan Healing untuk menghapus bagian-bagian yang kurang penting dalam foto. Misalnya, menghilangkan bayangan pada tembok.

Snapseed sendiri juga memiliki berbagai filter yang bisa kamu aplikasikan. Namun, saya pribadi sih kurang, suka. Jadi, aplikasi yang satu ini memang lebih diandalkan untuk pengaturan brightness serta detail pada objek.


3Photoshop, tempatnya kamu berkreasi dengan foto

Seringnya, saya memfoto buku di dalam ruangan sehingga pencahayannya enggak bagus-bagus banget. Oleh karena itu, untuk foto-foto yang butuh editan mayor, saya selalu mengandalkan Photoshop.

Sebenarnya, saya bisa mengunakan software ini karena belajar otodidak sejak SMA. Jadi, sedikit demi sedikit lumayan ngerti soal pengeditan. Tinggal diasah saja sisi kreativitasnya.

Biasanya, saya menggunakan Photoshop untuk menghilangkan bagian-bagian kurang penting yang mana bagian tersebut enggak bisa dihapus hanya dengan menggunakan Snapseed. Di sisi lain, Photoshop juga sering saya gunakan untuk menambah elemen-elemen kreatif, mengganti background, dan sebagainya.

Oh ya, saya menggunakan Photoshop di PC ya, bukan di HP. Memang, prosesnya jadi lebih ribet, soalnya perlu memindahkan foto-foto ke laptop dulu, baru nanti dipindahkan lagi ke HP untuk di-upload ke Bookstagram. But, I really enjoy the process! Apalagi kalau hasilnya bagus. Hehehe. 😀


4Canva

Nih, buat yang penasaran saya sering edit Insta Story pakai aplikasi apa, jawabannya adalah Canva. Canva punya banyak banget template dengan berbagai macam ukuran dan desain.

Bahkan, pengguna juga bisa bikin Facebook header, poster, kartu nama, atau beragam desain lainnya hanya dengan menggunakan aplikasi ini. Rasanya tuh kayak… orang yang nggak bisa desain jadi bisa ngedesain dalam sekejap. Keren nggak, tuh? 😆

Hal menarik lainnya, kamu juga bisa menggunakan Canva lewat PC/Laptop sehingga mendesain sesuatu pun jadi lebih efektif. Rasa-rasanya, nggak ada lagi deh alasan bingung mau bikin konten apa. Canva is really helpful!


5PhotoGrid, lebih kreatif dengan penggabungan foto dan video

Untuk kamu yang juga aktif di Insta Stories, yuk bikin konten-konten kreatif menggunakan PhotoGrid. Aplikasi edit foto Bookstagram yang satu ini biasanya saya gunakan untuk melakukan peng-crop-an atau mengubah rasio foto menjadi ukuran 9:16. Jadi, ukurannya benar-benar pas dengan Insta Story.

Di sisi lain, PhotoGrid juga saya gunakan untuk menggabungkan foto dan video dalam satu gambar. Jadi, buat kamu yang penasaran bagaimana bisa saya memuat foto dan video dalam bentuk collage, PhotoGrid jawabannya.

Kalau dipikir-pikir, saya memang tipe Bookstagrammer yang cenderung pengin rapi kalau mem-posting sesuatu di Insta Stories. Makanya, kadang-kadang enggak masalah bila harus melakukan effort lebih demi konten yang lebih berkualitas. Hehehe. 😀


6Unfold, template artsy andalan para Storyteller

Sering penasaran nggak sih, kok foto-foto di Insta Stories para Bookstagrammer kece-kece banget? Semacam ada template-nya. Artsy banget deh, pokoknya. Saya juga sering banget bertanya demikian.

Usut punya usut, Unfold ini jagoannya. Aplikasi edit foto Bookstagram in imemiliki berbagai template yang minimalis yang memang cocok banget dengan style Bookstagram saya.

Penggunaannya pun cukup mudah. Kamu hanya perlu menambah New Story, pilih template-nya, lalu pengeditan fotonya tinggal disesuaikan dengan selera kamu, deh. Unfold sendiri memiliki font style yang bagus-bagus banget, mulai dari Amiri, Montserrat, Playfair, Northwell, Bebas, hingga Rustico.

Unfold cocok banget digunakan oleh kamu yang suka storytelling.


7Preview, menyusun feed Instagram dengan mudah

Dear aplikasi Plann, maaf saya harus mengganti kamu dengan aplikasi lain yang lebih kompatibel. Gara-gara sering crash sampai-sampai nggak bisa dipakai, akhirnya saya pindah ke lain hati, yakni aplikasi serua bernama Preview.

Oke, bagi kamu yang tahu apa itu Preview, aplikasi ini memang bukan murni untuk edit foto Bookstagram. Hanya saja, dengan Preview kamu bisa mengatur susunan feed kamu. Ketika hendak mem-upload foto, kamu enggak perlu bingung harus posting foto yang mana, sebab sebelumnya sudah kamu atur dengan aplikasi ini.

Dengan aplikasi Preview, kamu bisa mengaplikasikan filter, menambah caption, memberikan hashtag, hingga menjadwalkan kapan posting-an tersebut akan diunggah. Jujur, aplikasi ini membantu saya yang perfeksionis untuk mendapatkan feed cantik yang diinginkan.

Hayooo… siapa yang perhatian sama feed Instagram juga seperti saya? 😀


8Instagram, filter Ludwig favorit saya

Foto-foto minimalis dengan dominasi warna putih seringnya saya hasilkan lewat pengaturan foto di aplikasi Instagram itu sendiri.

Saya menggunakan filter Ludwig untuk membuat foto tampak lebih terang dan tajam. Kadang, saya juga mengatur brightness, contrast, highlight, dan lainnya, supaya saya bisa menghasilkan foto dengan tone serupa.

Kalau dipikir-pikir, menghasilkan foto dengan tone yang sama enggak mudah, ya. Kadang, saya suka sebel sendiri kalau warnanya enggak sesuai.

Rasanya seperti merusakan feed, atau ada bagian yang “bolong” di feed kita. Tapi enggak apa-apa juga, sih. It’s a learning process, isn’t it? Foto-foto yang saya edit juga terkadang enggak seragam. Kembali lagi ke kreativitas kita masing-masing, bagaimana mengakali hal tersebut.


9Nichi, manisnya template bullet journaling

Kalau enggak salah ingat, awalnya tahu Canva tuh dari salah seorang blogger yang suka pamer foto di Insta Story dengan template-template bagus.

Lalu, iseng deh download Nichi dan ternyata template-nya beneran bagus banget! Cara pakainya pun gampang, tinggal pilih template yang disuka, lalu upload foto-fotonya, dan tinggal simpan.

Namun sayang, menurut saya pengaturannya agak kurang lengkap nih untuk yang versi gratis. Selain nggak bisa swap foto, saya juga nggak bisa zoom out pas komposisi foto nggak sesuai sama template. Jadi ya… terbatas banget.

Kendati begitu, saya tetap menyukai Nichi karena desainnya apik sekali dan bikin Insta Story jadi enak dilihat banget. Nah, kalau kamu suka sesuatu yang bergaya vintage atau bullet journaling, wajib banget coba Nichi.


10Afterlight

Aplikasi edit Bookstagram selanjutnya yang sering saya gunakan ialah Afterlight. Aplikasi ini biasanya saya manfaatkan untuk menambah efek dusty pada setiap foto yang akan diunggah.

Menurut saya, salah satu hal yang bisa di-improve dari Afterlight adalah kemudahan untuk mengedit banyak foto dalam satu waktu sekaligus. Sepengalaman saya, katakanlah ingin menambahkan efek dusty pada 10 foto, saya harus upload satu per satu fotonya, yang mana tentu aja itu memakan waktu banget.

Andaikan bisa langsung upload banyak foto dan mengaplikasikan semua filter dalam satu waktu, I’d be very happy!

Nah, itulah dia 10 aplikasi edit foto Bookstagram yang sering saya gunakan. Kadang-kadang, saya juga masih menggunakan aplikasi lain seperti Pomelo, InShot, dan Lightroom. Namun tetap saja, pilihan saya jatuh pada 10 aplikasi di atas. Kamu sudah pernah coba belum?


Jangan lupa baca artikel selanjutnya di bawah ini, ya! 😍

7 Inspirasi Tempat Baca Favorit Para Bookstagrammer

1. 7 Rekomendasi Toko Buku Favorit Buat Beli Buku Online
2. Apa Itu Bookstagram dan Bagaimana Cara Membuatnya?
3. Apa Itu Books Aficionado?
4. Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks
5. 7 Tips Meningkatkan Follower Bookstagram untuk Pemula
6. 30 Bookstagram Terms You Should Know
7. 20 Inspirasi Rainbow Bookshelf di Bookstagram yang Bikin Betah Baca Buku Seharian
8. Pengalaman Borong Buku dan Panduan Lengkap ke Big Bad Wolf Jakarta
9. 5 Buku Favorit yang Bikin Saya Jatuh Cinta dengan Dunia Anak-anak
10. Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi
11. 5 Teknik Meningkatkan Engagement Bookstagram Lewat Pemberian Komentar
12. 30+ Most Popular Bookstagram Hashtags to Increase Your Followers
13. 15 Rupi Kaur Powerful Quotes Every Girl Needs to Read
14. 15 Akun Bookstagram Indonesia Terfavorit, Sudah Follow Belum?
15. 3 Penulis Teenlit yang Novelnya Bikin Kangen Masa SMA
16. 7 Benda yang Bisa Kamu Jadikan Pembatas Buku
17. Pengalaman Mengirim Buku Gratis Lewat Kantor Pos Setiap Tanggal 17
18. 11 Most Creative Bookstagrammer to Follow in 2018
19. Asyiknya Belanja Buku di Periplus, Toko Buku Impor Langganan
20. [BOOK REVIEW] Gadis Daun Jeruk Karya Rinda Maria Gempita
21. 17 Rekomendasi Buku di POST Bookshop Pasar Santa
22. [BOOKSTAGRAM TIPS] Memotret Buku dengan Kamera HP atau Kamera DSLR?
23. [EKSKLUSIF] Bab Pertama Novel The Perfect Catch Karya Chocola
24. [BOOK REVIEW] Na Willa: Serial Catatan Kemarin Karya Reda Gaudiamo
25. 7 Properti untuk Bookstagram Biar Foto Makin Keren
26. 7 Cara Memfoto Buku untuk Bookstagram
27. Pengalaman Membeli Buku di POST Bookshop Pasar Santa
28. Pengalaman Beli Buku di Grobmart untuk Pertama Kalinya
29. [BOOK REVIEW] Aku, Meps, dan Beps Karya Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo
30. Bagaimana Cara Menulis Caption untuk Bookstagram?
31. [BOOK REVIEW] The Stories of Choo Choo: You’re Not as Alone as You Think Karya Citra Marina
32. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Karya Marchella FP
33. 10 Kutipan Terbaik dari Buku NKCTHI Karya Marchella FP
34. [BOOK REVIEW] Things & Thoughts I Drew When I was Bored Karya Naela Ali
35. [BOOK REVIEW] Milk and Honey Karya Rupi Kaur Versi Bahasa Indonesia
36. [BOOK REVIEW] Off the Record Karya Ria SW
37. 17 Ide Foto Bookstagram Bertema Natal yang Bisa Kamu Tiru
38. Cara Mudah Menemukan Buku yang Sedang Diskon di Toko Online
39. Berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Tertinggi di Dunia
40. Akhir Pekan Produktif di Haru Bookstore Gading Serpong
41. Mudahnya Beli Buku Online di Belbuk.com
42. Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu
43. Ngobrolin Novel Taman Pasir di Twitter Bareng Penerbit Grasindo
44. Bedah Buku dan Peluncuran Novel Nyanyian Hujan
45. @sintiawithbooks’ Best Nine on Instagram in 2018
46. [BOOK REVIEW] Seri Kemiri Yori Karya Book For Mountain
47. Serunya Kumpul dan Makan Siang Bareng Nagra dan Aru
48. 8 Booktuber Indonesia Favorit yang Wajib Kamu Tonton Videonya
49. 4 Blogger Buku Favorit yang Sering Kasih Rekomendasi Buku Bagus
50. 7 Rekomendasi Buku yang Asyik Dibaca Saat Traveling
51. Kenapa Sih Suka Banget Bawa Buku Saat Traveling?
52. 5 Tips Memilih Buku untuk Dibawa Saat Traveling
53. Apa Itu Book-Shaming dan Kenapa Harus Dihentikan?
54. Donasi Buku Lewat Lemari Bukubuku, Bisa Dapat Gambar Gratis!
55. [BOOK REVIEW] The Book of Imaginary Beliefs Karya Lala Bohang
56. Pengorbanan Bookstagrammer Demi Dapat Foto Bagus, Pernah Ngerasain?
57. [Book Review] Deep Wounds Karya Dika Agustin
58. 5 Buku Ilustrasi Favorit untuk Kamu yang Butuh Bacaan Ringan
59. Baca 5 Buku tentang Perempuan Ini Saat Hari Perempuan Internasional
60. Panduan Membuat Kartu Anggota Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
61. Things to Know About Big Bad Wolf Books Sale 2019 and My Book Haul!
62. 10 Male Bookstagrammers Who Will Inspire You to Read More
63. [BOOK REVIEW] Dear Tomorrow: Notes to My Future Self Karya Maudy Ayunda
64. [BOOK REVIEW] The Naked Traveler 8: The Farewell Karya Trinity
65. [BOOK REVIEW] Bicara Tubuh Karya Ucita Pohan dan Jozz Felix
66. Pengalaman Belanja Buku di Gramedia World BSD, Tangerang
67. Singgah Sejenak di Perpustakaan Erasmus Huis Jakarta Selatan
68. The Reading Room, Kemang: Sensasi Makan di Perpustakaan
69. Toko Buku Independen POST, Surga Kecil Para Pencinta Buku
70. Membawa Buku di Penjuru Dunia ke Transit Bookstore Pasar Santa
71. Indie Bookshop Tour: Tur Toko Buku Independen Perdana di Jakarta
72. 7 Inspirasi Tempat Baca Favorit Para Bookstagrammer
73. Toko Buku Foto Gueari Galeri: Jual Foto, Emosi, dan Cerita
74. [BOOK REVIEW] Kamu Terlalu Banyak Bercanda Karya Marchella FP
75. [BOOK REVIEW] The Loneliest Star in the Sky Karya Waliyadi
76. Ketagihan Baca E-book Gara-gara Gramedia Digital
77. [BOOK REVIEW] Jingga Jenaka Karya Annisa Rizkiana Rahmasari
78. [BOOK REVIEW] Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini Karya Mas Aik
79. [BOOK REVIEW] Avontur, Dear 19 Karya Thinkermoon
80. [BOOK REVIEW] Flowers over the Bench Karya Gyanindra Ali
81. Menyusuri Tumpukan Buku-buku Lawas di Galeri Buku Bengkel Deklamasi
82. 5 Cara Menabung untuk Membeli Buku
83. 5 Cara Menemukan Inspirasi untuk Bookstagram
84. [BOOK REVIEW] Addio Karya Alya Damianti
85. 5 Rekomendasi Film Favorit Berlatar Toko Buku, Sudah Nonton?
86. Berburu Buku Murah di Vintage Vibes, Alam Sutera
87. 6 Tips Biar Enggak Kalap Belanja Buku di Big Bad Wolf
88. [BOOK REVIEW] Mind Platter (Bejana Pikiran) Karya Najwa Zebian
89. Perpustakaan Goethe-Institut Jakarta: Tempat Asyik Belajar Budaya Jerman
90. Nyamannya Membaca Buku di Perpustakaan Freedom Institute
91. 7 Strategi Jitu Menambah Penghasilan dari Buku
92. Perpustakaan Habibie dan Ainun, Warisan untuk Masyarakat Indonesia
93. Sore Hari Bersama Buku-buku di Halaman Belakang Kineruku Bandung
94. Mengejar Aan Mansyur Hingga ke Katakerja Makassar
95. Kedai Buku Jenny, Lebih dari Sekadar Perpustakaan dan Toko Buku
96. [BOOK REVIEW] Surat untuk Anakku Karya Mahendra Hariyanto
97. [BOOK REVIEW] Selamat Datang, Bulan Karya Theoresia Rumthe
98. 7 Perpustakaan di Jakarta yang Bikin Makin Cinta Membaca


4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.