Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks

fun facts bookstagram sintiawithbooks

Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks – Kalau teman-teman masih ingat, saya pernah membuat caption pada salah satu foto di Bookstagram saya, @sintiawithbooks yang isinya, saya ingin membuat tulisan Q&A soal buku, Bookstagram, dan hal-hal lain yang berkaitan.

Lalu, dibuatlah draft ini dan nyatanya baru selesai empat bulan kemudian. Hahaha. Ada banyak faktor yang membuat saya lama sekali mengerjakan tulisan ini. Yang paling utama ialah karena saya kesulitan menyediakan waktu untuk menyelesaikan tulisan ini lantaran diserbu aktivitas-aktivitas lain yang enggak kalah pentingnya.

However, akhirnya tulisan Q&A ini jadi juga. Terima kasih kasih untuk teman-teman Bookstagrammers yang sudah melontarkan pertanyaan atas rasa penasaran kalian. Hehehe. Semoga membantu untuk mengembangkan Bookstagram kalian, ya!


Β 1.Β @hanabookreview: Pakai kamera apa? Aplikasi editingnya apa?

Hi, Hana! Aku pakai kamera Canon 60D. Aplikasi editing yang dipakai juga macam-macam. Biasanya, untuk aplikasi filter aku pakai VSCO dan filter dari Instagram sendiri. Untuk mengatur brightness dan hal-hal penunjang lainnya, aku pakai Snapseed dan juga Instagram.

Oh ya, aku juga pakai Photoshop untuk foto-foto yang perlu banyak editan, misalnya menghapus dan mengganti background putih dengan gambar lembaran buku, menambah elemen-elemen kreatif lain, dan sebagainya.

Lalu untuk Insta Stories, kadang-kadang pakai PhotoGrid dan Phonto. Mostly, PhotoGrid untuk mengubah rasio menjadi 16:9, juga memperbesar atau memperkecil gambar. Kalau Phonto untuk nambahin tulisan dengan beragam font kreatif (tapi yang ini udah jarang dipakai sih, soalnya InstaStories udah bisa ganti-ganti font style juga).

2.Β @editanainggolan39: Kenapa nyusun bukunya dibalik? πŸ˜…

Biar enggak bosen aja sih, sebenernya. Soalnya kemarin-kemarin kan udah nyusun buku sesuai nama pengarang, nama penerbit, seri, dan lain-lain. Alhasil kelihatannya jadi random banget ngatur buku-bukunya. Terus, aku coba nyusun buku dengan menampilkan fore edge (kebalikannya book spines atau tulang buku) dan ternyata tampilannya jadi eye-catchy dan artistik banget.

Namun ternyata, menyusun buku dibalik kayak gitu agak menyulitkan kalau mau mencari buku untuk dibaca. Harus dibalik lagi satu-satu sampai ketemu buku yang dicari. That’s why I gave up on that arrangement.

Akhirnya, kembali lagi ke tampilan rainbow bookshelf, menyusun buku seperti warna-warna pelangi. Tampilan ini selalu menjadi yang terfavorit karena lebih menyegarkan mata (apalagi rak bukuku ada di depan kasur persis, jadi pas bangun tidur langsung happy ngelihat rak buku), juga warna-warnanya terkoordinasi dengan baik.

3. @sharaazzharaaa: Pertama kali jatuh cinta sama buku apa kaaa? 😁

Hi, Shara! Sejujurnya aku enggak terlalu ingat pertama kali jatuh cinta ketika membaca buku apa, tapi dulu awalnya membaca itu dari komik. Mungkin pernah baca Nakayoshi, Cherry, sama Doraemon? Nah, aku suka. Tapi yang paling favorit adalah Hai, Miiko!, sama Yu Me No Crayon Kingdom! Sampai sekarang masih ngoleksi komik Miiko dan masih cari Yu Me No Crayon Kingdom vol. 2 karena punyaku hilang entah ke mana. πŸ™

Setelah era komik, aku mulai baca novel karena ketularan temen-temen sekolah. Aku sadar kalau semakin lama semakin aku harus meng-upgrade bacaan aku. Dulu baca komik, lalu baca novel teenlit, kemudian mulai baca novel young adult, novel-novel berat, sampai buku-buku berbahasa Inggris.

4.Β @keeptrianif: Kak Sintia lebih suka buku genre apa?

Aku sering banget dapet pertanyaan ini dan aku selalu jawab genre favorit aku adalah romance fiction. Mungkin ini gara-gara masa sekolahku dipenuhi oleh novel-novel teenlit yang bikin pembacanya berimajinasi sendiri soal kisah cinta (terutama cinta monyet). Hehehe. Aku juga menganggap bahwa genre ini menarik banget untuk dieksplorasi karena berkaitan dengan cerita sehari-hari.

Bahkan, aku pun juga suka banget nonton film bergenre romance karena aku bisa merasakan feel para tokohnya secara langsung.

Nah, penulis romance fiction kesukaanku adalah Windry Ramadhina. Sementara untuk film, aku suka karya adaptasi dari novel-novelnya Nicholas Sparks.

5. @helloitsara: Beli lemari di mana?

Hi, Sara. Aku enggak beli lemari ini, tapi bikin. Jadinya aku bisa customize sendiri lemari yang aku mau buat buku-bukuku, mulai dari ukuran sampai warnanya.

Nah, aku tuh sering banget lihat rak buku berwarna putih di Bookstagram dan lama-kelamaan jadi naksir. Dulu aku belum punya rak buku yang besar dan kenapa aku butuh rak sendiri karena makin lama bukuku makin banyak. Tapi, setelah rak bukunya jadi, aku ngerasa tetap aja nggak cukup. Hahaha. Pasti gara-gara kebiasaan aku yang suka menimbun banyak buku, deh. :p

Oh ya, kamu bisa baca tulisanku selengkapnya soal rak buku ini di artikel Rainbow Bookshelf, ya.

6.Β @darreading: pas awal memulai bookstagram, yang dilakuin apa kak?

Aku mulai follow Bookstagrammers asal Indonesia yang dulu jumlahnya masih sedikit banget. Belum kayak sekarang yang mana temen-temen udah mulai berani dan makin rajin untuk posting konten reguler yang berkaitan dengan buku. Aku juga follow akun-akun luar yang kontennya aku suka. Lalu, jangan segan buat minta follow back atau spam likes. Hehehe.

Fortunately, mostly Bookstagrammers pada mau follow balik, kok. Memang sih kadang ada beberapa yang menolak untuk follow balik dengan alasan mereka memang cuma follow akun yang disukai aja. Kalau dapat respon kayak gitu, akan lebih baik kalau kamu enggak follow for unfollow.

Maksudnya, kamu udah follow banyak akun demi meningkatkan jumlah followers. Lalu, begitu mereka follow kamu balik, kamu malah unfollow mereka. Di dunia Bookstagram, kami sering menyebutnya rude atau impolite.

So, pastiin kalau kamu memang mem-follow akun-akun yang benar-benar disuka. Jadi enggak asal follow cuma buat nambah-nambahin followers aja.

Habis itu, mesti rajin posting secara reguler, sih, biar feed kita keisi. Nah, yang paling penting adalah kita harus tetap menjaga kualitas konten kita karena followers dan engagement akan datang dengan sendirinya kalau mereka suka dengan akun kita.

7. @shelbyzakaria: aku mau nanya soal blog boleh kak?πŸ˜‚ pengen tahu gimana sih caranya kak sintia nge-design blog jadi rapi banget? semoga dijawab hehe thankyou kak! love your blog!

Hi, Shelby! Terima kasih sudah mampir ke blog-ku. Sebenarnya untuk urusan desain blog, aku pakai template yang udah ada, lalu tinggal dimodifikasi aja sesuai preferensi. Aku sering liat blog orang lain juga untuk ngedapetin inspirasi, soalnya di luar sana ada banyak banget blog yang lebih rapi dan lebih bagus dari punyaku.

Aku suka putih dan warna ini aku pakai di blog karena bisa menimbulkan kesan bersih dan sederhana. Aku enggak pengin yang macem-macem di blog, sih, jadi aku desain sesuka dan senyaman aku aja.

8. @everlastingbookworm: Gimana caranya mengatasi buku-buku yang menguning? 😯

Nah, ini masalah yang nyebelin banget. Kalau soal buku, pasti kusayang-sayang banget. Mungkin kamu juga demikian. Untuk mencegah atau mengatasi buku menjadi menguning, aku anggak punya tips khusus sebenarnya.

Hanya saja, biasanya aku meletakkan buku-bukuku di tempat yang bersih, enggak terkena sinar matahari secara langsung, menyusun buku dengan rapi, dan kalau bisa menyampul buku juga. Enggak lupa, rak buku rajin dibersihkan soalnya sering banget banyak debu yang menempel.

9.Β @bookish.sya: Buku-buku apa yang bikin nangis pas membacanya?

Kalau ada hal atau adegan yang mellow di buku, sejujurnya aku gampang banget nangis. LOL! Seringnya pas baca buku romance, sih. Beberapa contoh yang aku ingat ada Interlude – Windry Ramadhina, Perahu Kertas – Dee Lestari, A Walk to Remember – Nicholas Sparks, dan buku-bukunya Ilana Tan.

Anyway, gara-gara kamu nanyain hal ini, aku jadi sadar kalau aku sudah lama banget enggak baca buku-buku romantis sedih yang bikin nangis. Sekarang lebih sering baca buku puisi atau buku-buku lain yang jumlah halamannya enggak sebanyak novel kebanyakan.

10.Β @tifanyclaudya: 5 buku dalam dan luar negeri yang paling disukai apa, Kak?

Wah, susah banget kalau disuruh milih buku-buku yang paling disukai, soalnya ada banyak banget buku bagus yang menarik perhatianku. Aku coba list yang aku ingat, ya (bukan berdasarkan ranking).

Buku lokal yang aku suka:

1. Dealova – Dyan Nuranindya. Novel zaman SMA yang jadi patokan aku untuk menulis novel sendiri.

2. Interlude – Windry Ramadhina. Menurutku, salah satu penulis lokal favoritku ini selalu berhasil membuat cerita yang manis. Plus, aku jatuh cinta dengan gaya bertutur Mba Windry.

3.Β Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi – Eka Kurniawan.Β  Ide-ide gilanya memacu penulis lain untuk semakin berani dan kreatif dalam berekspresi.

4. Perahu Kertas – Dee Lestari. Satu hal penting yang aku pelajari dari karya ini ialah bagaimana mengaduk-aduk emosi pembaca lewat kisah cinta yang tarik-ulur.

5. Na Willa – Reda Gaudiamo. Ini buku anak-anak yang unik banget. Kamu seperti akan diingatkan kembali akan kenangan masa kecil karena buku ini akan mengantar pembacanya ke masa lalu lewat sudut pandang seorang anak kecil.

Buku luar yang aku suka:

1. We Should All be Feminists – Chimamanda Ngozi Adichie. Buku ini bikin aku percaya bahwa para perempuan juga bisa setara dengan laki-laki. Juga, ada banyak banget hal yang mendorong perempuan guna mendobrak stigma patriarki.

2. Milk and Honey – Rupi Kaur. Penulis muda keturunan India-Kanada ini memang jago banget merangkai kata dan makna.

3.Β  A Walk to Remember – Nicholas Sparks. Seringnya menonton karya adaptasi penulis ini dan novel karangannya inilah yang pertama kali aku baca. Ternyata bagus.

4. The Little Prince – Antoine de Saint-ExupΓ©ry. Buku yang satu ini membuat para pembacanya berpikir ulang akan makna hidup dan apa yang sudah dilakukannya selama ini di dunia.

5. Love & Misadventure – Lang Leav. Ini poet yang bikin aku kepengin bikin buku puisi sendiri.

11.Β @womomfey: Mana yg lebih mengasyikkan? Jadi book-blogger stay bookstagrammer?

Well, hard question, tho. Dua-duanya sama-sama asyik, soalnya masing-masing platform punya keunggulannya sendiri.

Misalnya, kalau jadi book blogger, aku bisa lebih banyak menuangkan pikiranku lewat foto dan tulisan yang lebih panjang. Aku juga bisa ketemu book blogger lainnya yang ternyata rajin banget bikin konten-konten bermanfaat. Aku ngerasa seneng banget karena ternyata ada banyak banget lho, yang suka membaca dan mengulas buku.

Kalau Bookstagrammer, aku dituntut untuk lebih kreatif dalam menghasilkan book photography. Jadi Bookstagrammer banyak tantangannya, misalnya kita harus terus aktif bikin konten yang memikat supaya engagement-nya tinggi. Kita juga harus aktif berinteraksi dengan Bookstagrammer lainnya soalnya ngobrolin buku sama mereka pasti seru banget dan enggak ada habisnya.

Namun, kalau diharuskan memilih, untuk saat ini jadi Bookstagrammer lebih seru.

12.Β @abriany_:Β Pernah jenuh atau lelah sama buku?

Kalau untuk urusan ini, wah jangan ditanya. Aku rasa setiap orang yang gemar baca buku pasti pernah ngerasa suntuk, jenuh, malas banget menghabiskan buku yang sedang dibaca.

Makanya enggak heran kalau aku lebih suka menimbun buku ketimbang membacanya. Kalau masuk ke kamarku dan melihat raku bukuku, nanti bakal aku tunjukkin buku mana aja yang belum aku baca karena lebih banyak ketimbang yang sudah dibaca. :p

Memang, aku emang enggak memaksa atau mewajibkan diri untuk membaca buku terus-terusan karena bisa bosan. Aku biasanya alihin ke hal-hal lain yang aku suka, seperti menulis, tidur, mendengarkan musik, tidur, atau lihat-lihat feed Instagram lain.

Kalau sudah, baru deh PDKT sama buku lagi. Namun memang alangkah lebih baik enggak dibiasakan untuk jauh-jauh dari buku dalam waktu yang lama.

13.Β @banal.girl: Kenapa kamu coba buat Bookstagramming?

Aku hanya sangat menggemari buku dan kepengin banget ajak teman-teman lain, khususnya di kota dan negaraku, untuk semakin aktif membaca. Jadi, harapanku, Bookstagram @sintiawithbooks bisa jadi kampanye aktif dan berkelanjutan untuk semakin meningkatkan kegemaran membaca.

Soalnya, aku salut banget sama Bookstagrammer luar yang sangat suka membaca. Bacaan mereka pun beragam dan yang pasti, koleksi buku atau merch yang mereka punya beneran bikin iri penggemar buku lainnya, deh. Mereka sangat menginspirasi aku untuk membuat Bookstagram dan menceburkan diri ke komunitas yang sangat luar biasa ini.

14.Β @banal.girl: Apa buku terburuk dan terbaik yang pernah dibaca?

Hmm… untuk buku terburuk, aku enggak bisa menyebutkan judulnya karena seburuk-buruknya suatu buku, menurutku itu perlu diapresiasi. Membuat buku itu enggak mudah. Prosesnya sangat panjang. Bahkan, buku yang dianggap bagus saja masing sering dicari celahnya untuk diberikan kritik pedas dan dicari kekurangannya.

Sebaliknya, untuk buku terbaik, aku belum benar-benar menemukan buku terbaik karena aku merasa belum sanggup membaca buku yang beraneka ragam. Kalau aku search di Google β€œbest books to read”, seringnya aku menemukan buku-buku yang memang belum pernah aku baca atau penulis-penulis yang belum kukenal. Jadi, untuk saat ini, aku masih dalam pencarian menemukan buku terbaik versiku sendiri.

15.Β @iffahaiman:Β Boleh nggak nulis book review untuk setiap buku yang dibaca di 2018 ini? Itu bakalan ngebantu orang-orang (kayak aku) buat milih buku.

Hi, there!Β Terima kasih untuk masukannya. Ini adalah impianku untuk bisa menulis ulasan buku di blog sendiri. Bahkan, aku udah punya beberapa draft soal book review, tapi seringnya malah aku anggurin gara-gara keasyikan bikin tulisan yang lain.

Tapi, jangan khawatir, akan sangat-sangat aku pertimbangkan dan aku prioritaskan untuk yang satu ini because I’d very love to!


Any Other Questions?

Kalau di otakmu masih punya banyak pertanyaan yang belum terjawab, jangan ragu untuk bertanya langsung, ya! Kamu bisa tulis di kolom komentar Bookstagram atau pada post ini. Aku bakalan seneng banget dapet pertanyaan dari teman-teman semua.

Anyway, Happy Bookstagramming!

XOXO, logo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *