[BOOK REVIEW] Perjamuan Khong Guan Karya Joko Pinurbo

Aug 8, 2021

[BOOK REVIEW] Perjamuan Khong Guan Karya Joko Pinurbo – Dalam dunia perpuisian, bisa dikatakan bahwa Joko Pinurbo adalah salah satu nama yang setiap kali ia mengeluarkan karya, saya pasti akan beli. Makanya, saya cukup antusias ketika tahu bahwa lelaki kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962 ini hendak merilis Perjamuan Khong Guan.

Saya sempat berpikir, ya ampun, overthinking macam apa lagi ini yang akan dihadirkan dalam kepalanya? Dan ya, menyingkirkan daftar baca lainnya dan memprioritaskan buku puisi ini sama sekali nggak bikin saya menyesal.

Baru lihat sampul yang dibuat oleh kawan-kawan @sukutangan saja sudah bikin saya nggak sabar untuk membuka halaman pertama dan berlanjut ke halaman-halaman lainnya. Berikut hasil pembacaan saya.

Review Buku Perjamuan Khong Guan Karya Joko Pinurbo

Judul: Perjamuan Khong Guan
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 27 Januari 2021
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 130
ISBN: 9786020637587

Kaleng Satu

[BOOK REVIEW] Perjamuan Khong Guan Karya Joko Pinurbo

Di tangan Joko Pinurbo, Biskuit Khong Guan bisa disulap jadi puisi-puisi yang bicara soal agama, budaya, tradisi, juga hal-hal lain di sekitar. Sekali lagi, ia berhasil menjadi penyair yang lebih jeli dan kritis menanggapi fenomena-fenomena yang terjadi.

Bisa dibilang, Kaleng Satu ini seperti kaleidoskop yang mencoba meng-highlight berbagai peristiwa penting. Misalnya, soal ramainya liburan akhir tahun karena masyarakat pulang ke kampung halaman untuk merayakan Natal dan Tahun Baru, tentang kepulangan anak rantau, tentang orang-orang dengan segala resolusi baru: new year, new job, new me.

Topik soal langganan banjir di awal tahun yang sering membuat aktivitas masyarakat lumpuh serta kinera Presiden dan Wakil Presiden baru pun turut dibahas dalam Perjamuan Kaleng Khong Guan.

Bagi saya, isu ini penting diangkat karena ini adalah refleksi kita bersama. Meski buku puisi ini rilis pada Januari 2020, Joko Pinurbo sudah lebih dulu menulisnya di periode 2016-2019, yang mana saya pikir ternyata isu-isu ini sudah ada sejak lama, lho.

Dan ketika kembali dimunculkan pada awal 2020. erbagai pertanyaan pun mungkin akan mulai bermunculan di benak pembaca. Kok, isunya masih sama, ya? Sebenarnya apa yang terjadi dengan negeri kita? Apakah kita begini-begini saja selama beberapa tahun terakhir?

Dan jika diminta memilih mana puisi paling favorit di bab ini, saya akan dengan pede menjawab “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya” Puisinya pendek tapi lumayan nyelekit. Joko Pinurbo seperti mengingatkan kita, mau sesibuk apa pun kita, jangan pernah lupain Tuhan.

Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya

Tuhan, ponsel saya
rusak dibanting gempa.
Nomor kontak saya hilang semua.
Satu-satunya yang tersisa
ialah nomorMu

Tuhan berkata:
Dan itulah satu-satunya nomor
yang tak pernah kausapa.

(2018)

Uhuk. Kita sedang disindir. Oke, kerja cari uang semangat sekali. Diperbudak gadget dan teknologi digital, iya-iya aja. Kita merasa hidup kita baik-baik saja, tapi … BOOM! Ketika diberi cobaan, ketika butuh pertolongan, kita baru ingat dengan Ia si empunya kehidupan, yang sebenarnya selama ini bekerja di kehidupan kita.

Puisi ini mengagumkan sekali.

Baca juga: Kenapa Membaca Buku Puisi dan Pertanyaan-Pertanyaan Lainnya


Kaleng Dua

[BOOK REVIEW] Perjamuan Khong Guan Karya Joko Pinurbo

Beranjak ke bab selanjutnya, kali ini Joko Pinurbo mengungkapkan soal harapan-harapan yang nggak kesampaian, juga tentang ekspektasi yang ingin sekali diraih dalam hidup. Kritik soal gejala sosial juga masih dihadarkan dalam Kaleng Dua.

Dan ya, bukan Joko Pinurbo namanya kalau ia tak menghadirkan sindiran dan komedi di tengah puisi-puisinya. Lelaki satu ini memang seorang penyair yang khas dengan lokalitas dan kejenakaannya. Plus, tulisan-tulisan satir yang jadi favoritnya.


Kaleng Ketiga

Bab ketiga dan bab keempat seperti punya benang merah yang sama, yakni membicarakan satu subjek atau objek yang sama. Dalam Kaleng Ketiga, topik utamanya ialah soal Minnah.

Saya teringat dengan salah satu puisi paling pendek di halaman 85, judulnya “Hati Minnah”. Puisinya hanya 4 baris, 10 kata, singkat, tapi nyelekit. Begini bunyinya.

Hati Minnah

Batu di gunung,
ombak di laut
bertemu
di dada Minnah.

(2019)

Sejujurnya saya nggak terlalu yakin siapa itu Minnah. Hanya Joko Pinurbo dan Tuhan yang tahu. Namun, ia pernah menyebutkan bahwa nama tersebut terinspirasi dari nama orang Korea

Di dalam benak saya, Minnah adalah sosok perempuan lugu yang suka sekali membaca buku, seseorang yang masih belajar soal kehidupan, seseorang yang belajar menanggung beban-bebannya seorang diri. Minnah punya dunianya sendiri, pergumulan batinnya sendiri, masalah, karut-marutnya, juga kegetirannya sendiri.

Saya jadi ingat dengan puisi-puisi milik Eko Saputra Poceratu yang berjudul “Episode Mariana”. Puisi yang bisa ditemukan dalam buku Hari Minggu Ramai Sekali ini membicarakan tentang Mariana yang mati beranak di Papua. Ada 6 puisi berurutan yang bila dibaca, seperti fiksi mini.

Ya, tampak menarik ketika tahu ada sosok perempuan yang yang mewakili perjuangan. Tokoh yang nggak diketahui dengan jelas siapa, tapi bisa mewakili suara-suara masyarakat yang jarang didengar dan sebenarnya penting untuk diketahui.


Kaleng Empat

Bab ini banyak membahas soal Khong Guan, dan pertanyaan masyarakat tentang ke mana sebenarnya sosok Ayah dalam kaleng biskuit tersebut?

Kalau dipikir-pikir, biskuit legendaris ini erat sekali dengan tradisi di Indonesia. Misalnya, tradisi makan bersama keluarga, juga tradisi kumpul-kumpul saat Hari Raya, terutama Lebaran, di mana Khong Guan bisa jadi salah satu bentuk silaturahmi dengan keluarga dan kerabat)

Saya pernah membaca sebuah artikel yang membahas soal manfaat makan bersama keluarga. North Dakota State University menyebutkan, manfaat makan bersama selain menjaga keharmonisan adalah memberi kesempatan untuk menyebarkan nilai dan sikap keluarga dari generasi satu ke generasi berikutnya, di mana anak-anak bisa belajar banyak dari orangtua mereka tentang hal-hal yang penting bagi keluarga.

Baca juga: [BOOK REVIEW] Teaching My Mother How to Give Birth Karya Warsan Shire

Pada kaleng Khong Guan yang digambarkan seperti keluarga tanpa sosok Ayah, membuat saya bertanya-tanya, apa bisa Ibu dan dua anaknya ini menyerap nilai-nilai keluarga secara utuh, apabila tidak ada sosok Ayah di sana? Apakah keluarga mereka akan tetap harmonis?

Yang bikin saya makin semangat membaca buku puisi adalah Joko Pinurbo tetap konsisten memasukkan unsur-unsur gejala sosial yang berhubungan dengan negara dan kekuasaan, yang mana kali ini ditarik dari segi keluarga. Apalagi pada Kaleng Keempat, penyair berimajinasi sendiri soal keberadaan sosok Ayah tersebut.


Kesimpulan Buku Puisi Perjamuan Khong Guan

Buku puisi ini penuh kejutan dan kdang apa yang kita alami dalam hidup nggak sesuai ekspektasi. Sama halnya ketika kita membuka kaleng Khong Guan tapi isinya adalah rengginang (atau mungkin ponsel, kartu ATM, dan jimat seperti kata Joko Pinurbo dalam puisinya).

Buku puisi ini penuh warna dan selera beragam, sama halnya ketika anggota keluarga berebut biskuit Khong Guan.

Saat pertama kali membuka kalengnya, mungkin saya bakal ambil biskuit berisi krim vanilla, tapi yang lain akan mengambil wafer, sementara biskuit lainnya bukan jadi favorit keluarga.

Begitulah Joko Pinurbo ingin memfokuskan hal atau fenomena yang memang menurutnya “enak dan renyah”, juga penting, ke dalam Perjamuan Khong Guan ini.

Sintia Astarina

Sintia Astarina

A flâneur with passion for books, writing, and traveling. I always have a natural curiosity for words and nature. Good weather, tasty food, and cuddling are some of my favorite things. How about yours?

More about Sintia > 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *