Kelahiran, Pernikahan, dan Kematian ala Masyarakat Baduy Dalam

masyarakat baduy dalam

Kelahiran, Pernikahan, dan Kematian ala Masyarakat Baduy Dalam – Setelah mengetahui bagaimana budaya Baduy Dalam hanya sebatas kulitnya saja, kini waktunya menyelam lebih dalam. Saya penasaran, apakah tata cara mereka ada yang sama seperti budaya lainnya? Terutama, dalam hal kelahiran, pernikahan, juga kematian. Mengingat masyarakat Baduy masih memegang teguh adat-istiadat mereka yang turun-temurun.

Kelahiran

Sistem kelahiran masyarakat Baduy menggunakan bantuan paraji atau dukun beranak. Prosesnya pun juga sederhana dan jauh dari kata modern. Nah, penamaan untuk anak-anak di Baduy juga cukup menggunakan satu kata saja, misalnya Jamra, Jamir, Kasmin, Armuta, dan lain-lain. Nama yang cukup unik untuk dipakai ya?

Pernikahan

Ternyata, masyarakat Baduy menikah pada umur 20-25 tahun untuk laki-laki dan di atas 16 tahun untuk perempuan. Masyarakat Baduy Dalam dijodohkan satu sama lain, tidak peduli ada hubungan persaudaraan atau hubungan darah.

Pernikahan ini memakan waktu kira-kira satu tahun dan melalui tiga tahap, yaitu pihak laki-laki menanyakan kesediaan dari pihak perempuan. Kemudian, apabila si perempuan setuju, si laki-laki akan membawa peralatan dapur yang menyatakan keseriusannya.

Terakhir, mereka berdua bisa menikah dan pihak laki-laki membawa perhiasan (mahar). Nah, jika ingin mencari perempuan Baduy yang belum menikah, kita bisa melihatnya dari anting berwarna yang dikenakannya.

Baca juga: Belajar Budaya Lokal dari Masyarakat Baduy

Yang sayang tangkap, bisa dibilang hampir semua masyarakat di Baduy Dalam ini memiliki tali persaudaraan. Mengapa? Sebab perjodohan ini dilakukan hanya untuk wilayah Baduy Dalam saja. Istri cukup satu dan mereka pun tidak boleh bercerai.

Berbeda dengan masyarakat Baduy Luar, mereka bebas memilih pasangan hidup mereka masing-masing. Di Baduy sendiri pun juga tidak mengenal adanya poligami.

Kematian

Ketika ada salah satu masyarakat Baduy yang meninggal dunia, akan diadakan acara pada hari pertama, ketiga, dan ketujuh. Prosesi pemakaman berlangsung singkat. Orang yang meninggal akan dibungkus kain putih dan dimandikan di tempat pemandian setinggi dada, lalu dikubur di tempat khusus.

Baca juga: 3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi

Pada hari ketiga, akan diadakan selametan. Pada hari ketujuh, kuburan tetap dirawat. Anehnya, setelah kuburan kembali menjadi rata, daerah itu bisa diinjak-injak dan bisa digunakan sebagai ladang.

Saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan ladang yang pernah saya lewati adalah bekas….

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *