Meredefinisi Arti Buku Mahal, Bukan Sekadar Rupiah

Sep 18, 2021

Meredefinisi Arti Buku Mahal – Beberapa kali saya mengurungkan niat untuk membeli judul-judul buku incaran karena menganggap harganya terlalu mahal untuk ukuran yang “segitu” saja. Mindset saya kala itu, “mahal” masih dilihat dari segi harga yang tinggi, bila dibandingkan dengan harga rata-rata pada umumnya. Kesalahan saya: nge-judge value buku berdasarkan asumsi aja.

Padahal, definisi kata mahal bisa dirumuskan ulang sehingga maknanya bukan melulu soal angka. Pernah saya membeli buku yang secara harga memang betulan mahal, tapi ternyata isinya nggak semahal yang dikiri. Pernah beli buku yang harganya sangat terjangkau, tapi ketika membaca isinya rasanya kayak dikasih banyak bonus plus-plus.

Untuk itu, saya coba membuat daftar pendek buku-buku “mahal” yang saya miliki dan saya redefinisi maknanya.

1. Yang “Mahal” karena Beli-Beli Doang (alias Belum Dibaca)

Ada yang berbeda antara saya yang sekarang dan saya yang dulu sebagai seorang pembaca. Dulu saya termasuk yang paling antusias kalau ada bazar buku yang diskonnya lumayan banget (kayak Big Bad Wolf, misalnya). Literally no budget plan at all, kalau ada buku yang dirasa disuka, oke masukkin ke keranjang. Rasanya puas banget bisa nemu buku impor murah dengan harga miring.

Namun kenyataannya, masih banyak banget buku diskonan hasil berburu yang belum saya baca, salah duanya ialah boxset Harry Potter dan Paulo Coelho. Saya jadi mikir, apa jangan-jangan saya lebih demen belanja buku ketimbang baca buku, ya? *nah lho~

Kalau sekarang, rasanya saya nggak terlalu bersemangat kayak dulu. Ketika ada diskonan, sudah timbul bebagai pertanyaan filter di dalam kepala yang akan mempengaruhi buying decision saya, seperti:

  • Seberapa yakin mau beli buku ini? Apakah buku ini bisa memberi jawaban yang saya cari dan butuhkan?
  • Apakah ada sumber alternatif lain yang isinya kurang lebih sama dengan buku dan bisa diakses dengan lebih terjangkau? Dari YouTube atau podcast misalnya?
  • Kalau beli buku ini sekarang, bakal dibaca dalam waktu dekat atau nanti-nanti? Kalau masih nanti, kenapa nggak ntaran aja belinya?

Ketika sudah dapat jawabannya, saya belajar untuk lebih mantap membuat keputusan. Oke, saya akan beli karena saya memang butuh. Oke, saya akan menunda beli karena kayaknya angin-anginan doang, deh.

2. Yang “Mahal” Perjuangannya

Yang masuk ke kategori ini cuma ada dua judul novel, yakni Nyanyian Hujan dan Taman Pasir. Hahaha.

Dua buku ini adalah bukti nyata bahwa murah-mahalnya suatu buku nggak bisa dilihat dari harga aja. Ada perjuangan dan proses yang nggak gampang di baliknya. Begadang demi kelarin manuskrip, ditolak penerbit, menjelajah antarprovinsi demi ketemu editor secara offline, dikomentari pembaca di media sosial, dibajak bukunya, dll.

Plus, buku ini masuk ke dalam kategori mahal, pun karena udah nggak bisa didapatkan di mana-mana (kecuali ada yang preloved). Saya masih simpan beberapa eksemplar di rumah. Jaga-jaga kalau hilang atau keselip entah di mana, disimpan buat kenangan, atau mungkin paling banter mau pamerin ke anak-cucu nanti, “Nih, Mama pernah bikin buku lho, pas zaman masih muda.” 😀

3. Yang “Mahal” Isi Kepalanya

Pas nemu 1-2 judul buku self development yang ternyata “klik”, saya baru ngerasain nikmatnya baca buku nonfiksi. Apalagi, bisa tahu isi kepala penulis yang bikin saya terkagum-kagum. Dan, banyaknya anotasi atau tempelan bookmark warna-warni di pinggir kertas bisa jadi tanda bahwa buku “mahal” ini mampu mengenyangkan lahir dan batin. Berharga banget.

Gile … si penulis makan apa sampai bisa mikir dan nulis keren kayak gini? Risetnya berapa lama, ya? Mau cobain 3 tips dari buku ini, ah.

Astagaaa, perspektif ini bagusnya kebangetan. Nggak kepikiran sama sekali. Iya juga, ya, yang diomongin penulis.

Sumpah mau nangis bacanya. Mata kayak dibuka lebar-lebar. Dapet banyak hal banget dari buku ini. Huhuhu.

Bagi saya, kalau buku tersebut bisa mendorong saya untuk  melakukan action tertentu dan mampu kasih nutrisi baik buat otak, oke bukunya akan saya jaga sepenuh hati. Beberapa judul buku yang saya kepikiran ialah

Dari ketiga definisi yang sudah saya susun ulang, saya jadi kedapatan satu mindset tambahan baru. Saya akan lebih rela aja merogoh kocek “mahal” demi bacaan-bacaan yang masuk poin ketiga, yakni buku-buku yang “mahal” isi kepalanya, tapi sudah jelas saya bisa dapat value apa.

Sintia Astarina

Sintia Astarina

A flâneur with passion for books, writing, and traveling. I always have a natural curiosity for words and nature. Good weather, tasty food, and cuddling are some of my favorite things. How about yours?

More about Sintia > 

4 Comments

  1. hestia

    eh aku suka deh definisi atas kata “mahal” yang ada di sini. seringkali kita terpaku dg nominal ketimbang unsur lain yg membuat buku itu “mahal”

    Reply
    • Sintia Astarina

      Truuu! Sekarang harus digeser dikit, nih, maknanya, supaya nggak langsung dikonversikan secara rupiah aja, tapi ada “value” atau “story” di baliknya.

      Reply
  2. Nasirullah Sitam

    Aku ada beberapa buku yang belum terbeli dengan alasan seperti itu, mbak. Tapi sampai sekarang tetap saya targerkan untuk dimiliki hahahaha

    Reply
    • Sintia Astarina

      Hahaha kadang emang susah buat nahan-nahan, apalagi kalau ada diskon gede-gedean. Hehehe 😀

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.