Kenapa Membaca Buku Puisi dan Pertanyaan-Pertanyaan Lainnya

Jul 17, 2021

Kenapa Membaca Buku Puisi dan Pertanyaan-Pertanyaan Lainnya – Kalau diminta saran atau rekomendasi buku, yang terlintas pertama kali di benak pasti beberapa judul buku puisi yang saya suka. Namun, sepertinya saya nggak pernah cerita lengkap kenapa puisi bisa menjadi salah satu bagian terpenting dalam perjalanan membaca saya. Pun, bagaimana puisi bisa membantu saya untuk mengenali diri lebih jauh.

Apa yang akan kamu baca berikut ini akan memakan waktumu selama bermenit-menit. Jadi, saya berharap semoga kamu betah dengan kisah perjalanan membaca buku puisi ini, ya.

Bagaimana Awal Mula Jatuh Cinta Pada Puisi?

Sejujurnya, saya tipe yang sulit banget menulis tulisan pendek. Kalau diminta membuat cerpen sepanjang 3 halaman, pasti saya kasih 2-3 kali lipatnya. Rasanya kayak apa yang ada di kepala pengin banget gitu dituangin ke atas kertas.

Sampai suatu ketika, entah gimana mula pastinya, saya jadi coba-coba menulis puisi, bentuk tulisan yang jauh lebih pendek. Pas duduk di bangku sekolah, pernah ikut lomba puisi mewakili kelas dan ternyata dapat Juara 1. Dan inget banget deh, zaman dulu pas masih suka ke warnet dekat rumah setiap Sabtu, saya sering kirim puisi untuk ditampilkan di laman salah satu penerbit. Kalau nggak salah, beberapa tulisan sempat dimuat.

Dan oh, yang paling menarik dari kisah menulis puisi, beberapa kali saya membuat puisi dan mengirimkannya ke Tabloid Gaul yang saat ini sudah nggak terbit lagi. Wah, senengnya bukan main pas tahu ada wesel pos dateng ke rumah, yang ternyata adalah honor dimuatnya puisi saya (meski sejujurnya saya nggak pernah lihat puisi saya dimuat, padahal saya selalu beli tabloid ini tiap minggu).

Waktu itu honor yang saya dapat untuk satu puisi sebesar Rp50.000 dan saya hanya bisa mencairkannya di kantor pos. Bisa dibilang ini gaji pertama saya dalam hidup, hasil dari menulis.

Semakin ke sini, saya semakin “iseng” menulis puisi ini-itu, dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Ada yang saya tulis di catatan harian, ada yang saya publikasikan di blog khusus, ada juga yang saya simpan entah di mana.

Pernah kirimin naskah buku puisi ke salah satu penerbit, tapi sayangnya ditolak. Yaa … mungkin memang belum berjodoh, atau sebenarnya saya lebih ditakdirkan sebagai pembaca buku puisi?


Kok, Bisa “Terjebak” dalam Genre Puisi?

Kini, di tengah kesibukan bekerja full time yang padatnya ampun-ampunan, saya ngerasa buku puisi yang kalimatnya lebih pendek dan halamannya relatif tipis, bisa menjadi penyelemat saya yang nggak punya banyak waktu dan energi untuk membaca buku panjang. Plus, penyelamat bagi saya yang kegiatan membacanya nggak pengin putus.

Akhirnya, saya menjebakan diri saya ke dalam lingkaran puisi selama bertahun-tahun dan ternyata … saya dibikin nyaman. If poetry was a human maybe I would marry him.

Dari satu genre ini saja, saya mengalami evolusi bacaan yang baru saya sadari ketika membuat tulisan ini. Iya ya, dulu saya suka banget puisi cinta-cintaan dengan kalimat gamblang, pasti rasanya nyesss gimanaaa gitu pas bacanya. Bikin mesem-mesen sendiri.

Semakin saya membaca buku puisi, semakin saya penasaran dengan buku puisi lainnya. Boleh diakui, saya nikmatin banget ketika penyair  membahas topik soal perempuan dan feminisme, patriarki, motherhood, lingkungan, norma dan konstruksi sosial, pengungsi, dan banyak lainnya.

Saya juga coba eksplorasi bentuk-bentuk puisi lainnya. Bukan cuma puisi dengan ragam tipografi atau puisi dengan ilustrasi, melainkan spoken-word poetry.

Kalau di Ubud Writers & Readers Festival, biasanya sering ada Poetry Slam, yang mana seseorang berdiri di panggung dan mempertunjukkan puisi mereka dalam bahasa lisan. Kalau di YouTube, biasanya saya sering nonton channel Button Poetry. Atau kalau di Jakarta, ada yang namanya Paviliun Puisi.


Bagaimana Pengalaman Membaca Buku Puisi?

Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu

Meski buku puisi terbilang lebih pendek dan nggak terlalu tebal, hey, jangan berpikir kalau membaca puisi bisa selamanya mudah. Nggak jarang saya sering diam dan otak berpikir lebih keras ketika membaca baris demi baris yang “Weladalahhh … iki ngomongin opo, toh? 😂

Asli deh, kalau udah ketemu puisi yang sulit sekali dicerna, rasanya bakal uring-uringan sendiri. Apalagi saya percaya pasti banyak penyair yang suka overthinking. Untungnya saya juga tipe yang suka mikir (sampai hal nggak penting sekalipun aja saya pikirin hahaha). Kalau nggak, I might be waving goodbye to poetry.

Memangnya, kesulitan apa, sih, yang dirasakan saat membaca buku puisi? Berdasarkan pengalaman, saya mencoba membaginya berdasarkan tiga tujuan, yakni entertainment, empowerment, juga education dan knowledge.

1. Tujuan: Entertainment

  • Pengalaman membaca: senang bisa nemuin buku puisi yang “relatable“, yang biasanya saya temukan pada puisi bertema love & relationship.
  • Alasan:
    • Temanya ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin pernah mengalami atau berharap akan mengalami versi indahnya.
    • Kata-katanya mudah dipahami sehingga nggak butuh effort lebih untuk lebih paham.
  • Yang dirasakan saat atau setelah baca:
    • Berbunga-bunga kayak lagi jatuh cinta. Hahaha apaan, deh.
    • Merasa dimengerti, dipahami, didengarkan, dihargai, juga diperhatikan (meski hanya lewat tulisan).
    • Merasa terhibur, tapi nggak kepengin melakukan aksi lebih jauh.
  • Yang dilakukan setelahnya:
    • Seusai membaca, saya pasti spontan mendekap erat bukunya di depan dada saking terenyuhnya.
    • Memburu buku serupa lainnya, entah dari penulis yang sama atau berbeda.
    • Berterima kasih ke penulis karena sudah menyuarakan isi hati terdalam.

2. Tujuan: Empowerment

  • Pengalaman membaca: merasa berapi-api karena nemuin buku puisi yang bikin “gemas”, yang temanya nggak jauh-jauh dari womanhood atau motherhood, feminisme, atau konstruksi sosial. Biasanya buku puisi ini ditulis oleh perempuan dan poet of color.
  • Alasan:
    • Senang bisa nemuin penyair (terutama penyair perempuan) yang sefrekuensi. Apalagi jika puisinya berusaha mendobrak sistem, patriarki, juga norma dan konstruksi sosial.
    • Temanya sangat lekat dengan keseharian.
    • Nggak perlu kata-kata mendayu. Kalimat sederhana saja bisa diumpamakan seperti mutiara. “Bahkan saat belum diasah, kata-katanya sudah berkilau,” meminjam kata Ni Made Purnama Sari.
  • Yang dirasakan saat atau setelah baca:
    • Marah, gemes, bingung mau ngomong apa. Untuk puisi yang sampai menyentuh hati, saya bisa tiba-tiba dibikin nangis.
    • Makin semangat baca buku puisinya sampai akhir.
    • Auto sayang sama penulisnya. Pengin peluk kalau bisa.
    • Bikin saya ingin melakukan action tertentu, misalnya ikut dalam gerakan yang mendukung sesama perempuam.
  • Yang dilakukan setelahnya:
    • Bikin ulasannya, dong. Harus diwartakan dengan lantang, nih, soalnya semua orang wajib tahu kalau ada buku puisi sekeren ini. HAHAHA.

3. Tujuan: Education & Knowledge

  • Pengalaman membaca: sulit memahami apa yang hendak disampaikan penulis atau menangkap maknanya.
  • Alasan:
    • Kurang relevan dengan kondisi saat ini.
    • Penyair menggunakan diksi atau pilihan kata yang asing. Dalam konteks lokal, ia menggunakan bahasa daerah, kata serapan bahasa daerah, atau mungkin memang kosakata lainnya yang kita belum familiar. Apalagi, bahasa Indonesia punya beragam kata indah.
  • Yang dirasakan saat atau setelah baca:
    • Kening berkerut dan mata mengernyit. Saya membalik halaman begitu saja, berharap menemukan puisi lain yang lebih mudah masuk ke otak. Lalu mulai uring-uringan kalau puisi lainnya ternyata sama saja.
    • Mulai merasa “Kayaknya gue salah milik buku puisi, nih” atau “Duh, memahami diri sendiri aja susah, apalagi isi kepala/perasaan si penyair?” WKWKWK. 😂
    • Kalau tetap maksa baca bukunya, yang ada mood jadi drop dan kepengin beralih ke buku lain.
  • Yang dilakukan setelahnya:
    • Baca pelan-pelan dan perhatikan konteks secara utuh, bukan cuma arti kata per kata.
      Baca lebih dari satu kali agar perasaan dan makna bisa lebih tergali.
    • Mencari artikel, tulisan, rujukan sumber lain di berbagai media untuk melengkapi pemahaman.
    • Mencari perspektif tambahan dari resensi orang lain.
    • Ajak teman diskusi.
    • Bertanya langsung ke editor atau penulisnya.
    • Terus eksplorasi puisi, meningkatkan kemampuan pembacaan, dan menuliskan ulasannya secara berkala.

Belajar Apa dari Baca Buku Puisi?

Selama bertahun-tahun meelwati proses penulisan pembacaan, juga pembuatan ulasan buku puisi, beberapa hal inilah yang saya pelajari.

  1. Menambah perbendaharaan kata. Kalau ketemu kata yang sulit, biasanya saya cari artinya di kamus.
  2. Mempertajam daya kritis dan logis, serta melihat konteks secara lebih menyeluruh.
  3. Meningkatkan kemampuan pembacaan, serta penganalisisan. Sebagai contoh, buku puisi terakhir yang saya baca ialah Rahi(i)m karya Kedung Darma Romansha. Ada satu puisi menarik yang berjudul “Panji Klaras” yang menurut pembacaan saya, terinspirasi dari cerita Panji Laras dan Ayam Jagonya, yang berasal dari Jawa Timur. Menarik banget pas tahu bahwa cerita tersebut direlevansikan di zaman sekarang, salah satunya soal anak yang tumbuh tanpa Ayah.
  4. Rasa penasaran dan ketertarikan akan isu atau hal tertentu ternyata bisa muncul dari buku puisi. Contoh, ketika membaca Mama Menganyam Noken karya Gody Usnaat, saya jadi tertarik dengan keanekaragaman hayati di Papua, budaya, serta pendidikan di daerah Timur.
  5. Tanpa sadar, membaca buku puisi juga bikin saya lebih kreatif dalam permainan kata. Kadang, nggak kepikiran aja gitu, gimana bisa si penyair meramu puisi dengan kalimat sederhana (mungkin hanya beberapa kalimat atau baris), tapi energinya sampai ke hati. Joko Pinurbo nih, masternya.
  6. Belajar mengapresiasi karya-karya dunia. Saya punya mimpi bisa membaca sebanyak-banyaknya buku puisi, baik itu dari para penyair dunia, penyair lokal, karya terbitan lama, baru, apa pun itu! 😀
  7. Melatih untuk asah imajinasi dan perasaan.
  8. Semakin membaca, semakin saya bisa memahami diri sendiri. Setelah “terjebak” dalam zona nyaman ini, saya jadi tahu siapa penyair yang saya suka dan kurang suka, siapa yang karyanya layak dinantikan, mana buku puisi yang wajib dapat bintang 5 dan dibaca ulang, dan sebagainya.

Apakah Berencana Membaca Genre di Luar Puisi?

Menggemari buku puisi bukan berarti saya nggak baca genre lainnya. Dalam perjalanan dan proses saya membaca, saya ternyata masih menyukai buku anak-anak, novel/sastra, buku nonfiksi, dan lainnya. Cuman ya, memang level kesenangan dan antusias ketika membacanya berbeda-beda.

Saya nggak tahu pasti ke depannya apakah minat saya akan berubah. But you know, I always feel like poetry is a kind of thing that I will always come home to.


Apa Hal Lain yang Ingin Dieksplorasi dari Puisi?

  1. Saya ingin belajar soal teori-teori puisi agar ketika membuat ulasan suatu buku puisi, saya bisa melihat dari segi teknisnya juga.
  2. Penasaran juga pengin tahu lebih dalam soal found poetry & collaging, blackout poetry, juga teknik pembuatan puisi lainnya. Siapa tahu, puisi-puisi ini memiliki peranan penting dalam mengekspresikan diri dan perasaan.
  3. Ingin belajar menulis puisi kembali (serta memublikasikannya).

Punya Rekomendasi Buku Puisi?

Kenapa Membaca Buku Puisi dan Pertanyaan-Pertanyaan Lainnya

Sebelumnya, saya cuma mau bilang terima kasih karena kamu sudah bertahan membaca tulisan ini, sampai bagian rekomendasi buku puisi. Sebagai hadiah kecil dari saya, berikut beberapa judul buku puisi yang saya sukai. Harapannya, bagi yang baru ingin membaca buku puisi, bisa menemukan kenikmatan yang sama lewat judul-judul di bawah ini.

1. Puisi Lokal

2. Puisi Luar

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya hanya ingin berpesan bahwa nggak ada yang salah dari membaca buku puisi atau genre-genre lainnya yang kita suka. Keberagaman membaca sangat diperlukan, lho! Percaya deh, ketika udah nemuin buku yang “klik” dan pas di hati, niscaya kita nggak pengin beranjak darinya.

Dan ya, selamat mengeksplorasi buku puisi.

Sintia Astarina

Sintia Astarina

A flâneur with passion for books, writing, and traveling. I always have a natural curiosity for words and nature. Good weather, tasty food, and cuddling are some of my favorite things. How about yours?

More about Sintia > 

6 Comments

  1. Hestia

    WAH! Asik sekali membaca pengalamanmu dengan puisi hingga kamu jadi jatuh cinta terhadap puisi 😀

    Reply
  2. Grisselda Nihardja

    Sin, tulisan lo ini sungguh mendorong gue untuk coba buka buku puisi lagi deh.

    Thank you for recommending Michael Faudet btw!
    Tulisannya termasuk sebagai salah satu penulis puisi yang isinya masih bisa gue “cerna” :))

    Reply
    • Sintia Astarina

      HAHA duh jadi kangen baca puisi-puisinya Michael Faudet, deh. 😀

      Reply
  3. danan

    aku sudah lama banget nggak membaca buku fisik , sekarang membaca versi digital semua…

    Reply
    • Sintia Astarina

      Wahh gimana, Kak, rasanya baca buku digital? Aku lagi coba-coba, nih.

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.