100 Views

Bukan Uang Tunai, Ini Kebijakan Refund Citilink Terkait COVID-19 – Senang bukan main rasanya ketika Inbox email saya kedatangan pesan dari Traveloka, online travel agent langganan untuk pesan tiket pesawat, baik domestik maupun internasional. Subject email pesan tersebut tertulis begini, Voucher Travel Credit Citilink Anda (No. Refund XXX). Ketika membacanya, awalnya bingung sih, Travel Credit Citilink tuh apa, ya? Apa hubungannya dengan refund?

Oke, saya ajak kamu untuk mundur sedikit ke bulan Maret untuk tahu cerita lengkap mengenai kebijakan refund Citilink terkait COVID-19, ya.


Kebijakan Refund Citilink Terkait COVID-19

6 Maret 2020

Saya memesan tiket pesawat pesawat maskapai Citilink dengan tujuan Bandara Soekarno-Hatta Tangerang (CGK) ke Bandara Depati Amir Pangkal Pinang (PGK) dengan tanggal keberangkatan 29 Maret 2020 pukul 17.40-18.55 WIB. Saya pesan tiket tersebut untuk Mama yang ingin pulang kampung.

Waktu itu dapat tiket dengan harga yang lumayan pas di kantong, yakni Rp413.066. Harga aslinya Rp412.300 (kalau nggak salah udah dipotong diskon dari Traveloka), tapi ada kode unik Rp766 yang memang bertujuan untuk memverfiikasi transfer dengan lebih cepat dan mudah.

Siapa sangka, seminggu kemudian, wabah COVID-19 makin merebak di Indonesia. Memang, 4 hari sebelum saya pesan tiket pesawat, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus COVID-19 pertama yang menimpa dua warga Depok pada 2 Maret.


15 Maret 2020

Di Istana Kepresidenan, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa masyarakat harus menjalankan segala aktivitas di rumah guna menekan laju penyebaran virus corona ini. “Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” ujarnya, seperti saya kutip dari Kompas.com.


Ya udah deh, malamnya mau nggak mau saya membatalkan penerbangan Mama dan mengajukan refund di Traveloka. Hal ini pun saya lakukan selain karena memang menaati peraturan pemerintah, saya nggak pengin keluarga di kampung halaman jadi ikut terpapar virus ini. Who knows kita bisa jadi virus carrier, kan?

Pada 15 Maret 2020 puku 18.49 WIB, pengajuan refund telah diajukan. Saya mengisi beberapa data diri, seperti detail refund ke bank mana, serta alasan refund yang nggak lain dan nggak bukan adalah COVID-19. Saya kagum deh, dengan UI/UX aplikasi Traveloka, soalnya mereka cepat tanggap memperbarui UX copy salah satu alasan refund mereka yang tadinya cuma tertulis Force Majeure menjadi Force Majeure / Wabah Virus Corona.

Saya yakin pihak Traveloka sadar betul bahwa pasti akan ada banyak penumpangnya yang melakukan refund untuk alasan keselamatan dan kenyamanan bersama. Dengan alasan yang straight to the point seperti ini, penumpang pun nggak akan bertanya kembali apa alasan yang mesti mereka pilih jika ingin mengajukan refund.

Oh ya, saya juga diberi tahu estimasi refund yang saya dapat, yakni sekitar Rp339.816 yang mana jumlah tersebut sudah dikurangi biaya refund, diskon, juga pajak yang berlaku. Jujur, saya juga nggak tahu gimana itung-itungannya.


24 Maret 2020

Setelah pengajuan refund terkirim, saya cuma bisa nunggu tindak lanjut dari Traveloka dan Citilink. Sekitar semingguan kemudian, tepatnya tanggal 24 Maret 2020, saya dapat notifikasi bahwa pengajuan refund masih menunggu persetujuan. Lengkapnya begini.

Hitungan minggu dan bulan sudah terlewati, Traveloka dan Citilink nggak ada kabar sama sekali. Jujur, saya enggak mau follow up duluan karena saya tahu banget gimana riwehnya pihak online travel agent dan juga maskapai dalam mengurus refund para penumpang mereka yang super banyak.

Jadi, daripada saya bikin mereka makin pusing tujuh keliling, lebih baik sabar menunggu aja karena saya yakin, pengajuan saya pasti bakal diproses dan dikabari begitu sudah ada update lebih lanjut.


20 Mei 2020

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya dapat kabar pengajuan refund saya dari Traveloka. Mereka bilang kalau refund saya akan dikembalikan dalam bentuk travel credits, yang mana sesuai dengan keputusan maskapai Citilink. Di email tersebut diberi penjelasan lumayan detail tentang no. refund, kode voucher, nilai voucher, tanggal kedaluwarsa, cara redeem voucher, hingga syarat & ketentuannya.

Setelah saya teliti, ternyata nilai voucher yang saya dapat senilai Rp412.300, bukan Rp330 ribuan sesuai estimasi pengembalian di awal. Jumlah ini adalah harga asli tiket pesawat Citilink yang saya bayarkan. Kode unik emang nggak disertakan sih, tapi ya nggak apa-apa juga, wong cuma berapa ratus perak.


21 Mei 2020

Saya cerita ke Mama terkait kebijakan refund Citilink terkait COVID-19 ini. Saya menekankan pada poin bahwa pengembalian tiket nggak bisa dalam bentuk uang tunai. Eh, lalu Beliau bilang kalau temannya ada yang bisa bisa dapat uang tunai dari maskapai yang sama. Ya, heranlah saya.

Akhirnya saya kroscek lagi, dong. Soalnya kalau memang bisa ditukar dengan uang tunai, kenapa harus pakai travel credits segala? Meski harus saya akui kalau mengambil travel credits ini adalah langkah yang cukup cerdas yang diambil oleh mereka.

Akhirnya saya kontak Customer Service Citilink lewat live chat di laman maskapai ini. Saya bertanya apakah kebijakan refund Citilink terkait COVID-19 ini mempunyai page khusus yang bisa dipelajari lebih dulu. Eh, tapi ternyata CS-nya agak blibet, deh. ๐Ÿ˜…

Awalnya saya dimintai keterangan data diri. Oke, sudah saya berikan. Lalu, ia meminta kode booking tiket, nama penumpang, detail rute dan tanggal penerbangan, serta nomor ponsel/email yang tertera di tiket. Sudah saya berikan juga.

Nggak lama, ia membalas kalau dana refund saya sudah dikembalikan ke deposit agen per tanggal 17 April 2020. Dikatakan lagi bahwa kewenangan pengembalian refund ke penumpang ada di tangan travel agent dan masing-masing travel agent mempunyai kebijakan yang berbeda-beda.

Wait, what? Saya sampai baca chat tersebut berulang kali. Takut mata saya salah baca karena kala itu hampir pukul 12 malam. Saya salah baca nggak, sih? Yang bikin kewenangan soal refund tuh travel agent atau pihak maskapai, ya? Si travel agent di email-nya bilang kalau proses refund mengikuti kebijakan baru maskapai, tapi kenapa pihak maskapai bilang kalau kewenangan refund ada di pihak travel agent masing-masing?

Jujur, saya jadi suudzon duluan. Hahaha ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Soalnya informasinya beda dan masih abu-abu banget, nih. Akhirnya saya konfirmasi lagi mengenai kebijakan pengembalian dana tuh tanggung jawab siapa, sih?

CS Citilink menjawab yang intinya begini, kalau penumpang membeli tiket lewat travel agent, maka maskapai akan melakukan refund ke travel agent, baru nanti di-refund ke masing-masing penumpang. Ia kembali menegaskan bahwa kewenangan soal pengembalian dana ada di travel agent dan kebijakan yang diusung pun berbeda-beda.

Asli deh, saya sempet mikir. Jangan-jangan, pihak maskapai udah kasih dana refund ke travel agent, tapi si travel agent malah ngasih travel credits ke penumpangnya biar mereka (mau nggak mau) tetep menggunakan layanan di travel agent tersebut. Hmm… make sense nggak, sih? ๐Ÿค”

Karena belum puas dengan jawaban Citilink, akhirnya saya copy-paste isi email dari Traveloka. Nggak lama, CS itu menjawab, “Ibu Sintia, untuk informasi refund voucher citilink silahkan bisa mengakses https://www.citilink.co.id/refundvoucher“.

Doohhh… rasanya pengin nepuk kening, deh! Ini tuh yang saya tanyain di awal, Mas! Hahaha. Saya cuma pengin tahu apakah ada page khusus soal kebijakan refund Citilik terkait COVID-19 biar infonya lebih valid. Malah jadi ngalor-ngidul sampe nebak ini wewenang siapa, ini kebijakan siapa.

Nah, supaya informasinya makin jelas dan terverifikasi, akhirnya saya googling lagi mengenai kebijakan refund ini. Nemu nih, ternyata Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto pernah bilang kalau gara-gara COVID-19 ini, masyarakat bisa melakukan refund ke masing-masing maskapai, hanya saja pengembalian pembelian tiket tersebut nggak bisa berbentuk uang tunai. Kebijakan ini ternyata sudah tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 185 tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, lho!

โ€œAirlines tidak ada kewajiban kembalikan uang cash, tapi dalam voucher yang 100 persen sama nilainya dengan yang sudah dikeluarkan,โ€ katanya seperti tertulis di Kompas.com. Oh ya, voucher ini memiliki masa berlaku seenggaknya satu tahun dan dapat diperpanjang satu kali.

Dan ya, sepertinya ini memang kebijakan refund Citilink terkait COVID-19, bukan Traveloka, ya. Kalau mau tahu informasi lebih lanjut mengenai kebijakan masing-masing maskapai, Traveloka sudah merangkumnya di sini. Infonya lumayan lengkap. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘

Well, sekarang infonya jadi lebih jelas dan enggak abu-abu lagi, ya. Kalau saya sendiri sebenernya nggak terlalu mempermasalahkan mau dikembalikan dalam bentuk uang tunai atau travel credits. Feeling saya sih pasti ujung-ujungnya bakalan dipake juga. Hehehe.

Omong-omong, untuk kamu yang saat ini sedang dalam proses refund, apakah sudah ada kabar terbaru dari online travel agent atau pihak maskapai? Meski lama menunggu kabar, semoga selalu sabar dan cepat dapat kabar.

Saya tahu kita semua udah nggak sabar buat jalan-jalan lagi, tapi please tunda dulu mudik, ya. Kalau COVID-19 di negara kita dan yang lainnya sudah berakhir, boleh banget kok mudik atau jalan-jalan ke mana gitu. Namun untuk saat ini, mohon untuk tetap di rumah aja. Jangan ngeyel. Kita saling jaga negeri ini supaya angka penyebaran virusnya nggak meningkat. Kamu juga pengin semuanya balik normal dan baik-baik aja, kan?

Eh iya, omong-omong soal Citilink, kok mendadak kangen pengin denger pramugari/pramugara mereka berpantun ria, ya? ๐Ÿ˜†


13 thoughts on “Bukan Uang Tunai, Ini Kebijakan Refund Citilink Terkait COVID-19

  1. Saya sebelum covid sudah sempat mau membeli tiket untuk mertua buat mereka pulang kampung. Untungnya, belum jadi beli sih. Jadi tidak dapat ribetnya untuk refund.

    Terima kasih sudah sharing ya mbak, beberapa teman yang juga sempat pesan citilink awalnya bingung dengan kebijakan refund. Saya akan share ini ke temen saya yang belum nemu jawabannya.

    Salam kenal

    1. Iya, karena informasi mengenai kebijakan refund ini belum komprehensif dan mendetail. Jadinya masih banyak yang bertanya sana-sini. Omong-omong, terima kasih sudah membaca tulisan ini dan salam kenal kembali, Kak. ๐Ÿ™‚

  2. Kalau nilai creditnya sama dengan tunai, kayaknya solusi refund seperti ini bagus, Mbak. Jalan tengah. Calon penumpang bisa sekalian nabung, pihak maskapai masih bisa bernapas menunggu penerbangan semarak lagi. ๐Ÿ™‚

    1. Dan pada akhirnya win-win solution, ya. Memang gak semua pengin dapet travel credits. Mungkin ada teman-teman pejalan lain yang nggak tahu kapan bakal terbang lagi dan lebih milih untuk dapet uang tunai. Namun, sayangnya nggak bisa. Tapi semoga ini adalah jalan terbaik bagi semua pihak. ๐Ÿ™‚

  3. Ya Allah ribet juga ya. Saya bersyukur kebetulan kuliah di depok dan wisuda bulan feb kemaren. Seminggu setelah kasus pertama covid di depok, saya pulang kampung. Gak tau kalo waktu itu gak pulang, nasib saya gimana ๐Ÿ˜‚

  4. nahini, aku tadinya punya tiket Garuda di bulan April, terus gak jadilah.. aku reskedul ke bulan September (tapi gak naik Garuda dan hanguslah 25% ) ganti Citilink yang dananya mencukupi dari refund garuda ini.
    Kayaknya yang September ini Citilink juga bakal failed deh, dan mungkin juga bakal minta refund lagi, huhuw kayaknya kalaupun kerefund juga tinggal 75% berupa travel voucher juga yah.
    Tapi nanti aja deh refundnya deket2 hari..
    Apalagi bepergian walo jalan2 aja harus seizin atasan, walahh alamat ditolak ini izinnya.

  5. Dan ini permasalahan maskapai dan travel agent di seluruh dunia. Mau ngomel juga kasian mereka antreannya banyak. Gak ngomel itu duit kita. Dan aku masih ada refund AirAsia yang belum balik juga huvt. Udah tiga bulan, dan nilainya lumayan banyak huhu.

  6. pasti bakal banyak yang sedang berurusan dengan tiket refund. beberapa bisa refund dalam bentuk uang tunai, tapi ada juga yang dikasih dalam bentuk voucher. kalau voucher beruntung masih bisa dipakai kalau limit waktunya belum lewat ya.

    1. Betul. Kalau kasusku, mereka kasih limit sekitar 1 tahun, jadi mau tak mau harus menggunakan voucher tersebut supaya nggak hangus dan kita juga nggak rugi. Hhh… bener-bener berharap pandemi ini segera berakhir.

  7. Wkwkwk jd ikutan tepok jidat mbak Sintia.. Bener bgt sih, karena infonya berbelit jd ikutan suudzon. Wkwk
    Lumayan lah gpp bukan uang tunai asal nominalnya sesuai wlpun beda berapa ratus perak ya. Hhh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close