Ada yang Kurang Saat Mencicipi Roti Panggang Telur dan Kopi Tarik Tung Tau

kopi tung tau bangka

Ada yang Kurang Saat Mencicipi Roti Panggang Telur dan Kopi Tarik Tung Tau – Rintik hujan menemani langkah-langkah kecil saya yang berlarian menyeberangi jalanan menuju sebuah warung kopi di ujung jalan. Tung Tau, namanya, berlokasi di Jalan Muhidin No. 87, Sungailiat, Bangka.

Seringkali saya melihat warung kopi mungil ini di sudut jalan, tapi enggak pernah sekalipun ingin mampir. Mungkin hanya warung kopi biasa, di Jakarta juga banyak, pikir saya kala itu. Namun barulah ketika melihat artikel soal tempat-tempat yang wajib dikunjungi ketika berada di Bangka, dan Tung Tau masuk ke dalam daftarnya, saya penasaran dan akhirnya memutuskan untuk melipir sejenak siang itu.

Besar bangunan warung kopi ini tidaklah seberapa. Paling, hanya ada 10 buah meja di sini, dengan empat kursi yang menempel pada pinggir-pinggir meja.

Baca juga: Sore-sore Ngemil Pempek Bangka di Depan Bangunan Kosong di Jalan Muhidin

Saya duduk di salah satu kursi di bagian dalam warung. Mama duduk di sebelah kiri saya. Seorang pramusaji membiarkan kami melihat menu berisi daftar makanan dan minuman yang disediakan. Tak lama, saya memesan Roti Panggang Telur dan Es Kopi Tarik sementara itu, Mama memesan Kopi O (atau Kopi Susu, saya enggak ingat).

Pesanan pun datang beberapa menit kemudian. Es Kopi Tarik di dalam gelas tinggi saya seruput lebih dulu. Manis, terlalu manis rasanya di lidah saya. Bibir saya pun melepas ujung sedotan putih, lalu saya mengambil sepotong roti dari piring kecil berwarna merah.

Rupanya, ada yang membuat saya jatuh cinta, yakni gigitan pertama dan kunyahan roti yang tertelan kemudian. Sampai saat ini, saya masih bisa merasakan bagaimana nikmatnya roti panggang berisikan telur yang masuk ke dalam mulut. Memang, ini hanyalah roti panggang biasa dan isiannya juga telur rebus yang dipotong-potong biasa. Yang menjadikannya istimewa adalah… seolah ada kenangan yang ikut tertelan ke dalam mulut saya.

Baca juga: Menyusuri Kenangan di Kampung Halaman, Bangka Belitung

Kenangan akan orang-orang yang bersantai sambil menyeruput kopi panas di dalam segelas cangkir mini, sembari menunggu waktu untuk bekerja, atau melepas lelah sehabis membanting tulang. Obrolan-obrolan hangat yang diselingi potongan-potongan roti bantal. Senyum-senyum yang berterbangan melengkapi obrolan-obrolan yang dikumandangkan.

Entah apa yang mereka obrolkan. Mungkin soal timah? Soal keluarga? Atau mungkin juga anak-anak mereka.

“Ini (Tung Tau) udah lama (ada), Dek?” tanya Mama ke salah satu pramusaji yang berdiri di dekat mesin kasir.

“Sudah, sudah dari tahun 1938. Saya dulu waktu SD ngopi di sini,” jawabnya.

Ada yang Kurang Saat Mencicipi Roti Telur dan Kopi Tarik Tung Tau
Secangkir kopi panas yang selalu ditemani sebatang kue semprong.
Ada yang Kurang Saat Mencicipi Roti Telur dan Kopi Tarik Tung Tau
Roti panggang telur ini merupakan salah satu menu istimewa di Tung Tau. Roti dipanggang masih dengan mengunakan kayu bakar.
Ada yang Kurang Saat Mencicipi Roti Telur dan Kopi Tarik Tung Tau
Entah mengapa, lidah saya senang bila mengingat rasa yang dimiliki makanan dan minuman ini.

Baru saya sadari, ada yang hilang dari kegiatan minum kopi dan makan roti panggang hari itu.

Waktu. Seolah diburu waktu sehingga saya harus menyudahi acara makan saya dengan tidak tenang, padahal, saya sedang tidak mengejar apa-apa atau siapa-siapa. “Tia, ayo cepetan (habiskan),” kata Mama yang tak terlalu suka nongkrong berlama-lama. Di kampung halamannya ini, ia lebih suka makan bakmi atau ngemil pempek atau otak-otak.

Alhasil, kopi yang terlalu manis saya tinggalkan setengah. Setengahnya lagi saya sedot buru-buru dan nyatanya semakin meninggalkan kesan manis di lidah. Roti pangang yang dipotong menjadi empat, saya sisakan satu potong karena sudah terlalu kenyang dan berangsur-angsur membuat saya merasa mual. Jika bersedia menunggu sedikit lebih lama, saya pasti sanggup menghabiskan semuanya.

Baca juga: Mampir ke Belinyu, Jalan-jalan ke Mana Saja?

Percakapan. Bila sering mendengar radio, ada keadaan hening di mana tidak ada lagu yang diputar dan tidak ada penyiar yang berbicara. Dead air, seperti itulah menit-menit yang saya rasakan. Selebihnya, hanyalah basa-basi soal hal-hal tidak penting. Kedua mata saya sesekali hanya memandangi TV di atas kepala Mama yang menyiarkan adegan salah satu sinetron di stasiun TV swasta, yang belum lama ini mendapatkan teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia lantaran dianggap melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) KPI.

Lagipula, bicara soal percakapan, saya bukan tipe orang yang mudah terbuka apa adanya dengan orangtua. Saya lebih memilih untuk menyimpan cerita sendiri atau sepotong-sepotong saya ceritakan kepada orang yang dikenal. Untuk versi lengkap sebuah cerita, biarkan saya dan Tuhan saja yang maha tahu.

Teman bicara. Sudah pasti Mama bukanlah teman bicara yang cocok jika ingin menggalaukan soal hidup. Karenanya, entah mengapa, saya rindu bicara pada orang asing tentang banyak hal. Orang asing maksud saya di sini adalah orang yang saya kenal, tapi tidak terlalu dekat di keseharian.

Saya rindu bicara jujur pada orang asing karena akan lebih mudah untuk berkata-kata tanpa perlu merasa malu, ketimbang dengan orang yang sudah kenal dekat. Saya tidak perlu takut merasa dihakimi atau ditertawakan karena apa yang hendak saya sampaikan (jika pada kesimpulannya ternyata hanyalah sampah-sampah yang memang berisi kegalauan hidup). Saya juga tidak perlu takut atau siap-siap diceramahi setelah dongeng saya diceritakan mulai memasuki bagian akhir.

Setiap bercerita, sebenarnya saya tidak mengharapkan solusi atau balasan kata-kata kembali. Terkadang, saya hanya ingin didengarkan. Lawan bicara mungkin bisa membuka telinga lebar-lebar, menatap kedua mata saya yang sudah pasti akan bergerak ke sana kemari (tandanya saya sedang mencari kata-kata yang pas untuk diutarakan), lalu diam dalam kebisingan. Saya hanya ingin didengarkan. Kamu tahu sekarang.

Namun, saya tidak tahu, jika tiga hal di atas bisa saya milikki siang itu, apakah hidup saya menjadi lengkap atau tidak, apakah hidup saya menjadi berbeda atau tidak.

Yang pasti, dalam menjalani hidup, ada kalanya saya tidak ingin mengencangkan laju, ada kalanya juga saya ingin cepat-cepat melompati waktu. Ada kalanya saya ingin bercakap-cakap, ada kalanya pula saya ingin diam saja dan bercengkerama dengan suasana hening. Ada kalanya saya butuh teman bicara dan ada kalanya pula saya benar-benar butuh teman bicara.

Baca juga: Kujadikan Langit Sebagai Museum Layanganku

Pada akhirnya, hal-hal yang terekam oleh waktu perlahan-lahan akan menjadi kenangan. Sama seperti ketika saya menyeruput kopi manis dan mengunyah roti panggang, lagi-lagi ada kenangan (kali ini beserta harapan) yang ikut tertelan masuk ke dalam kerongkongan.

Sekali lagi, saya berharap waktu itu saya tidak terburu. Saya ingin meminum kopi saya hingga menimbulkan suara gelas kosong di bawah ujung sedotan, juga melahap habis roti panggang saya, hingga tak menyisakan apapun pada piring mungilnya.

Tiba-tiba terselip janji, bolehkah saya kembali kemari lain kali?


Mau mampir ke Kopi Tarik Tung Tau?

XOXO, logo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *