5 Alasan Tak Perlu Ragu Bersantap di Restoran Fine Dining CURATE, Singapura

May 24, 2018

5 Alasan Tak Perlu Ragu Bersantap di Restoran Fine Dining CURATE, Singapura – Bagi kebanyakan orang, fine dining masih menjadi hal yang bikin gugup. Kenapa? Ya, sebab ada beragam etika dan tata cara yang harus diperhatikan. Mulai dari cara duduk, mengunyah makanan, hingga memegang alat-alat makan. Makanya enggak heran kalau banyak yang merasa enggak percaya diri ketika harus bersantap di restoran yang sangat mengutamakan table manner, termasuk saya.

Baca juga: Pengalaman Menginap di Hard Rock Hotel Singapura yang Bernuansa Rock ‘n Roll

Sebagai contoh, saat suatu menu telah terhidang di meja, saya jadi mikir, harus makan dengan tangan atau dengan sendok, ya? Untuk menyantap makanan penutup ini, sendok mana yang harus dipakai? Lalu, wajibkah membeli wine ketika tengah bersantap di restoran fine dining? Atau… boleh enggak ya, membawa wine sendiri untuk diminum di restoran? Begitu seterusnya.

Namun, lupakan itu semua kalau kamu ingin mampir ke CURATE, Singapura. Restoran yang terletak di Level 1 Resorts World Sentosa (RWS), Singapura ini menawarkan pengalaman berbeda ketika bersantap di restoran fine dining. Apa istimewanya?

1. Pengunjung enggak perlu merasa terintimidasi

5 Alasan Tak Perlu Ragu Bersantap di Restoran Fine Dining CURATE Singapura

Serunya, pengunjung bisa melihat langsung open kitchen di sana dan melihat para koki beraksi.

Restoran ini memiliki konsep smart-casual. Jadi kalau kamu ingin mampir, sesuaikanlah dengan pakaian yang akan dikenakan supaya enggak saltum (salah kostum). Kemudian, untuk diketahui, CURATE ini dapat dikatakan masih level entry sehingga pengunjung yang datang enggak perlu merasa terintimidasi dengan tata cara fine dining yang terlalu saklek.

Namun ada baiknya sebelum mengunjungi restoran ini, kamu tahu beberapa aturan table manner secara umum, misalnya duduk tegak tanpa bersandar, menggunakan serbet makan untuk membersihkan tepi mulut yang kotor, mengunyah tanpa bersuara, enggak berbicara ketika masih ada makanan di dalam mulut, dan sebagainya.

2. Chef pernah bekerja di resto berbintang Michelin

5 Alasan Tak Perlu Ragu Bersantap di Restoran Fine Dining CURATE Singapura

Chef Benjamin Halat, sudah menyukai masak-memasak sejak usia 17 tahun.

CURATE sendiri menyajikan pengalaman kuliner terbaru dari berbagai belahan dunia di mana para chef-nya hadir untuk memamerkan kreasi makanan mereka yang harganya enggak murah. CURATE pun menjadi restoran pertama di Asia yang ingin membuat para pengunjungnya merasakan sajian makanan dari para chef profesional.

Sedikit fakta menarik yang bisa saya bagikan, rupanya, para chef profesional di CURATE pernah bekerja di restoran yang mendapat gelar bintang Michelin, lho.

Baca juga: Kuliner yang Bikin Nagih di Bali: Sate Babi Bawah Pohon!

Untuk mendapatkan Bintang Michelin ini enggak gampang. Penghargaan ini diberikan kepada restoran yang dianggap memiliki kualitas tinggi dalam makanan yang dihasilkannya sehingga restoran tersebut layak dikunjungi.

Di CURATE sendiri, saya berkesempatan untuk menikmati berbagai sajian karya Chef Benjamin Halat, yang mengepalai dapur restoran fine dining ini sejak Maret 2017. Pria asal Jerman ini memiliki berbagai pengalaman di restoran-restoran berbintang Michelin maupun hotel-hotel mewah, yang di antaranya berada di Jerman, Switzerland, juga Malaysia.

3. Nikmati ragam pilihan makanan perpaduan Eropa dan Asia

5 Alasan Tak Perlu Ragu Bersantap di Restoran Fine Dining CURATE Singapura

Wagyu Tenderloin with Potato Churros and Bergamot Jus, sajian paling favorit yang pernah saya cicipi.

Sebagai Chef de Cuisine di CURATE, Chef Halat mengenalkan beragam kreasi makanan yang merupakan perpaduan antara Eropa dan Asia.

“Saya memanggil makanan buatan saya sebagai classical modern. Makanan yang disajikan sebenarnya klasik, tapi saya terpengaruh oleh teknik modern dalam pembuatan makanan,” cerita Chef Halat.

Beberapa contoh sajian buatannya di antaranya ada Foie Gras Gateau with Red Port Eine Jelly and Szechuan Pepper Brioche, The Japanese-inspired Tuna-Nori Stone, Dark Chocolate Cigar, serta Soufflated Farm Egg with Truffle Caviar and Spinach. Namun yang paling saya favoritkan adalah Wagyu Tenderloin with Potato Churros and Bergamot Jus. Rasanya super lezat dan bikin nagih!

4. Bisa mengobrol langsung dengan Chef Halat

5 Alasan Tak Perlu Ragu Bersantap di Restoran Fine Dining CURATE Singapura

Buku menu yang akan memberitahukan para tamu soal menu apa saja yang akan mereka santap.

Waktu saya makan di CURATE, bukan cuma pramusaji saja yang menghidangkan makanan langsung ke atas meja. Bahkan, Chef Halat sendiri yang mengantarkannya. Beberapa kali ia bercerita soal sajian menu yang dikreasikannya. Pada kesempatan ini, pengunjung pun bisa bertanya-tanya langsung mengenai menu racikannya. Seru banget! Apalagi, hidangan yang tersaji memiliki tampilan yang unik dan sangat menggoda. Kalau untuk rasa sih, enggak perlu diragukan lagi. Bahkan, Chef Halat sendiri enggak sungkan untuk membagikan rahasia dapurnya.

Baca juga: 7 Kuliner Semarang yang Bikin Kangen

Selain itu, ia bercerita kalau dirinya sering bepergian untuk mencicipi ragam kuliner mancanegara. Misalnya, ia mencoba street food yang mana hal tersebut membuatnya makin peka akan cita rasa lokal. Tapi lucunya, ia menganggap kalau masakan Asia itu menakutkan, lho. Sampai akhirnya ia pergi ke Thailand dan mencicipi makanan lokal di sana, eh ternyata suka.

“Saya sadar bahwa makanan Asia sangatlah kompleks,” akunya.

Berkat penjelajahannya akan makanan-makanan mancanegara, Chef Halat pun menjadikan pengalaman tersebut sebagai inspirasi dan inovasi dalam menciptakan kreasi kuliner istimewa di CURATE.

5. Harga sebanding dengan pengalaman bersantap

5 Alasan Tak Perlu Ragu Bersantap di Restoran Fine Dining CURATE Singapura

Berbagai pilihan wine di CURATE.

CURATE buka saat jam makan malam dari Selasa sampai Sabtu, pukul 18.30 – 22.30 waktu Singapura. Jika tertarik untuk merasakan langsung bagaimana santainya menikmati pengalaman bersantap di restoran fine dining sambil ngobrol asyik hingga malam, seenggaknya kamu harus mengeluarkan uang sebesar Rp1,5 juta untuk 5-course dinner menu dan Rp1,9 juta untuk 8-course dinner menu. Kamu juga bisa reservasi dulu sebelum datang.

Dengan harga yang enggak murah itu, percaya deh, kamu bakalan puas banget dengan berbagai menu yang disajikan. Pengalaman yang didapat bukan hanya soal table manner aja, melainkan bagaimana lidah belajar untuk menjadi lebih peka dalam mencecap rasa dan mendistribusikan definisinya ke dalam kepala.

Saat membuat tulisan ini, bahkan saya masih bisa membayangkan gimana lezatnya makanan-makanan kreasi Chef Halat. Entah bagaimana lagi mendeskripsikan kata enak dan lezat. Rasanya, ini akan menjadi pengalaman makan yang pantas untuk dikenang sampai kapan pun.

Baca juga: Jatuh Cinta dengan Dunia Bawah Laut Gara-gara Ocean Gallery di S.E.A Aquarium Singapura

Oh ya, sedikit tips, sebelum makan di CURATE, kosongkan perut dulu, ya. Hari itu, sorenya saya sempat beli burger dan kentang goreng di restoran cepat saji karena perut mulai keroncongan. Padahal sudah tahu kalau beberapa jam lagi bakal makan banyak.

Makanya, pas disajikan makanan ini dan itu (lebih dari 10 menu), saya jadi cepat merasa kenyang. Rasanya enggak kuat menghabiskan sajian di hadapan saya. Tapi di sisi lain, saya malah ngerasa sayang banget kalau enggak disantap sampai habis. Hahaha. Saat piring di depan saya sudah kosong dan perut hendak beristirahat sejenak dari serangan berbagai santapan lezat, eh enggak seberapa lama pramusaji mengangkat piring kosong dan menggantinya dengan sepiring makanan lainnya. “Hah, ada lagi?” celetuk saya yang hampir food coma. ?

Nah, kalau penasaran dengan beragam pilihan menu racikan Chef Halat yang bisa dinikmati, tunggu tulisan saya selanjutnya, ya. ?


Jangan ragu keluar kocek banyak, rasakan sendiri sensasi bersantap di restoran fine dining.

*) Tulisan ini pernah dipublikasikan di Kompas.com dengan judul “”Suguhan Klasik Sekaligus Modern di Resto “Fine Dining” Singapura dan Menikmati Fine Dining di Curate Tanpa Takut Terintimidasi.

ARTIKEL KULINER LAINNYA:

1. Kuliner yang Bikin Nagih di Bali: Sate Babi Bawah Pohon!
2. Sore-sore Ngemil Pempek Bangka di Depan Bangunan Kosong di Jalan Muhidin
3. 3 Bakmi Bangka Paling Enak dan Murah Meriah di Bangka
4. Perpaduan Pahit dan Manis Dark Chocolate Cigar, Cokelat Rasa Cerutu Kuba
5. 5 Menu Lezat Karya Chef Benjamin Halat yang Paling Bikin Nagih
6. 6 Pilihan Amuse-Bouches, Hidangan Pembuka Paling Favorit di Restoran CURATE, Singapura
7. 7 Kuliner Semarang yang Bikin Kangen
8. Ada yang Kurang Saat Mencicipi Roti Panggang Telur dan Kopi Tarik Tung Tau
9. Lebih Nikmat Menyantap Bakmi Jowo Mbah Gito di Kala Malam
10. Belum ke Yogyakarta Kalau Belum Mampir ke The House of Raminten
11. Waroeng Kaligarong, Kuliner Semarang Spesialis Bebek Goreng Sambal Mangga Muda

Sintia Astarina

Sintia Astarina

A flâneur with passion for books, writing, and traveling. I always have a natural curiosity for words and nature. Good weather, tasty food, and cuddling are some of my favorite things. How about yours?

More about Sintia > 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *