10 Foto Pemandangan Pagi Hari yang Bikin Kangen Traveling

pemandangan pagi hari

10 Foto Pemandangan Pagi Hari yang Bikin Kangen Traveling – Ada hal yang lagi saya kangenin banget: jalan-jalan. Kangen rela bangun pagi bukan buat macet-macetan di jalan. Kangen enggak nyari laptop, tapi matahari. Kangen menikmati pemandangan pagi hari seraya memeluk diri sendiri karena kedinginan. Kangen bingung sarapan apa, habis itu lanjut cari makanan lagi di luar entah ke mana. Kangen ngebolang sendiri, nyasar, eh malah ketemu destinasi bagus. Kangen ketemu orang-orang enggak terduga di perjalanan.

Baca juga: Pengalaman Naik Joglosemar Semarang-Yogyakarta

Kangen main ke pasar, ke pantai, ke bukit, ke pedalaman, lupain sinyal ponsel. Kangen pulang malem tanpa khawatir besok mau ngapain, ngerjain apa, bangun jam berapa. Kangen ngobrol sama orang-orang baru enggak dikenal, tiba-tiba dapet cerita baru, lalu dijadiin tulisan di blog. Kangen jalan-jalan. Kangen banget.

Guna sedikit mengobati rasa kangen itu, saya melihat beberapa foto di galeri Instagram yang kebanyakan memang merekam perjalanan saya di berbagai tempat. Saya berharap, saya bisa kembali dipertemukan dengan 10 pemandangan pagi hari di bawah ini, yang bener-bener bikin kangen menjelajah.

1. Di Punthuk Setumbu yang dingin dan basah

Rasanya memang agak aneh kalau bangun pagi pas langit masih gelap, lalu langsung meninggalkan tempat tidur, dan pergi ke sebuah destinasi yang asing. Namun, saya paling enggak bisa nolak kalau diiming-imingi panorama indah di pagi hari di ketinggian, semacam matahari terbit.

Baca juga:Β Berdoa dan Berwisata di Vihara Boen San Bio

Dingin, kabut, sinar matahari, dan semua hal menarik lainnya yang bersarang di kepala, selalu menjadi penyemangat saya untuk menikmati pemandangan pagi hari. Biar masih ngantuk, muka bantal, atau tubuh masih menyesuaikan diri untuk beraktivitas berat, semua terbayar dengan hal-hal yang bikin adem mata. Seperti halnya ketika mengunjungi Punthuk Setumbu, that was magical.

2. Masih di Punthuk Setumbu, pemandangannya bikin enggak pengin pulang ke kota

Kalau di Jakarta, seringnya yang dilihat cuma mobil, motor, pedagang di pinggir jalan, billboard di mana-mana, macet. Rasanya enggak ada ruang kosong lainnya untuk menyematkan hal-hal yang lebih hijau dari pepohonan, hal-hal lain yang lebih biru selain langit. Makanya, kalau butuh melepas penat, Yogyakarta selalu jadi salah satu tempat pelarian saya. Mau berapa kali pun ke tempat ini juga enggak ada bosan-bosannya.

Baca juga: Mengantar Matahari di Parangtritis

Jika saat ini kamu sedang berada di Yogyakarta dan sekitarnya, atau berencana singgah sejenak ke kota pelajar ini, jangan lupa meninggalkan jejak kaki di Punthuk Setumbu. Habis dari tempat ini, mampirlah juga ke Hutan Pinus Mangunan dan Gereja Ayam. Lalu, datanglah juga ke Candi Borobudur kalau belum pernah ke sana.

3. Berkeliling sambil bersepeda di area tambak, enggak jauh dari rumah kakek-nenek di Sungailiat, Bangka

Kami enggak akan pernah tahu ada tempat bagus ini kalau enggak diajak jalan keluar pagi-pagi. Enggak peduli masih pakai baju tidur, rambut terurai acak-acakan, muka bantal, menguap berkali-kali. Udara yang sejuk, sihir alam yang memanjakan mata, semua bisa didapat di sini.

Sedikit cerita. Jadi, sebenarnya di belakang rumah kakek-nenek ada semacam tambak gitu. Katanya kalau lagi musim hujan, suka ada buaya yang muncul dari sana. πŸ™ Tapi untungnya waktu itu cuaca lagi cerah banget, sih, dan sama sekali enggak kepikiran bakalan ada buaya muncul di sana. Jadi, santai-santai saja. Hehehe.

Di sekitar tambak ini bisa banget dijadiin area untuk bersepeda, jogging, atau jalan-jalan pagi.

4. Jalan-jalan pagi, menghirup udara pagi, menikmati matahari. Masih di Sungailiat, Bangka

Nah, kalau ini adalah jalan pulang ke rumah dari tambak tadi. Oh ya, enggak jauh dari tambak, ada tempat pembuatan batu bata atau batako gitu (maaf, lupa). Pernah suatu kali lewat di sana dan ada yang lagi kerja pagi-pagi.

Baca juga: Mampir ke Belinyu, Jalan-jalan ke Mana Saja?

Saya jadi sadar, kadang saya menemukan tempat-tempat enggak terduga. Daftar destinasi wajib dikunjungi yang selama ini saya cari di internet ternyata enggak lengkap. Mungkin itulah kenapa orang-orang makin senang mengeksplorasi tempat-tempat baru. Kayak di tambak ini, yang sebenarnya bukan tourist attraction, tapi tetap menarik buat saya.

5. Menuju salah satu perkebunan teh di Bandung. Serunya, naik jeep ramai-ramai!

Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan untuk meliput proses pembuatan salah satu minuman teh kemasan dalam botol di Bandung. Di sini, saya diajak langsung pergi ke perkebunan teh, tempat para pekerja memetik daun teh. Saya juga belajar bagaimana memetik daun teh langsung dan ternyata seru juga.

Baca juga: 5 Kegiatan Seru yang Bisa Dilakukan di Perkebunan Teh

Oh ya, saya juga pergi pabriknya dan melihat bagaimana proses pembuatan teh. Selain mendapat ilmu baru, hati juga seneng banget bisa ketemu pemandangan super hijau kayak gini.

6. Pantai Tanjung Pesona yang biru memesona

Kalau ditanya lebih suka gunung atau pantai, saya paling kesulitan menjawabnya. Soalnya sama-sama suka. Apalagi kalau pemandangan pagi hari di pantai kayak gini. Tapi intinya, segala sesuatu yang berwarna biru dan hijau di alam mampu memenangkan hati saya dengan begitu mudahnya.

Sedikit soal foto di atas, ini di Pantai Tanjung Pesona, Bangka. Kalau pulang ke Bangka, satu tempat yang pasti dikunjungi adalah pantai. Beneran, deh. Saya sampai bosan sendiri kalau diajak ke pantai terus, apalagi yang pantainya udah pernah dikunjungi.

Baca juga: Sore-sore Ngemil Pempek Bangka di Depan Bangunan Kosong di Jalan Muhidin

Contohnya, Pantai Tikus, Pantai Matras, atau Pantai Rambak. Padahal, Bangka punya tempat-tempat lain yang enggak kalah bagus. Danau Kaolin, misalnya. Udah lama banget pengin ke situ, tapi belum kesampean terus.

7. Pengalaman enggak terlupakan ketika live in di desa Kenalan, Kulonprogo, Yogyakarta

Di balik foto ini, ada ingatan di tahun 2013 yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup, yakni pengalaman live in yang begitu menggugah hati saya. Singkat cerita, saya tinggal tiga hari lamanya bersama keluarga baru yang bikin saya semakin mengenal Tuhan.

Suatu malam, saya diajak berdoa bersama di depan salib kecil, lalu tiba-tiba wajah saya menghangat karena air mata yang tidak bisa berhenti mengalir. Selesai berdoa, tubuh saya dipeluk dengan erat dan saya masih sesenggukkan.

Ada alasan yang tidak bisa saya ceritakan mengapa. Saya hanya merasa begitu diterima di keluarga baru itu. Saya merasa apa yang selama ini hilang dari hidup saya bertahun-tahun lamanya, tiba-tiba bisa saya dapatkan hanya dalam satu malam saja.

Baca juga: Menguntit Jejak Katolik di Museum Misi Muntilan

Bertahun-tahun setelahnya, saya bersyukur bahwa komunikasi tetap terjalin. Selepas live in, saya kembali mengunjungi mereka dua kali. Bila ada kesempatan, tentu akan ada kunjungan-kunjungan lain.

Foto di atas adalah kunjungan pertama setelah live in. Hidup di tempat yang minim sinyal ini, semakin menyadarkan saya betapa pentingnya kebersamaan, pertemuan-pertemuan langsung dengan orang baru, juga kecilnya kita sebagai manusia.

8. Mampir ke Tebing Keraton, Bandung

Bandung juga merupakan tempat yang menyenangkan untuk menikmati pemandangan pagi hari, juga bersantai sambil menghabiskan waktu. Waktu itu, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk mampir ke Tebing Keraton, yang pada waktu itu lagi ngehits karena view-nya yang Instagrammable banget.

Setelahnya, saya menyambangi Armor Kopi dan sarapan di sana. Teh susu hangat, pisang goreng coklat keju, dan cireng jadi teman obrolan yang hangat. Dear God, please take me back there soon.

9. Baduy, pertama kalinya jalan kaki 8 jam lamanya.

Baduy and its traditional house. β›… #lostandjourney #explorebaduy

A post shared by Sintia Astarina (@sintiaastarina) on

Kalau bukan gara-gara Tugas Akhir mata kuliah Komunikasi Antarbudaya, saya dan tiga teman lainnya enggak akan pernah pergi ke Baduy. Saya enggak berani membayangkan gimana capeknya nanti berjalan sejauh 8km, berjam-jam lamanya. Saya masih ingat betapa minimnya pengetahuan saya soal tempat ini. Menjelajah Baduy Luar dan Baduy Dalam pun hanya dibekali persiapan singkat. Yang penting berangkat. Duh… bikin kangen traveling, deh!

Baca juga: Kelahiran, Pernikahan, dan Kematian ala Baduy Dalam

Akan tetapi, ternyata Baduy memang worth to visit. Pas kami ke sana, jalanan lagi becek banget dan emang lagi sering turun hujan. Mau enggak mau kami harus ekstra hati-hati saat menempuh medan yang licin, berbatuan, serba tanjakan, dan turunan.

Beruntung, rasa lelah dan kengerian kami terbayar akan pengalaman tak terlupakan. Meski capek banget, tapi pas sampai rumah malah jadi pengin pergi ke sana lagi.

10. Siapa bilang Jakarta enggak bisa jadi salah satu tempat menikmati pemandangan pagi hari?

.

A post shared by Sintia Astarina (@sintiaastarina) on

I do love Jakarta, but I hate this city as well. Akhir-akhir ini, saya rutin menuju Jakarta lagi. Biasanya, jam 6 sudah berangkat dari rumah supaya enggak telat sampai di tempat tujuan. Kalau sudah terjebak macet, terkhusus di hari Senin, saya berangkat lebih pagi lagi. Untuk menghindari antrean kendaraan yang menumpuk, biasanya saya lewat flyover.

Enggak disangka, pemandangan dari jalan layang bisa bikin suasana hati jadi lebih baik. Melihat gedung-gedung yang tinggi, disorot cahaya matahari, dan seterusnya. Itulah kenapa saya bilang, saya cinta dengan kota ini, tapi dalam waktu bersamaan, saya juga membencinya. Seolah ingin melakukan pelarian, jauh-jauh dari kota ini, jika bisa.

Setelah melihat 10 foto pemandangan pagi hari di atas nyatanya memang bikin saya (dan mungkin juga kamu ) ingin untuk terus melangkah menjelajah, dan mencari. Ada banyak banget tempat yang ingin saya kunjungi di Indonesia. Sumba, Toraja, Belitung, wah enggak akan cukup kalau disebut satu-satu. Hopefully I’m able to make time for it.

Kalau kamu, ingin menjelajah ke mana lagi?

XOXO, logo

4 comments

  1. Bener-bener bikin kangen travelling mba, semua fotonya keren-keren. Apalagi yang awal-awal, saya suka, lebih terasa β€œpagi”nya. Ohya, saya penasaran bgt sama Baduy. Apalagi Baduy Dalam. hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *