[BOOK REVIEW] Negasi Karya Danara

Apr 9, 2022

[BOOK REVIEW] Negasi Karya Danara – Berkesempatan untuk membaca sebuah karya berjudul Negasi awalnya membuat saya bertanya-tanya, apa arti judul ini? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat, negasi berarti peniadaan. 

Bila dikaitkan dengan buku ini, para pembaca diajak berpikir bahwa seandainya saja semua orang bisa meniadakan dirinya, memahami bahwa hidup nggak pernah utuh, nggak pernah sempurna, nggak pernah ideal, bahkan nggak ada akhirnya, mungkin hidup akan baik-baik saja.

Namun memang, melihat keadaan saat ini, bisa jadi kita terlalu terjebak dalam moralitas. Harus begini, harus begitu, ini buruk, ini salah, begini boleh, begitu nggak boleh, yang mana tanpa sadar membuat kita membentuk pengkotakan diri.

Merespon hal tersebut, Negasi berusaha memaknainya ulang.

Negasi, Sebuah Perjalanan Peniadaan Diri

Judul: Negasi
Penulis: Danara
Penerbit: Orbit Indonesia
Terbit: 21 Desember 2021
ISBN: 9786236076378
Jumlah halaman: 211

Negasi yang ditulis oleh Arani Aslama dan Aristya Perdana (Danara) adalah sebuah kumpulan tulisan yang terbengkalai hampir 10 tahun lamanya. Negasi terdiri dari 14 dongeng dan kisah, serta 15 puisi di antaranya yang turut melengkapi satu-kesatuan isi buku. Buku ini banyak bicara soal kehidupan, kematian, serta relasi manusia secara horizontal dan vertikal.

Dan ya, negasi atau peniadaan tersebut menjadi benang merah para tokoh di setiap kisahnya. Lewat buku ini, pembaca diajak untuk terbuka dan ikut serta dalam perjalanan peniadaan diri karena pada dasarnya, hidup bukan melulu soal moralitas dan hidup bukan melulu soal kata orang, kan?

Negasi menawarkan berbagai cerita menarik yang mungkin juga kamu sukai.

Cerita-Cerita Menarik itu di Antaranya …

1.”Hutan selatan tidak hanya kehilangan daun-daun dan akarnya, tetapi  juga kehilangan makhluk yang hidup dalam ayom-nya. Ketika cinta dan kasih memudar, kabut duka menyelimuti langit.”

[Book Review] Negasi Karya Danara

Dua puisi pertama yang membuka Negasi karya Danara ialah “Tidak” dan “Napas”, lalu dilanjutkan dengan dongeng “Hutan Hujan Selatan” yang sejauh saya tangkap, menjadi awal mula sekumpulan kisah dengan bumbu distopia, legenda, dan mitologi.

Dongeng ini mengajak pembaca untuk melihat keindahan Hutan Hujan Selatan beserta segenap makhluk hidup yang menghuninya. Namun sayang, makhluk buas berkaki dua datang menghampiri dan menggusur tempat tinggal mereka tanpa permisi.

Dibuatnyalah kebun palem emas, yang saya asumsikan sebagai sumber pundi-pundi uang hasil eksploitasi, yang bisa berupa penjualan kayu secara ilegal, atau apa pun itu yang merugikan.

Perusakan hutan atau lingkungan menjadi gerbang cerita pembuka yang menarik. Baru cerita pertama saja, pembaca sudah diajak untuk merasa kehilangan. Apalagi, perusakan hutan bukan cuma mengakibatkan kehilangan tempat tinggal, melainkan kehilangan keluarga dan juga orang-orang terkasih.

Oleh kisah ini saya diingatkan. Jadi manusia jangan egois. Dunia ini bukan cuma milik kita. Berbagilah selayaknya.

2. “Tatkala ia memejamkan mata, senyum Lestari memeluknya.”

[Book Review] Negasi Karya Danara

Negasi karya Danara ini selanjutnya membawa saya mengarungi kisah keluarga yang bertumpu pada tokoh suami dan istri, dalam “Surya Lestari” dan “Mengenang Raga”. Awalnya, hanya ada bahagia di antara Surya dan Lestari. Namun, kepergian anak mereka, Raga, membuat kehidupan tak lagi sama.

Singkat cerita, Lestari menderita demensia karena trauma kehilangan anaknya yang tewas akibat demonstrasi. Mungkin pembaca akan dibuat heran karena di saat Lestari membutuhkan kehadiran Surya, suaminya malah pergi ke tempat karaoke untuk bersenang-senang dan melepas penat bersama orang lain.

Hingga akhirnya ia tersadar bahwa istrinya menunggu di rumah, istrinya membutuhkan dirinya. Dan mereka pun kembali melewati satu malam lain, berdua, bersama-sama lagi.

Dari cerita ini saya memperoleh makna bahwa sebenarnya, kondisi sulit yang kita alami malah bisa memperkuat suatu hubungan jadi lebih baik. Pun sebaliknya, hal yang mengatasnamakan kebaikan (misalnya seperti demo yang dilakukan Raga untuk membela negara), bahkan bisa berubah jadi nahas.

Pernah menemui atau merasakan sendiri bagaimana jungkir balik baik-buruk dalam hidup ini?

3. “Liyan, pacarku, kembali ingin bunuh diri. Sering ia membicarakan niatnya itu. Frekuensinya belakangan membabi buta seiring pandemi beberapa bulan terakhir ini. Liyan seolah menemukan momentumnya.”

“Jeda Satu: Bunuh Diri di Tengah Pandemi” juga membikin saya mengurut pelipis mata. Saya dibawa mendalami soal kesehatan mental, kasus yang nggak jarang kita dengar, apalagi di era pandemi COVID-19 seperti sekarang. Pandemi ini menyebalkan dan tokoh Bima dalam cerita jauh lebih menyebalkan.

Gimana nggak? Bima tahu bahwa ini bukan kali pertama pacarnya ingin bunuh diri. Masa, di malam saat dirinya tengah mencari keberadaan Liyan, ia malah menghabiskan 1 jam di bar untuk mengobrol dengan perempuan yang baru dikenalnya, sementara kekasihnya berniat ingin mengakhiri hidup? 😱

Entah apa yang ada di dalam pikiran Bima sampai-sampai fokusnya teralihkan. Namun memang, ketika menghadapi situasi genting seperti itu, tak jarang kita kebingungan dan nggak tahu harus berbuat apa.

Akan tetapi, upayanya agar kekasihnya selamat, perlu diberi apresiasi. Apa yang dilakukannya dalam 2 tahun terakhir mereka berpacaran, membuktikan bahwa Bima lebih berani ambil risiko dan berkomitmen lebih karena ia sadar, ia tak ingin kehilangan Liyan.

Menariknya, saya sempat mengobrol dengan Danara terkait kisah ini. Barulah saya tahu bahwa nama Liyan sendiri bermakna “yang lain” dan saya pun baru sadar bahwa bisa jadi Bima adalah representasi kita yang sering acuh tak acuh ketika dihadapkan pada kasus bunuh diri di sekitar.

Kita mungkin kerapkali gagap dan merasa ini “hanyalah” kasus lain. Padahal, jika ada kemauan dalam hati, kita bisa mendampingi mereka yang membutuhkan pertolongan kita, lho.

4. “Menjadi tragis, jika apa yang kau cintai, justru membuatmu terjebak habis di dalam labirin tanpa akhir. Jika pun kau masih bimbang, berdiam dirilah mengheningkan rasa. Itu adalah cara termudah untuk mengurai makna.”

Ini merupakan rangkaian dari cerita Jeda. Dari kiah “Jeda Dua: Derita Hasrat”, saya belajar soal pengorbanan laki-laki dan perempuan dalam mempertahankan hubungan mereka. Ada kalanya salah satu harus berkorban secara sukarela. Ada kalanya salah satu harus berkorban secara paksa. Dan ada kalanya salah satu harus menebus pengorbanan secara sukarela demi mencegah pengorbanan secara paksa.

5. “Tekanan untuk menikah membebaniku.”

Singkat, padat, jelas mewakili hati banyak orang. Danara berbagi kisah yang menurut mereka perlu dimunculkan dan penting dibicarakan. Keduanya mengambil tema yang dekat dan mungkin mewakili hati banyak pembaca.

Kalau sudah membaca kisah “Udara Negeri Utara”, pembaca akan paham bahwa bahagia seringnya jadi tujuan akhir hidup manusia, Nggak heran, manusia mati-matian mencari definisi bahagia mereka masing-masing. Dicarilah bahagia itu, nggak peduli sesulit dan sejauh apa pun.

Kisah Azra dan Isya menyentil saya bahwa … sebenarnya manusia nggak perlu kok mencari kebahagiaan jauh-jauh. Dengan menikmati kesederhanaan dan hal-hal kecil di sekitar kita saja nyatanya cukup membuat kita bahagia. Bahagia hadir di sekitar kita sejak mula. Ia datang dalam rupa-rupa.

Jika suatu saat nanti ada memori masa lalu bertandang, jangan dihadang. Rasakan kehadirannya. Berdamai dengannya.

Sama seperti masyarakat di negeri utara yang melalui hygge, kehangatan dan kedamaiannya ditemukan dalam udara dingin dan iklim ekstrem.

Kemudian, bicara soal puisi yang ada di buku ini, ada 3 karya yang saya sukai, yaitu “Napas”, “Kitab Indra”, dan “Fana”. Puisi dalan Negasi karya Danara bukan cuma bisa jadi gerbang sebuah cerita, melainkan sebuah jeda sebelum menuju kisah-kisah selanjutnya.


Bagaimana Pengalaman Membaca Negasi Karya Danara?

[Book Review] Negasi Karya Danara

Membaca Negasi karya Danara adalah pengalaman yang benar-benar baru. Ayu Utami dalam Pengantar menyebutkan buku ini sebagai “ungkapan estetik” yang nggak terkungkung dalam bentuk-bentuk saklek sebuah sastra atau tulisan. Benar memang, Negasi adalah karya bebas. Buku ini punya hak melabeli dirinya sebagai apa.

Sepengamatan saya, Danara adalah 2 penulis yang sangat mengagumi kata-kata. Sedikit catatan, hati-hati jangan sampai terlalu terlena agar pembaca tetap dapat memahami keseluruhan konteks tentang konsep peniadaan diri, seperti apa yang menjadi tujuan awal Danara meramu buku ini. Apalagi, pembaca bisa bebas berimajinasi, membuat kesimpulan, dan merespon suatu kisah. Buku ini butuh pembacaan cermat.

Oh ya, bila pembaca menemukan beberapa cerita pendek yang terkesan belum selesai, worry not. Sedikit bocoran, Negasi memang didesain seperti fragmen yang akan ada kelanjutannya di buku-buku berikutnya. Nantikan!

Di sisi lain, ada satu hal yang cukup bikin penasaran di dalam buku Negasi, yakni bagaimana penulisan kata “tak” sebenarnya: disambung atau dipisah? Di buku ini semuanya disambung. Ketika diulik lebih lanjut, beberapa sumber memang menulisnya dengan disambung, tapi ada juga yang tidak. Jika benar disambung, wah baru tahu!

Omong-omong, membaca Negasi juga membuat saya mengenal Danara lebih dekat. Sepertinya keduanya menyukai musik, ya? Beberapa judul lagu dapat ditemukan dengan mudah di buku ini. Semoga ada daftar putar di platform musik apa pun yang bisa menemani pembaca menjelajah isi buku.

Dan bila kamu turut ingin merasakan pengalaman membaca versimu sendiri, pastikan buku ini ada di dekapmu.

Terakhir, selamat mengarungi Negasi dan selamat meniadakan diri.

Sintia Astarina

Sintia Astarina

A flâneur with passion for books, writing, and traveling. I always have a natural curiosity for words and nature. Good weather, tasty food, and cuddling are some of my favorite things. How about yours?

More about Sintia > 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *