Belajar Budaya Lokal Masyarakat Baduy

Belajar Budaya Lokal Masyarakat Baduy

Belajar Budaya Lokal Masyarakat Baduy – Pagi-pagi buta, ayam jantan saling bersahut-sahutan, berlomba-lomba untuk membangunkan para jiwa yang tengah tertidur pulas. Setelah melewati beberapa jam untuk beristirahat, saya pun beres-beres dan kembali ke desa Ciboleger. Memasuki hari ketiga, sudah saatnya pulang.

Berbekal sisa-sisa tenaga yang dimiliki, saya pun beranjak dari Baduy Dalam menuju Baduy Luar, kemudian menuju desa Ciboleger. Lelah tak terperi sungguh saya rasakan, mengingat saya harus menempuh  waktu perjalanan selama empat jam (lagi).


Baca juga: Kelahiran, Pernikahan, dan Kematian ala Masyarakat Baduy Dalam

Yang unik dari perjalanan pulang adalah… saya harus melewati turunan cinta. Turunan cinta adalah sebuah jalanan turunan yang amat terjal! Turunan itu dinamakan turunan cinta sebab untuk melewatinya, kita harus bergandengan tangan. Jalanan ekstrem seperti ini terkadang membuat kita harus berhati-hati dalam memilih langkah agar tidak terjatuh.

Sehabis pulang dari desa ini dan melihat foto ini lagi, jadi nyesel kenapa enggak coba menenun, ya. Hehehe.
Belajar Budaya Lokal dari Masyarakat Baduy
Alat-alat tenun.

But, thank God! Akhirnya bisa sampai di Baduy Luar. Ketika sampai di sana, saya melihat beragam aktivitas dari para penduduk desa Kanekes, terutama para perempuannya. Ada banyak wanita yang sedang menenun kain. Seperti yang sudah disampaikan pada posting sebelumnya, wanita Baduy harus bisa menenun kain sebab ini adalah mata pencaharian mereka. Wanita yang tidak bisa menenun tidak boleh menikah, lho!

Setelah merasakan betapa berbedanya menjadi orang Baduy Luar dan Baduy Dalam selama tiga hari, saya pun juga mempelajari berbagai karakteristik budaya yang melekat pada masyarakat suku Baduy tersebut.

Baca juga: 3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi


Meski Baduy Luar dan Baduy Dalam memiliki budaya yang sedikit berbeda, tetapi masyarakatnya tidak pernah memiliki konflik. Malahan, keduanya senantiasa menyesuaikan diri terhadap budaya-budaya yang ada dan selalu berusaha untuk menghindari konflik.

Mereka lebih memilih untuk menata kehidupan dan tingkah laku mereka sehingga keberadaannya bisa tetap dipertahankan. Masyarakat Baduy pun selalu bersikap santun dalam bertindak dan berbicara. Kepatuhan terhadap adat tertinggi pun menjadi tolok ukur bagi mereka untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Budaya itu dipelajari. Ketika seorang anak lahir, tentu ia akan mengikuti kebudayaan maupun adat istiadat yang dipegang teguh kedua orang tua mereka. Masyarakat Baduy senantiasa menjalankan adat yang sudah mereka dapatkan sejak kecil. Begitu juga dengan Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi.

Baca juga: Ini Pantangan Saat Mengunjungi Masyarakat Baduy Dalam

Mereka telah terbiasa berjalan ke manapun tanpa alas kaki, sebab dari kecil pun mereka tidak mengenal sandal atau sepatu. Selain itu, mereka juga belajar bagaimana bertahan hidup dari pengaruh budaya modern. Mereka harus menjalani hidup sehari-hari tanpa alat komunikasi, internet, baju mewah, ataupun makanan enak dari tempat lain.

Selain menjual baju khas Baduy, di sini juga ada yang menjual durian.

Kehidupan masyarakat Baduy juga bisa tergambar melalui peribahasa, “Perbuatan lebih berarti dari kata-kata dan tiada hasil tanpa jerih payah”. Laki-laki maupun perempuan menerapkan budaya dalam bekerja. Kalau mereka tidak bekerja, tentu mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Kerja keras masyarakat Baduy yang berasal dari penjualan souvenir, hasil bertani, maupun penjualan hasil pertanian nyatanya bisa membuat mereka hidup nikmat, meski keterbatasan materi kerap menghantui mereka.

Baca juga: Matahari Merapi dan Kisah di Puncaknya

Kemudian, budaya itu diturunkan dari generasi ke generasi. Untuk karakteristik budaya ini tampak jelas. Suku Baduy memiliki warisan sosial dan budaya yang didapat dari nenek moyang mereka. Kalau melanggar aturan adat tersebut, mau tak mau mereka harus bersedia untuk mendapatkan sanksi dan hukuman.

Budaya pun didasarkan pada simbol. Bisa dilihat dari bentuk rumah, model pakaian, mata pencaharian, sampai tradisi-tradisi yang menunjukan bahwa masyarakat Baduy memiliki pandangannya sendiri akan suatu aspek kehidupan.

Baca juga: 5 Tips Memotret di Tempat Wisata yang Penuh Keramaian

Pada intinya, masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam selalu berusaha memegang teguh budaya yang sudah masuk ke dalam aspek kehidupan mereka. Mereka tidak peduli bagaimana orang-orang di luar sana yang bisa menggunakan mobil, mengenakan baju ala perkotaan, tinggal di rumah mewah, ataupun menggunakan alat komunikasi.

Adat istiadat yang mengikat telah membuat mereka nyaman dengan apa yang dimiliki. Tak dimungkiri, budaya setempat telah membentuk pemikiran, perilaku, dan cara pandang atas suatu kehidupan pada masyarakat suku Baduy.


Ayo, kunjungi masyarakat Baduy dan belajar budaya lokal mereka.


XOXO, logo

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.