[BOOK REVIEW] Eat That Frog! Karya Brian Tracy

Nov 29, 2022

[BOOK REVIEW] Eat That Frog! Karya Brian Tracy – Terpapar dengan banyak tips produktivitas tanpa benar-benar tahu gimana hasilnya di orang yang memaparkan, ternyata menarik minat saya untuk juga turut ingin mencoba, sembari mencari tahu gimana dampaknya di saya. Maklum, penundaan masih sering jadi penyakit yang ingin terus menjangkiti dan ingin selalu saya obati.

Pertemuan dengan Eat That Frog! karya Brian Tracy pun memudahkan jalan saya. Katanya, buku ini sudah terjual lebih dari 450.000 eksemplar dan diterjemahkan ke dalam dua bahasa, termasuk bahasa Indonesia yang saya baca.

Judul aslinya adalah Eat That Frog!: 21 Great Ways to Stop Procrastinating and Get More Done in Less Time. Ketika dilokalisasikan menjadi Eat That Frog!: Cara Dahsyat Mencapai Hasil Lebih Banyak dengan Bekerja Lebih Sedikit, entah kenapa kata kunci soal procrastinating atau penundaan dihilangkan.

Judulnya pun tampak lebih fokus pada menggunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin sehingga tanpa peru bekerja terlalu keras, pekerjaan pun dapat terselesaikan dengan baik dan hasilnya akan lebih banyak.

Menarik untuk diulik lebih dalam, ya?

3 Tips Produktivitas ala Eat That Frog! Karya Brian Tracy

Judul: Eat That Frog!: Cara Dasyat Mencapai Hasil Lebih Banyak Dengan Bekerja Lebih Sedikit
Penulis: Brian Tracy
Penerbit: Alfabeta
Terbit: 22 November 2018
ISBN: 9789791997454
Jumlah halaman: 168
Bahasa: Indonesia

Meningkatkan produktivitas ketika sedang menjalankan pekerjaan atau keseharian mungkin jadi dambaan banyak orang. Saya termasuk di dalamnya (tentu saja). Namun sayangnya, kebiasaan menunda sering jadi penghambat produktivitas itu sendiri.

Saya pernah merasakan 3 hal yang jadi jadi alasan saya menunda-nunda: motivasi dan mood-nya nggak ada, nggak punya tenaga yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan, sampai ngerasa punya terlalu banyak pekerjaan sampai bingung mana duluan yang perlu saya kerjakan.

Nah, sebelum mencari tahu bagaimana Eat That Frog! menawarkan solusinya, cari tahu dulu yuk apa hubungannya makan “katak” dengan penundaan dan tips produktivitas.

Baca juga: [BOOK REVIEW] You Do You Karya Fellexandro Ruby

Dalam bahasa Indonesia, “eat that frog!” berarti “makanlah katak itu!”. Katak yang dimaksud adalah tugas-tugas yang paling penting dan besar yang kita miliki, yang mungkin bakalan terus ditunda-tunda kalau nggak kita kerjakan segera.

Dalam berkegiatan, mungkin kita akan menemukan katak besar dan katak-katak kecil lainnya. Nah, katak besar inilah yang harus jadi fokus utama kita setiap hari untuk kita selesaikan lebih dulu. Gimana caranya?

1. Kalau nggak ada mood dan motivasi

[BOOK REVIEW] Eat That Frog! Karya Brian Tracy

Ini sering jadi salah satu tantangan yang menurut saya punya efek domino. Malas ngerjain yang satu, akan malas ngerjain yang lain-lainnya juga. Ketika merasa nggak punya motivasi atau mood yang mendukung kita untuk menyelesaikan pekerjaan, alhasil kita jadi menunggu sampai mereka benar-benar datang.

Katanya, dunia ini tuh penuh dengan orang-orang yang menunggu. Menunggu bus di halte, menunggu tanggal gajian, menunggu makanan yang dipesan sampai ke rumah, menunggu jodong datang, dan adapula orang-orang yang menunggu “didorong” dulu supaya bisa “gerak” alias melakukan suatu pekerjaan.

Tanpa sadar, kita jadi fokus di kegiatan “menunggu” daripada fokus di “mengerjakan” tugasnya. Brian Tracy pun menyarankan tiga hal ini.

  • Push yourself. Coba deh, desak diri kita untuk lakukan tugas-tugas kita sesegera mungkin. Ketika berhasil menyelesaikan satu pekerjaan, kita akan merasa lebih puas dengan diri sendiri. Dan ketika udah berada dalam fase work mode ini, kita juga akan lebih lancar (dan tentunya percaya diri) untuk mengerjakan tugas-tugas lainnya yang sama besar/sulitnya. 
  • Buat deadline imajiner. Contoh: bayangkan kalau kita bisa dapet liburan gratis di destinasi impian yang udah masuk bucket list selama ini, hanya dengan menyelesaikan pekerjaan dengan deadline nanti malam pukul 21.00. Kalau lewat deadline, hadiah akan hangus. Biasanya, dengan memiliki deadline, kita jadi termotivasi untuk bisa segera mulai dan tetap fokus menyelesaikan tugasnya. “The power of kepepet” works juga, lho.
  • Ciptakan sendiri motivasi dan mood tersebut. Kita bisa menghemat waktu menunggu dengan menciptakan sendiri suasana yang bikin kita lebih nyaman dan fokus dalam bekerja. Kalau dalam kasus saya, saya lebih termotivasi untuk bekerja ketika nggak ada notifikasi Slack/email, bekerja di kedai kopi favorit dengan Salted Caramel Machiatto sebagai teman minum favorit, serta jauh-jauh dari distraksi seperti ponsel atau suara orang rumah memanggil.

Baca juga: [BOOK REVIEW] How to Win Friends and Influence People in the Digital Age Karya Dale Carnegie


2. Kalau nggak punya energi yang cukup

Ada kalanya jam produktif saya di pagi atau siang hari. Namun, ada masanya juga sore dan malam hari (bahkan hingga subuh) jadi jam-jam yang paling saya senangi karena merasa otak begitu encer.

Tapi memang badan tuh nggak bisa dibohongi, ya. Pernah kerja sampai hampir tengah malam dan lagi produktif-produktifnya. Pengin gas terus, eh … entah udah nguap berapa kali dan tubuh pun juga udah kasih sinyal berkali-kali saking pengin nemploknya kasur.

Kalau dipaksa lanjutin sih mungkin hanya akan kuat 30 menit-1 jam aja. Tapi kayaknya output kerjaannya nggak akan maksimal, deh. Lagian, kalau dipaksain bergadang, badan udah pasti nggak bakalan enak besok paginya. Trust me.

Rupanya, case serupa ternyata saya temukan di Eat That Frog!. So, what should we do?

Brian Tracy bilang, ketika waktunya bekerja, bekerjalah. Kemudin, bekerjalah sesuai kemampuan.

Kalau udah nggak ada tenaga buat menyelesaikan tugas-tugas, just stop and take some rest. Di sinilah kita bisa menggunakan privilese untuk menunda. Nggak perlu ngoyo atau maksain diri, yang ada nanti malah kesehatan terganggu.

Kemudian, gunain waktu libur untuk istirahat sepenuhnya. Definisi istirahat bagi setiap orang berbeda-beda, ya, nggak mesti diartikan sebagai tidur aja. Saya sendiri mencoba untuk mengisi waktu istirahat dengan membaca buku, menonton film, jalan-jalan dengan teman dan keluarga, atau traveling.

Memenuhi asupan tubuh dengan berbagai nutrisi juga baik diperlukan. Berolahraga seenggaknya 30 menit setiap hari juga juga mungkin akan membantu menjaga asupan tenaga.

Ketika kita memiliki energi yang cukup, produktivitas bisa meningkat, kebahagiaan dan kesuksesan pun demikian.


3. Kalau punya terlalu banyak “katak” alias pekerjaan

Saya kerap bertanya ke diri sendiri setiap pagi, “There’s too much on my plate, which task should be my first priority?”

Merujuk ke isi buku ini, tentu aja prioritasin “katak” paling nggak enak yang kalau nggak dikerjakan, bakalan ditunda dengan beribu-ribu alasan.

Makanya, setiap hari saya pasti bikin to-do list supaya aktivitas saya lebih terpetakan dan terencana dengan matang. Dari daftar tersebut, saya pilih 3 prioritas yang perlu dikerjakan lebih dulu.

Pada prosesnya, bisa jadi akan ada penambahan atau penggantian “katak” di hari itu, atau juga pemindahan “katak” dari hari ini ke hari esok. To-do list enggak sesaklek itu mesti dicoret semuanya di hari yang sama. Yang penting, fokusnya di sini adalah untuk menyelesaikan berbagai tugas tersebut dengan output berkualitas baik.

Di sisi lain, jangan lupa untuk nggak multitasking ketika bekerja. Selesaikan satu tugas terlebih dahulu, baru yang lainnya. Jika ada distraksi yang menganggu, hindarilah. Buat diri kita dalam mode fokus.


Seberapa Bagus Buku Ini untuk Dibaca?

Buku ini dirilis pada 2001 dan saya baru membacanya 21 tahun setelahnya. Saya merasa nggak ada poin yang benar-benar baru dari Eat That Frog! ini. Tipsnya pernah saya temui di buku-buku produktivitas lain yang terbit sebelum atau sesudahnya.

Hal ini menyadarkan saya bahwa (mungkin) sebenernya, tips produktivitas tuh itu-itu aja, ya? CMIIW. Ini tantangan bagi para penulis buku self development (terutama yang membahas soal produktivitas), untuk menawarkan cara-cara baru yang belum pernah dibahas sebelumnya.

Dan ya, sebagai pembaca, rasanya kita punya PR untuk bisa lebih mengenali diri sendiri dan memilih tips produktivitas mana yang paling pas dan cocok dengan kita

Penting juga untuk memperbarui wawasan kita dengan bacaan yang lebih uptodate. Siapa tahu ada productivity hacks yang lebih relevan dengan kondisi sekarang? Remember, knowledge is expanding and constantly changing, right?

Meski demikian, apa yang dibahas dalam Eat That Frog! tetap relate dengan masa kini dan sangat bisa kita terapkan.


Kesimpulan

Eat That Frog! bukan cuma membagikan cara-cara mumpuni untuk menghindari penundaan dan meningkatkan produktivitas saja. Ia meyakinkan pembacanya bahwa produktivitas adalah sebuah keahlian yang bisa dipelajari, dilakukan berulang kali, dan dibiasakan sehari-hari.

Nggak semua tips di buku ini cocok untuk tiap-tiap pembaca. Sesuaikan lagi dengan apa yang menurut kita paling pas dan mudah dilakukan.

Gimana, tertarik nerapin isi buku ini?

Sintia Astarina

Sintia Astarina

A flâneur with passion for books, writing, and traveling. I always have a natural curiosity for words and nature. Good weather, tasty food, and cuddling are some of my favorite things. How about yours?

More about Sintia > 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *