8 Tips Meningkatkan Engagement Bookstagram

8 Tips Meningkatkan Engagement Bookstagram – Kalau sudah membaca artikel soal bagaimana sih menambah followers Bookstagram untuk pemula, kamu akan tahu kalau meninggalkan komentar bisa menjadi salah satu cara efektif guna meningkatkan engagement Bookstagram. Apalagi, komunitas Bookstagram Indonesia sangat aktif. Hal ini pun sering saya terapkan untuk @sintiawithbooks. Sebab, biar bagaimanapun juga, jumlah followers Bookstagram yang terus bertambah dari hari ke hari bisa menjadi bentuk dukungan mereka terhadap akun kita. Banyaknya followers juga bisa menjadi nilai jual tersendiri, khususnya bagi para Bookstagrammer yang diajak kerja sama oleh pihak luar, untuk meng-influence para pencinta literasi lainnya. Namun, penting banget untuk diingat, nih, apabila ingin engagement bertambah lewat pemberian komentar, ada teknik dan aturannya juga, lho. Kalau terlalu sering menulis komentar (bahkan yang enggak ada hubungannya dengan foto), bisa-bisa kamu dianggap spamming. Baca juga: 30+ Most Popular Bookstagram Hashtags to Increase Your Followers Menurut pengalaman, selama saya Bookstagramming, jarang banget sih dapet komentar spam semacam dari akun peninggi dan pelangsing badan. Hehehe. Palingan cuma dari online shop yang menawarkan produk-produk mereka, itu pun yang ada hubungannya dengan buku. Jadi, masih wajar, sih. Nah, kalau kamu ingin meningkatkan engagement  Bookstagram, ini 8 teknik yang wajib kamu perhatian. 8 Tips Meningkatkan Engagement Bookstagram Memberikan apresiasi pada pengguna lainnya View this post on Instagram Day 2 of #AugustofPages: ROMANCE NOVEL. #gayleforman #justoneyear #romancenovel #bookmail @bookstagramfeatures A post shared by 𝗦𝗜𝗡𝗧𝗜𝗔 𝗔𝗦𝗧𝗔𝗥𝗜𝗡𝗔 🌻 (@sintiawithbooks) on Aug 2, 2016 at 6:26am PDT Ini dia tips meningkatkan engagement Bookstagram yang pertama. Ada banyak sekali akun Bookstagram yang foto-fotonya kreatif banget dan bisa dibilang, memancing siapapun buat nge-like. Nah, coba deh, apresiasi mereka dengan meninggalkan komentar yang memuji karya mereka. Beberapa contoh kalimat yang bisa kamu pakai, misalnya “Such a lovely gallery. Thanks for giving me inspiration. Have a bookish day!” “I’m in love with the cover. Where did you buy this book?” “OMG so gorgeous! What app do you use?” Ajukan pertanyaan di caption View this post on Instagram 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙖? 📚📚 . Aku mau rekomendasiin satu tempat baca buku yang menurutku lumayan asyik, yakni Kullerfull Coffee & Eatery (@kullerfull) di BSD, Tangerang. Sebenernya, kedai kopi ini jadi venue Baca Bareng Tangerang Januari kemarin dan ternyata tempatnya seru! Karena selalu rame, aku mesti book tempat dulu biar nggak kehabisan. Kalau mau book tempat buat ramean pun ternyata nggak ada minimum purchase! Asli happy bangeeet! 😭❤ . Nah, waktu Baca Bareng kemarin, kami dapet di lantai 2 yang cukup luas. Banyak spot Instagrammable juga! Hehehe. 😁😁 Sayangnya pas weekend itu emang lagi full banget tempatnya. Di lantai 2 pun lumayan berisik soalnya lagi ada 2 rombongan gede gitu. Kami yang lagi asyik baca buku kadang jadi gak konsen, ke-distract sama suara-suara dari meja sebelah di ruangan kami. 😅😅 . Anyway, ada yang menarik di kedai kopi ini. Ternyata di lantai 2 ini ada rak buku yang bisa dibaca sama pengunjung, lho! 📚📚 Duh paling seneng kalo ada coffee shop yang nyediain buku-buku buat dibaca. Di sini aku nemu koleksi buku dari penulis luar negeri yang aku suka banget, yaitu Nicholas Sparks dengan karyanya The Last Song. Lalu, aku ngelihat ada buku-bukunya @deelestari yang seri Supernova. FYI, Kullerfull ini jadi salah satu tempat nongkrong favorit Dee Lestari di Tangsel, lho! Wihh… siapa tahu pas kamu main ke sini, kamu bisa ketemu dan foto langsung sama Ibu Suri. Hehehe. . Ngelihat beberapa koleksi buku di kedai kopi ini, aku jadi kepikiran, kayaknya kalo kelupaan bawa buku pas Baca Bareng kemarin, aku bisa pinjem satu buku di Kullerfull ini buat aku baca selama 1-2 jam, deh. Tapi waktu itu aku bawa buku nonfiksi yang berjudul Jangan Membuat Masalah Kecil dalam Hubungan Cinta Jadi Masalah Besar yang ditulis oleh Richard dan Kristine Carlson. Bukunya menarik banget dan bakal aku bikin review-nya kalau udah selesai membacanya, yaa. . Oh ya, minta rekomendasi tempat baca buku seru yang ada di deket rumah kamu, dong! 🤗🤗 A post shared by 𝗦𝗜𝗡𝗧𝗜𝗔 𝗔𝗦𝗧𝗔𝗥𝗜𝗡𝗔 🌻 (@sintiawithbooks) on Feb 1, 2020 at 4:40am PST Menulis caption itu enggak mudah. Saya sendiri termasuk orang yang menulis caption last minute alias enggak persiapan. It’s not good, I know. Saya jadi enggak maksimal ketika menerjemahkan pemikiran ke dalam kata-kata. Makanya, nggak heran kalau caption yang sudah di-posting bakal banyak revisian, entah itu salah ketik, salah mention akun, enggak terstruktur, dan sebagainya. Bahkan, enggak jarang, awalnya saya berharap bisa dapat banyak komentar dari sesama pengguna, eh malah kolom komentar saya kosong. Nggak pengin hal ini terjadi berulang kali, saya coba lebih persiapan. Salah satu caranya adalah dengan membubuhkan pertanyaan pada kalimat pertama caption saya. Agar lebih menonjol, saya biasarnya memberi huruf kapital dengan tulisan yang tebal supaya followers lebih aware. Pertanyaannya, apakah model caption seperti ini selalu works? Most likely, yes. Tapi kadang ada yang zonk juga, sih. Kuncinya, trial and error aja. Kalau cara satu nggak berhasil, coba cara lain yang lebih oke. 😀 Di samping itu, jika ingin meningkatkan engagement Bookstagram dengan cara lain, kamu juga bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan pemilik akun lain, lho. Istilahnya, kamu “jemput bola” duluan. Sebagai contoh, ada yang bertanya, “Who’s your favorite male writer?”. Lalu, tuliskan jawaban yang sesuai pada kolom komentar, seperti “I love Nicholas Sparks. A Walk to Remember is my favorite. Have you read the book or watched the movie?” “Haruki Murakami is the best. Can’t hardly wait to enjoy his latest work!” “I do love reading Shakespeare’s books. How about you? Baca juga: Q&A: 15 Fun Facts about Me and My Bookstagram @sintiawithbooks Tunjukkan bahwa kamu membaca caption yang mereka tulis dan dengan membubuhkan komentar, mereka juga akan tahu bahwa kamu adalah Bookstagrammer yang aktif. Apabila si pemilik akun membalas lagi komentarmu, jangan sampai kamu tidak mengacuhkannya, ya. Siapa tahu, kalian bisa terlibat dalam diskusi seru soal penulis, yang bisa saja memperluas jaringan pertemananmu di komunitas ini. Siapa tahu juga, ia tertarik untuk melihat-lihat feed kamu, bahkan balas memberikan komentar di unggahan terakhir kamu. Bagikan cerita atau pengalaman yang personal View this post on Instagram [UPDATED] I was asked to review this poetry book and it took ages to do it cuz I've been freaking damn busy. I'm gonna post the photo first and write down the review later. Hope you guys are interested in my honest opinion about this book. Anyway, have you read this book by @nlshompole? – – No one tells you how the melancholy seeps in, halfway through the morning, steeped in indigo clouds, and the remnants of last night’s dream." – – Reading this book was a different experience for me. I'm able to know more vocabulary and it makes me want to explore more about poetry in English. Besides, I love the way the author chose her own words to explain or describe things in her head. Also, the way she combined several themes makes this book more unique. This book is worth to read, guys! . #SintiaReads A post shared by 𝗦𝗜𝗡𝗧𝗜𝗔 𝗔𝗦𝗧𝗔𝗥𝗜𝗡𝗔 🌻 (@sintiawithbooks) on Mar 3, 2017 at 4:47am PST Well, kalau sudah berkecimpung di dunia Bookstagram untuk waktu yang relatif lama, diam-diam kamu akan menyadari bahwa enggak sedikit Bookstagrammer yang bercerita soal keseharian atau pemikirannya akan suatu sesuatu. Hal itu pun diungkapkan lewat tulisan pada caption foto yang di-post-nya. Sebagai contoh, saya pernah menulis kalau saya lagi galau banget. Bukan, bukan galau karena cinta. Saya galau karena merasa enggak punya banyak waktu untuk mengurus Bookstagram lantaran disibukkan banyak hal. Saya juga mengungkapkan, followers @sintiawithbooks makin lama makin berkurang karena udah lama banget enggak ada konten yang saya unggah. Duh, gimana caranya meningkatkan engagement Bookstagram kalau begini terus? You know what, social media, Instagram especially, is really, really stressful. Kalau like dikit, stres. Kalau nggak ada yang komen, stres juga. Baca juga: Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi Jujur, saya bingung banget, mau saya arahkan ke mana Bookstagram ini? Perlukah di-deactivate? Atau, hiatus sementara saja? Lalu, beberapa contoh kalimat dukungan (juga sedikit saran) yang pernah saya dapat adalah seperti di bawah ini. “Jangan di-deactivate, Kak. Sayang banget akunnya.” Aku juga ngerasa begitu, sibuk banget sampai-sampai Bookstagram enggak keurus. Kalau mau, tulis hiatus aja biar followers enggak berkurang.” “Kalau mau, coba rajin posting di Insta Story aja biar kesannya tetap aktif. Hehehe.” Ajak followers untuk mention 3 teman lain View this post on Instagram Toko Budi, toko buku independen kesayangan pencinta literasi Jogjakarta. . Bila Jakarta punya toko buku indie @post_santa yang cukup populer, Jogja juga punya @bukuindie_ dengan koleksi yang enggak kalah menarik. Lokasi toko buku kecil ini bersebelahan dengan penerbit Indie Book Corner. Jadi inget deh dulu suka banget beli buku terbitan mereka secara online dan sekarang kesampaian main langsung, bahkan ketemu langsung sama salah satu editornya, Mas @cahyodreamer. . Omong-omong, Toko Budi jual buku apa aja, nih? Macem-macem, mulai dari novel fiksi, sastra, kumpulan cerpen, atau buku puisi seperti yang aku beli di sana (aku beli buku Bicara Besar karya Kezia Alaia). Btw kamu juga bisa ngedapetin @ktbb.ktbb karya @marchellafp di sini, lho! . Kemudian, Toko Budi juga masih satu atap dengan sebuah kedai kopi bernama 7PM Books and Coffee. Aku cuma numpang lewat aja, sih. Cuman kalo aku perhatiin, pengunjung kedai kopi outdoor ini banyak yang asyik laptop-an. Mungkin cozy rasanya kerja di sana. 🌿🍃 . Nah, kalau punya waktu lowong, main-mainlah ke sini. Siapa tahu sehabis borong buku di Toko Budi, kamu bisa ketemu langsung sama editor Indie Book Corner lalu konsultasi naskah atau berdiskusi soal penerbit independen zaman sekarang. Bisa juga, nongkrong di kedai kopi sambil baca buku yang baru dibelli. Hehehe. 😊😊 . Jujur, aku seneng banget tahu kalau ada banyak toko buku indie atau perpustakaan di Jogja. Masyarakat di sana pun bisa lebih dekat aksesnya dengan bacaan-bacaan seru, termasuk bacaan alternatif. Setahuku, Jogja juga punya banyak penerbit indie. Harapanku, ini bisa jadi satu ekosistem yang sama-sama menguntungkan, baik bagi pemilik toko buku/perpustakaan maupun pembaca sekalian. Nggak lupa, semoga makin banyak temen-temen di Jogja yang gemar membaca buku. 😊❤ . MENTION 3 TEMEN YANG MAU KAMU AJAK KE TOKO BUDI. 📚📚 A post shared by 𝗦𝗜𝗡𝗧𝗜𝗔 𝗔𝗦𝗧𝗔𝗥𝗜𝗡𝗔 🌻 (@sintiawithbooks) on Dec 4, 2019 at 4:34am PST Selain memuat ulasan buku yang dibaca, saya juga sering berbagi cerita dan pengalaman mengenai perpustakaan atau toko buku yang dikunjungi. Unggahan macam ini biasanya punya engagement rate yang lebih tinggi. Kenapa? Pada sebuah workshop social media yang saya ikuti, salah seorang pemateri berkata, “Ada dua tipe konten yang harus lo posting, yakni menghibur dan/atau informatif”. Artinya, dalam kasus saya, posting-an soal perpustakaan atau toko buku termasuk dalam kategori informatif. Nggak heran kalau tingkat share atau saved tinggi abis. Namun tentu aja hal tersebut didukung dengan caption yang encouraging juga,ya. Pada akhir caption saya juga menulis, “Coba mention 3 teman yang pengin kamu ajak ke sini!”, and tadaaa… yang kasih komen lumayan banyak, yang share juga, apalagi yang nge-save fotonya. Wihiiii! 😀 Mau coba meningkatkan engagement Bookstagram dengan cara ini nggak? Memberi semangat View this post on Instagram Day 12 of #FULLYBOOKEDJUNE16: BOOKS YOU RECOMMEND. A post shared by 𝗦𝗜𝗡𝗧𝗜𝗔 𝗔𝗦𝗧𝗔𝗥𝗜𝗡𝗔 🌻 (@sintiawithbooks) on Jun 12, 2016 at 1:25am PDT Di komunitas Bookstagram, kamu akan menemukan banyak Bookstagrammer yang mengikuti Rep Search, yang intinya si pemilik akun ingin jadi bagian suatu brand untuk mempromosikan produk-produk yang dijual. Biasanya, si pemilik akun akan mem-posting foto terbaik mereka, mempromosikan diri, juga menyertakan alasan kenapa sih, dia harus terpilih sebagai representative. Baca juga: 11 Most Creative Bookstagrammers to Follow in 2020 Nah, jika ada teman Bookstagrammer kamu yang ikut kontes ini, coba berikan semangat untuknya. Tulis aja di kolom komentar, “Good luck!” I know you’re gonna win!” “You have such lovely photos. Best of luck!” Wajib aktif di Insta Story View this post on Instagram 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 @𝙟𝙤𝙠𝙤_𝙥𝙞𝙣𝙪𝙧𝙗𝙤. 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙙𝙞𝙪𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚 𝙋𝙚𝙧𝙟𝙖𝙢𝙪𝙖𝙣 𝙆𝙝𝙤𝙣𝙜 𝙂𝙪𝙖𝙣. 🏮🏮 . Super excited nungguin buku ini sampai di rumah. Selain karena selalu penasaran sama karya-karya Joko Pinurbo alias Jokpin, inspirasi karyanya juga cukup nyeleneh. Bayangin aja, kali ini, Biskuit Khong Guan bisa disulap jadi puisi-puisi yang berkaitan dengan agama, budaya, tradisi, juga hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal lain di sekitar kita. Misalnya, ketika kita kena musibah tapi baru ingat akan Tuhan, tentang kita yang munafik menggembar-gemborkan soal agama, tentang … Continue reading 8 Tips Meningkatkan Engagement Bookstagram