Serunya Belajar Bikin Clay di F. Widayanto Gallery Jakarta Selatan

May 8, 2021

Serunya Belajar Bikin Clay di F. Widayanto Gallery Jakarta Selatan – Enggak mau terus-terusan sedih karena gagal ke Belitung, akhirnya di jadwal cuti kemarin saya mengunjungi dua tempat di Jakarta yang pengin banget saya sambangi. Salah satunya ialah F. Widayanto Gallery yang terletak di Jakarta Selatan.

Bosen main di mal terus, pengin banget bikin-bikin sesuatu yang berkaitan dengan kerajinan tangan dan yes, to be honest TikTok brought me here.

Baca juga: Pengalaman Terbang Saat Pandemi untuk Penerbangan Domestik

Beberapa hari sebelumnya, saya tanya-tanya via WhatsApp apakah ada slot kosong di weekend. Namun, ternyata weekend selalu penuh dan baru ada lagi slot kosong 2 minggu lagi.

Nah, mumpung sedang cuti di weekday, akhirnya saya reservasi untuk satu orang di hari Senin. Ada 3 pilihan jam sesi, yakni 10.00, 12,00, dan 14.00. Saya pilih kelas pukul 10.00 dengan harapan masih sepi.

F. Widayanto Gallery menyediakan berbagai program dengan berbagai teknik. Saya pilih program Ngadedet dengan durasi 90 menit seharga Rp145.000. Pembayaran bisa via transfer dan saat hari H langsung datang saja.

Oh well, all I can tell you is this clay workshop was tooootally fun!

Serunya Belajar Bikin Clay di F. Widayanto Gallery Jakarta Selatan

Apa Itu F. Widayanto Gallery?

Sebelum ada F. Widayanto Gallery di Jakarta ini, sudah lebih dulu ada Rumah Keramik F. Widayanto yang terletak di Depok, Jawa Barat. Lokasinya menempati rumah F. Widayanto itu sendiri, maestro keramik Indonesia yang terkenal akan karyanya yang unik dan original.

Menurut informasi yang saya dapat, rumah keramik yang dibangun pada 1997 ini ialah yang pertama dan terbesar di Jabodetabek. Selain dijadikan gallery atau tempat workshop, kini Rumah Keramik F. Widayanto pun sering dijadikan tempat untuk melangsungkan lamaran atau pernikahan.

Sementara itu, F. Widayanto Gallery yang saya sambangi ialah yang berada di Jakarta Selatan. Gallery yang awalnya merupakan rumah orangtua F. Widayanto ini ternyata dibuat untuk memenuhi banyaknya permintaan pelanggan akan lokasi yang lebih dekat dan mudah dijangkau.

Ternyata, tempatnya keren sekaliii! Mengisi waktu kosong dengan bikin clay ternyata bukan pilihan yang salah!

Pengalaman Bikin Clay Sendiri, Seru!

Serunya Belajar Bikin Clay di F. Widayanto Gallery Jakarta Selatan

Saya datang kepagian, tapi F. Widayanto Gallery sudah buka sejak pukul 09.00. Untuk menghabiskan waktu, saya melihat-lihat berbagai hasil kerajinan tangan yang terletak di bagian depan rumah. Ada pajangan dan patung dari keramik, kain, dan masih banyak lagi. Salah satu karya yang cukup membuat saya terpukau ialah patung Yesus dan Bunda Maria yang begitu indah.

Kemudian, sekitar pukul 09.30, saya diajak ke bagian belakang rumah, tempat workshop akan dilangsungkan. Di bagian kiri, terdapat area rimbun yang dipenuhi berbagai tanaman hijau, yang ternyata dijual, lho! Entah ada tanaman apa saja di sana, tapi kedua mata rasanya langsung segar melihat yang hijau begitu.

Serunya Belajar Bikin Clay di F. Widayanto Gallery Jakarta Selatan

Lalu, di sisi kanan ialah tempat workshop. Sepi. Hanya ada saya sendiri dan seorang pengajar yang tengah sibuk membakar clay yang sudah dibentuk. Pak Sandi, namanya. Saya melihat alat workshop saya sudah disiapkan di salah satu meja panjang di tengah.

“Mau dimulai sekarang?” tanya Pak Sandi kepada saya.

“Jam 10 aja, Pak, nggak apa-apa. Saya mau foto-foto dulu,” jawab saya yang kemudian dibalas dengan anggukkan. Saya tahu, di balik masker hitamnya, ia melemparkan senyum.

Sebelum pandemi, tempat workshop ini bisa menampung sekitar 30 orang. Namun, pembatasan sosial membuat F. Widayanto Gallery hanya bisa memuat 50% dari kapasitas, yakni 15 orang saja.

Gallery dan workshop dibuka hingga pukul 17.00, tapi saya mendengar cerita bahwa biasanya yang ikut workshop di kelas terakhir, waktunya bisa saja bablas. Untungnya, dari pihak gallery enggak mempermasalahkan hal tersebut.

Ketika waktu mengarah ke pukul 10.00, saya sudah duduk manis di hadapan alat-alat yang akan saya gunakan.

  1. Clay 400 gram
  2. Papan alas sebagai tempat berkreasi
  3. Needle tool yang ujungnya tajam, berfungsi untuk memangkas, mengukir, atau merapikan clay.
  4. Potter’s rib (cmiiw), semacam pisau kayu yang berfungsi untuk meratakan clay saat dicetak atau merapikan bagian yang agak compang-camping.
  5. Clay cutter dari benang, berguna untuk meratakan clay di cetakan supaya pas diangkat lebih mudah.
  6. Spons untuk mengambil air sedikit demi sedikit supaya tangan enggak terlalu kotor dengan tanah liat.
  7. Air untuk membasahi clay, terutama yang sudah agak mengeras.
  8. Kuas, bisa untuk mengambil air atau mewarnai.

Pak Sandi mendekati meja saya dan menjelaskan apa yang akan saya lakukan hari itu. Sebagai pemula, membuat clay dengan cetakan adalah yang paling mudah. Namun, peserta workshop bebas berkreasi untuk membuat clay, terutama jika ingin membuat bentuk-bentuk lain di luar cetakan.

Ia mengambil salah satu cetakan berbentuk daun dan mencontoh bagaimana cara membuat clay. Saya mengamati dengan seksama sembari mengingat-ingat langkah demi langkah, juga alat apa yang bisa saya gunakan. Kelihatannya mudah, tapi enggak tahu, nih, pas praktiknya gimana. Hihihi. Time to try! Begini prosesnya.

1. Pilih cetakan

Serunya Belajar Bikin Clay di F. Widayanto Gallery Jakarta Selatan

F. Widayanto Gallery menyediakan dua rak yang setengahnya penuh dengan berbagai cetakan. Gambar dan ukurannya bervariasi sekali. Di sini ada cetakan angka, huruf, hewan-hewan seperti kupu-kupu (paling banyak), ikan, kura-kura, bunga beragam bentuk, daun, salib, Yesus, Bunda Maria, hingga yang paling random ada Jimmy Neutron.

Sayang, penempatannya acak sekali. Saya sampai minta Pak Sandi untuk membantu saya menemukan huruf S yang entah berada di mana. Untung ketemu. Yay!

2. Mulai berkreasi dengan clay!

Ternyata, belajar bikin clay tuh susah-susah gampang. Namun, kalau sudah tahu tekniknya, bakal terasa mudah banget. Kira-kira, begini langkahnya.

  • Lepaskan clay dari plastik, ambil beberapa bagian secukupnya, dan tekan-tekan dengan tangan.
  • Saya ambil sedikit dulu dan coba mengaplikasikan clay di cetakan kecil.
  • Karena clay di cetakan harus padat (supaya enggak pecah pas dibakar), tekan-tekan lagi (pressing technique). Untuk ukuran cetakan yang besar, bahkan kita bisa memukul-mukul clay dengan tangan yang terkepal sampai sekiranya padat.
  • Gunakan clay cutter untuk memotong kelebihan clay. Bisa gunakan pisau kayu juga. Intinya, sebelum clay dilepas/diangkat dari cetakan, jangan sampai ada bagian clay yang tersisa di luar cetakan, agar nanti saat dirapikan lebih mudah.
  • Ambil potongan clay lain yang akan digunakan untuk mengangkat clay dari cetakan. Caranya, tempel di sisi yang mau diangkat, dorong sedikit, angkat pelan-pelan. Clay jangan dilepas langsung dari cetakan jika semua sisi belum terangkat, nanti bentuknya bisa hancur.
  • Setelah clay dari cetakan terangkat, balik cetakan dan letakkan clay yang sudah dibentuk di atasnya. Kemudian rapikan pinggirnya (bisa menggunakan tangan atau spons dengan sedikit air), bisa dibentuk-bentuk, diukir, dan lain-lain.
  • Jika ingin menggabungkan dua bentuk clay jadi satu (misalnya menempel bentuk clay lebih kecil di clay yang lebih besar), ternyata ada tekniknya juga. Pertama, posisikan clay satu di sisi clay dua. Gambar posisi clay satu di clay dua dengan needle tool. Lalu, buat garis-garis (bisa diukir) di clay dua untuk menandakan posisi clay satu akan direkatkan. Basahi garis-garis dengan kuas air. Rekatkan clay satu sesuai posisi yang sudah ditentukan sebelumnya di permukaan clay dua. Tekan pelan-pelan supaya menempel.

Serunya Belajar Bikin Clay di F. Widayanto Gallery Jakarta Selatan

Apa bagian paling sulit dari membuat clay? Sudah pasti memastikan adonan clay di dalam cetakan besar sudah cukup padat supaya enggak ada rongga tersisa. Cetakan huruf S termasuk yangberukuran besar. Wah, perlu tenaga ekstra, sih, untuk menekan-nekan clay-nya hingga muat masuk ke cetakan. Saya sampai bikin tiga kali dan di percobaan ketiga baru berhasil. 😂

Pada percobaan pertama, saya gagal mengangkat keluar clay dari cetakan. Pak Sandi bilang, clay yang sudah dimasukkan ke cetakan, bisa langsung diangkat supaya enggak keburu mengeras di dalam. Karena saya kesulitan mengangkat clay (yang ternyata saya salah teknik), alhasil saya bikin ulang.

Percobaan kedua, rasanya sudah sekuat tenaga memadatkan clay di cetakan, sudah dipukul-pukul juga. Pas diangkat, eh dalamnya enggak padat. Pak Sandi minta untuk diulang saja.

Percobaan ketiga, jujur tangan udah sakit banget, but I did it! Saat mengeluarkan clay dari cetakan, saya minta diarahkan karena enggak mau gagal lagi kali ini. Pas diangkat, yay cetakannya padat!

Saya langsung diminta untuk merapikan bagian clay yang belum halus. Bisa dengan spons dan sedikit air atau dengan ujung jari. Katanya, Pak Sandi lebih senang merapikan dengan ujung jari karena clay-nya bisa ditekan-tekan, dirapikan, atau dibentuk dengan lebih mudah.

Dari total 3 jam belajar bikin clay di sana (harusnya 1,5 jam saja, tapi saya diperbolehkan untuk lanjut terus karena masih ada sisa clay yang belum dibikin, dan mumpung enggak ada peserta lain pula, jadi lanjut terus. Hihihi.), saya bikin beberapa kreasi clay sebagai kenang-kenangan.

Setelah semua bentuk clay jadi dan sudah cuci tangan juga, peserta diminta untuk mengisi form dan merinci sudah bikin bentuk clay apa saja, supaya nanti bisa dibedakan dengan yang lain dan enggak tertukar. Enggak sabar jadi!

3. Clay diwarnai

Untuk paket yang saya pilih, sebenarnya enggak termasuk mewarnai. Namun kalau mau belajar mewarnai, boleh banget, tapi akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp35.000. Untuk paket yang saya pilih, pihak F. Widayanto Gallery lah yang akan mewarnainya.

4. Clay dibakar

Serunya Belajar Bikin Clay di F. Widayanto Gallery Jakarta Selatan

Seingat saya, clay akan dibakar dua kali untuk hasil yang lebih permanen. Ketika saya sibuk membuat clay, sesekali saya memerhatikan Pak Sandi yang sibuk membakar clay buatan peserta sebelum-sebelum saya. Saya berdoa semoga clay saya baik-baik aja dan enggak pecah pas dibakar karena pasti bakalan sedih banget! 🙁

Oh ya, omong-omong, clay buatan peserta akan jadi kurang lebih 2-4 minggu. Namun, karena saya datang di waktu mendekati libur Lebaran, bisa-bisa clay saya jadi lebih dari satu bulan. Mau enggak mau, mesti sabar, deh. 😅

Pada intinya, belajar bikin clay di F. Widayanto Gallery sangat menyenangkan dan refreshing! Asik banget bisa belajar hal baru yang menyenangkan kayak gini. Apalagi, selama workshop, diputar lagu-lagu hits yang bikin makin semangat.

Kapan-kapan mau bikin lagi ah! Mungkin selanjutnya bisa bikin gelas kali, ya? Sesuatu yang bisa dipakai juga, bukan cuma dipajang aja. That would be very cute!

Untuk teman-teman yang ingin ikut membuat clay di F. Widayanto Gallery, bisa langsung reservasi melalui WhatsApp di nomor 081932323952 atau bisa kunjungi laman ini untuk info selengkapnya. Jika clay kreasi saya sudah jadi, akan saya perbarui tulisan ini. 😀


Yuk, kita bikin clay bareng!

Alamat: Jl. Taman Setiabudi 2 No. 11 RT.1/RW.2 Kuningan, RT.5/RW.3, Kuningan, Setia Budi, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta – 12910

Sintia Astarina

Sintia Astarina

is a flâneur with passion in books, writing & traveling. She has fallen in love with writing since Elementary School by telling her personal stories in a secret diary, or submitting her poems to a tabloid you won’t be able to read again. More about sintia >

2 Comments

  1. duniamasak

    duh jadi pengen ngedate sambil ngeclay bareng, pasti seruuu :3 nyari jodohnya dulu deh hehehehhe

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.