[BOOK REVIEW] Teaching My Mother How to Give Birth Karya Warsan Shire

Jun 20, 2021

[BOOK REVIEW] Teaching My Mother How to Give Birth Karya Warsan Shire – Saya percaya bahwa sebuah buku memiliki energi dan jalannya sendiri untuk bisa sampai ke tangan pembaca yang tepat. Saya rasa, buku ini seperti menghampiri saya begitu saja karena saya pun nggak sengaja nemuin Teaching My Mother How to Give Birth ini.

Sebelum membaca buku ini, saya sempat kepikiran dengan dua karya poets of color lainnya, yakni Rupi Kaur dengan Homebody dan Upile Chisala dengan Nectar.

Keduanya mengangkat hal yang begitu personal, termasuk tentang bagaimana rasanya jadi pengungsi di negeri lain, menjadi minoritas yang dihunjam tatapan memilukan, menjadi seorang perempuan yang dibandingkan dengan laki-laki, tentang menjadi diri sendiri tanpa peduli apa kata orang lain.

Warsan Shire dalam bukunya, memaparkan lebih banyak isu nan kompleks, serta fenomena-fenomena di sekitar yang saya pikir nggak eksis, tapi ternyata ada.


Teaching My Mother How to Give Birth Karya Warsan Shire

Judul: Teaching My Mother How to Give Birth
Penulis: Warsan Shire
Penerbit: Flipped Eye
Terbit: Desember 2011
ISBN: 9781905233298

What elevates ‘teaching my mother how to give birth’, what gives the poems their disturbing brilliance, is Warsan Shire’s ability to give simple, beautiful eloquence to the veiled world where sensuality lives in the dominant narrative of Islam; reclaiming the more nuanced truths of earlier times – as in Tayeb Salih’s work – and translating to the realm of lyric the work of the likes of Nawal El Saadawi.

As Rumi said, “Love will find its way through all languages on its own”; in ‘teaching my mother how to give birth’, Warsan’s début pamphlet, we witness the unearthing of a poet who finds her way through all preconceptions to strike the heart directly.


Tentang Perempuan, Keluarga, dan Beda Cara Pandang

“I thought the sea was safer than the land. I want to make love, but my hair smells of war and running and running.”

Teaching My Mother How to Give Birth seolah menjebak saya pada tulisan-tulisan menyayat hati. Pada buku puisi ini, Warsan Shire menekankan banyak tema soal hubungan antara anak dan orangtua, Ayah dan Ibu, kakek dan nenek, atau antara keluarga dari beda generasi.

Hal ini tampak lebih menarik ketika saya menyadari bahwa ia memainkan beragam karakter dalam tulisan-tulisannya. Pembaca pun harus lebih jeli untuk mengenal siapa tokoh utama yang sedang diperankannya.

Meski membaca buku puisi ini dalam bahasa Inggris dan sebenarnya dapat dengan mudah membedakan mana laki-laki (he) dan mana perempuan (she), tetap saja harus jeli mengenali tokoh laki-laki atau tokoh perempuan mana yang dimaksud penyair. Jika salah mengerti, perbedaan interpretasi bisa terjadi.

Warsan Shire juga mengambil sejumput tema lain yang semakin memperkuat isi buku. Sebut saja soal perempuan, kebudayaan, beda sudut pandang antargenerasi, isu pengungsi, serta krisis perang. Itulah mengapa saya katakan bahwa buku ini cukup kompleks.

Secara keseluruhan, puisi-puisinya luar biasa powerful, punya konteks cerita yang khas, serta jujur apa adanya.

Pada Teaching My Mother How to Give Birth pun tersaji kombinasi antara puisi pendek, serta puisi panjang yang lebih mirip fiksi mini.

Bila sebelumnya saya lebih nyaman membaca puisi pendek yang dalam sekali baca bisa dengan mudah diartikan, saya malah merasa tertantang untuk membaca puisi dengan baris yang lebih panjang. Saya bisa menemukan cerita yang lebih utuh dengan konteks yang sebelumnya nggak pernah terpikirkan.

Buku puisi ini mendekatkan saya dengan isu-isu di dunia belahan lain. Pendek saha, 37 halaman. Nggak bikin lelah membacanya. Dan ya, sama seperti poets of color lainnya, Warsan Shire nggak segan menunjukkan identitasnya. Her identity, her true power.


Daftar Puisi dengan Pesan Paling Mengena

Puisi terfavorit bukan semata-mata adalah puisi yang paling mudah dipahami. Saya mencoba membaca tulisan-tulisan Warsan Shire lebih dari sekali, memvalidasi maknanya, dan menganalisis dari sudut pandang sendiri. Seenggaknya, ada 5 puisi dengan pesan paling mengena yang layak masuk dalam daftar terbaik.

1. “Your Mother’s First Kiss”

Ini tentang penyintas pelecehan seksual dengan trauma yang telah jadi bagian hidupnya. Saya dibikin melongo dengan baris puisi yang menyadarkan saya bahwa, ternyata pelecehan seksual juga bisa dilakukan oleh wanita kepada wanita. Akhir puisi ini lebih bikin menganga.

2. “The Kitchen”

Tentang seorang perempuan yang berusaha menyangkal bahwa hubungannya sedang tidak baik-baik saja. Dilihat dari sisi pembaca, saya cukup geregetan dengan tokoh perempuan yang masih mau diajak berhubungan seksual, padahal tahu bahwa pasangannya berselingkuh. Smh, please. 😭💔

3. “Birds”

Agar sang suami percaya bahwa dirinya masih perawan, sang istri menggunakan darah burung merpati untuk menodai seprai tempat tidur di malam pernikahan mereka.

Mengetahui anaknya masih perawan, sang orangtua mengglorifikasi hal tersebut dengan senang hati, seolah-olah menjadi seorang perawan adalah hal yang begitu mulia, dan nggak malu-maluin orangtua.

Mari kita kaitkan dengan keadaan saat ini. Zaman telah berevolusi dan beberapa hal dalam hidup mungkin sudah nggak valid lagi. Bagaimana dengan hal ini?

Ya, sebagian orang menganggap bahwa keperawanan adalah hal yang sudah selayak dan sepantasnya dijaga. Namun ada juga yang bilang bahwa keperawanan seseorang sebenarnya bergantung dengan nilai-nilai yang dipegang teguh.

Kembali ke tiap-tiap individu, value apa yang kita percayai?

4. “Beauty”

Pernah mendengar selentingan “Perempuan yang mengenakan hijab atau mungkin rajin salat, adalah mereka yang suci”? Coba baca puisi satu ini. Mungkin kamu nggak percaya dengan apa yang ditulis Warsan Shire.

5. “Conversations About Home”

Cerita-cerita soal pengungsi di daerah perang selalu bikin saya luluh. Sedih banget rasanya. Nukilan bait pembuka di atas saya ambil dari puisi ini. Mungkin, kalau Warsan Shire menampilkan spoken poetry dari puisi ini, mungkin pedihnya akan lebih menghunjam.

All I can say is, I was once like you, the apathy, the pity, the ungrateful placement and now my home is the mouth of a shark, now my home is the barrel of a gun. I’ll see you on the other side.


Makna di Balik Teaching My Mother How to Give Birth

Saya nggak menemukan satu pun puisi yang sama dengan judul utama buku ini. Namun, setelah membaca semua puisinya, saya diarahkan pada satu interpretasi pribadi.

Teaching My Mother How to Give Birth seolah ingin membuka mata siapa saja bahwa nggak mudah rasanya menjadi seorang Ibu. Ada proses panjang sebelum melahirkan, hingga akhirnya seorang Ibu membesarkan anak dari ketika masih harus didekap, hingga nanti sang anak bisa berjalan dengan kakinya sendiri.

Dan ya, membesarkan anak, apalagi membuat mereka menjadi seperti yang kita ingini, membuat mereka memiliki value yang sama, atau mengarahkan mereka untuk menjalani hal-hal yang kita kira benar, sama sekali nggak mudah.

Sekali lagi, Warsan Shire menekankan bahwa meski seorang anak (baik perempuan maupun laki-laki) lahir dari perut Ibunya, nggak selamanya mereka memiliki duplikasi perasaan, pemikiran, pandangan, perbuatan, dan kepercayaan, sama persis seperti Ibunya (atau orangtuanya). Anak adalah anak, Ibu adalah Ibu. Dua manusia berbeda yang punya jalannya sendiri-sendiri.

Warsan Shire juga berusaha membuka mata para pembaca bahwa untuk bisa mengubah stigma, kepercayaan, atau kebudayaan yang telah melekat dan mendarah daging, adalah sebuah perjuangan panjang.

Namun dengan suaranya, ia berusaha untuk bisa “melahirkan” orang-orang hebat, yang diharapnya bisa lebih relevan dengan zaman kini.

Contoh: pada puisi berjudul “Fire”, terdapat perbedaan pemahaman perihal kekerasa rumah tangga oleh pasangan

“Her mother phoned-

What do you mean he hit you?
Your father hit me all the time
but I never left him.
He pays the bills
and he comes home at night
what more do you want?”

Membaca nuikilan puisi di atas beneran bikin dada sesak. Ibu macam apa yang menormalisasikan kekerasan dalam rumah tangga, bahkan dengan santainya meminta sang anak perempuan bertahan demi sesuatu yang nggak ada hubungannya? Apakah ketika pasangan membayar semua tagihan dan pulang ke rumah saat malam hari, lalu masalah kekerasan bisa beres begitu saja?

Kenapa lebih memilih untuk bertahan dalam penderitaan dibandingkan berhenti di situasi menyiksa dan menjalani hidup lebih baik?

Dalam puisi “Fire” disebutkan bahwa sang anak sudah menikah dengan suaminya selama 7 tahun. Bagi yang sudah menikah, mungkin akan berpendapat bahwa sayang rasanya untuk memutus hubungan yang telah terjalin bertahun-tahun.

But wait, how if you’re gonna spend the rest of your life with abuse? How long will you deny it? How long will you close your eyes? How long will you survive?

Ini menjadi pengingat bagi saya bahwa segala kemungkinan bisa terjadi di dalam hidup. We cannot control other people’s live, but we have full ownership of ours. That’s exactly what Warsan Shire wants us to do. Be the voice.

Penyair sama sekali nggak mencoba untuk mendefinisikan bahwa perempuan dalam puisi ini adalah kaum lemah atau inferior. Penyair hanya menjabarkan keadaan yang sejujur-jujurnya karena situasi tersebut masih kerap terjadi, bahkan hingga detik ini.

Membaca Teaching My Mother How to Give Birth memang bisa menimbulkan berbagai gejolak perasaan. Namun saya lega, gagasan-gagasan Warsan Shire diabadikan dalam bentuk tulisan. This is the kind of book I want to reread many times.

Semoga buku ini bisa jadi pengingat untuk siapa saja yang ingin “berontak”.


Bacaan Selanjutnya

  1. Kim Ji-yeong, Born 1982, karya Cho Nam-Joo
  2. Soft Magic karya Upile Chisala
  3. Nectar karya Upile Chisala
  4. Homebody, karya Rupi Kaur
Sintia Astarina

Sintia Astarina

A flâneur with passion for books, writing, and traveling. I always have a natural curiosity for words and nature. Good weather, tasty food, and cuddling are some of my favorite things. How about yours?

More about Sintia > 

2 Comments

  1. MS AYI

    Membaca review kakak soal buku ini, saya teringat dengan buku-buku karangan Djenar Maesayu. Sama-sama terasa nyelekit saat membaca diksi jujur mereka soal kondisi perempuan. Dunia perempuan jadi terasa nggak baik-baik aja 🙁
    Setuju dengan kata penutup “berontak”, setidaknya lewat buku-buku seperti ini saya kerap diingatkan untuk mawas diri, berani melawan ketidakadilan jika menyangkut hak-hak diri sendiri.

    Reply
    • Sintia Astarina

      Wah, aku punya buku-bukunya tapi aku belum baca. Mana yang jadi favoritmu kah?

      Yesss, makanya aku happy banget pas baca buku ini. Sebagai perempuan, semakin dibikin “melek” kalau ada hal yang perlu diperbaiki. Kalau kamu ada rekomendasi buku lain terkait ini, jangan ragu untuk berbagi, yaa! 😀

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.