Lewat Apnea Culture, Mikhael Dominico Ungkapkan Cintanya pada Freedive

Jul 20, 2021

Lewat Apnea Culture, Mikhael Dominico Ungkapkan Cintanya pada Freedive – Sebagai seseorang yang punya trauma dengan air dan kedalaman, mungkin akan mendapat pertanyaan, apa yang akan saya lakukan di Tribuana Dive Center siang itu, di kolam terdalam se-Asia Tenggara?

Melihat birunya air kolam mungkin tampak begitu menyegarkan. “Rasanya pengin nyebur,” kata kebanyakan orang. Namun bagi saya, membayangkan apa yang ada di dalam kolam yang dasarnya nggak bisa saya lihat, bahkan membuat saya harus berjarak dengan tepiannya.

Siang itu, saya punya janji bertemu dengan Mikhael Dominico, pendiri Apnea Culture, sebuah komunitas, sekolah, dan freediving gear shop yang berbasis di Jakarta. Beberapa hari sebelumnya saya sempat mengobrol dengannya mengenai freediving di Indonesia dan hari itu saya ingin melihat bagaimana aktivitasnya secara langsung.

Hai, Mikhael! Gimana, sih, awalnya bisa senang main di air?

Waktu kecil saya suka tanding renang. Terakhir kuliah S1 masih ada tanding, tapi nggak terlalu aktif, tapi masih senang main di air. Coba cari-cari kegiatan lain dan di situ saya belajar scuba. Dari scuba, mulailah tahu soal freediving. Dan begitu tahu, wah kayaknya lebih suka.

Kebetulan saya S2 di luar, terus belajar freedive di Inggris. Mulai ngobrol dan tanya-tanya soal freediving di 2012 dan ikut course-nya itu di 2013 awal. Lanjut, deh, terus sampai sekarang.

Itu juga kah yang akhirnya jadi titik mula berdirinya Apnea Culture?

Selesai S2 dan pulang ke Indonesia, saya cari tahu ada course freediving, nggak? Coba cari peralatan freediving juga, karena di Inggris kalau mau cari peralatan tuh lumayan mudah. Online shop ada, physical store ada. Di Indonesia ternyata nggak semudah itu.

Dulu, komunitasnya masih kecil dan belum dikenal seperti sekarang. Toko-toko (alat) diving pun belum terlalu lihat freediving punya market. Saya ngerasa, kok kayaknya agak susah, ya, cari peralatan?

Karena saya ada link di Inggris, tahu supplier di sana, beberapa juga saya tahu produsennya. Akhirnya bisa dapat kontak dan deal sama mereka untuk jualan di Indonesia.

Jadi, Apnea Culture itu awal mulanya bukan dari edukasi (sekolah freedive), melainkan dari jualan peralatan dulu. Nama Apnea Culture dipakai di 2014.

Menarik! Tapi kenapa namanya Apnea “Culture”?

Kalau lihat balik ke zaman dulu, freedive itu udah banyak dilakukan. Jadi ada Suku Bajau, di Jepang ada Ama Diver, di Korea ada Haenyeo, di negara-negara Eropa pun ada orang/nelayan yang mencari makan, mutiara, kerang, dan lainnya, dan bekerja dengan menyelam.

Yang saya lihat saat itu memang kegiatan freediving nggak bisa disamain kegiatannya di konteks recreational dan mata pencaharian. Ketika orang butuh makan dari menyelam, mereka lebih berani untuk ambil risiko. Jadi ada unsur, “Kalau saya nggak bisa provide makanan untuk keluarga saya, ya keluarga saya juga nggak bisa hidup.” Itu mereka siap nanggung risiko lebih besar.

Kalau recreational, main ke laut tapi pulang-pulang cidera atau telinganya mengalami gangguan pendengaran, yang ada, di perjalanan kita jadi terganggu dan tidak menyenangkan. Jadi ada perbedaan kultur yang ingin saya kenalkan.

Walaupun kita freediving sebagai rekreasi, kita harus belajar dengan baik, ada peralatan yang perlu dipakai dan kita perlu meminimalkan risiko yang ada. Makanya saya pakai (nama) Apnea Culture karena saya ingin mengenalkan standar atau habit, mungkin di mana saya bisa melakukan freediving dengan aman dan menyenangkan.

Di salah satu video, Mikhael pernah bilang bahwa Apnea Culture sendiri dibentuk karena ingin memberikan dampak sosial bagi freediving Indonesia?

Waktu saya kembali ke Indonesia, kadang sedih tahu bahwa banyak yang masih nggak bisa berenang.

Gue juga nggak bisa, sih. Hehehe. 😅

Ayo, belajar (sambil tersenyum). Padahal, banyak destinasi yang jadi spot favorit buat freediver/scuba diver dunia. Lautnya tuh bagus banget, tapi orang Indonesia nggak bisa menikmati karena mereka belum terlalu bisa berenang.

Kami pengin bikin orang-orang lebih mencintai air. Di freedive, bukan cuma diajarin gimana caranya nikmatin laut, tapi gimana bisa aman di laut, caranya tahan napas, juga tetap tenang saat menghadapi masalah di air.

Jadi ini sangat baik untuk mereka yang mungkin punya trauma, misal pernah tenggelam saat kecil. Jadi, saya rasa sangat cocok untuk bisa ngembangin kecintaan orang terhadap air atau laut. Itu ide pertama.

Adapula isu yang perlu diangkat Apnea Culture, misalnya soal sampah. Kami pernah bikin kegiatan 17-an di Bali dan bikin Selam Pinang. Ini kegiatan kumpul-kumpul sesama freediver, juga campaign ke warga lokal sekitar, terutama anak-anak, gimana caranya bisa mencintai laut serta jangan buang sampah sembarangan.

Kami juga kumpulin masker untuk anak-anak pesisir karena ternyata banyak yang tinggal di pinggir laut, tapi mereka nggak pernah melihat seberapa indahnya.

Di luar dua poin di atas, kami ingin sekali memajukan pariwisata bahari di Indonesia. Jadi, standar guide-guide lokal di Indonesia itu masih terbilang kurang. Ada yang berenang aja enggak bisa, prosedur keselamatan dan pertolongan pertama nggak paham, beberapa juga melanggar regulasi yang ditetapkan supaya mereka bisa dapat pemasukan yang cukup.

Belum lagi overcapacity, melanggar aturan-aturan misal nggak boleh taruh jangkar tapi mereka tetap taruh, nggak boleh mendekat ke coral tapi mereka mendekat, nggak boleh injak karang juga tapi diinjak. Jadi, ya … serba salah.

Mengenai isu tersebut, solusi apa yang ditawarkan?

Kami sempat bekerja sama dengan ASTINDO (Asosiasi Travel Agent Indonesia) untuk bikin pelatihan di Derawan tentang safety, bagaimana best practice ketika serve tamu, dan memastikan ketika ada trip bahari, guide lokal tuh tahu mereka harus ngapain. Soal pelatihan untuk local guide, kami ada concern ke arah sana.

Apnea Culture memang tidak memiliki sertifikasi atau bukti keahlian dalam hospitality atau best practice di bidang tourism, tapi kami sangat ingin pariwisata Indonesia bisa berkembang dan maju.

Nah, hampir 8 tahun membangun Apnea Culture, apa suka dukanya?

Freediving itu kan olahraga yang cukup unik, ya. Buat orang-orang umum, kesannya tuh sangat bahaya karena tingkat risiko tinggi sekali. Waktu awal awal untuk bisa dapetin persetujuan dari orang tua, berat, ya. Mereka selalu tanya, “Ngapain, sih, kamu? Carilah olahraga yang lain. Ngapain, sih, harus freedive?”

Saya sempat merasa nggak didukung, tapi gimana caranya kita bisa meyakinkan mereka bahwa kita tahu batasannya di mana, olahraga ini aman, dan karena kita punya niat dan semangat untuk menjalankan kegiatan ini, jadinya nggak sampai berlarut-larut.

Sukanya, ketika melihat bahwa akhirnya mindset mereka mulai berubah dari yang ketika ketemu sama orang itu malu mungkin ya, ketika mereka harus ngomong bahwa saya itu mengajar freedive. Sampai akhirnya saya melihat bahwa mereka mendukung adalah ketika mereka dengan bangga bisa bilang, “Oh ya, Mikhael tuh ngajar freediving di Jakarta.” Seneng akhirnya bisa dapet support.

Dukanya, mungkin ini berhubungan sama yang tadi Sintia tanyain. Dulu orang-orang belajar freedive karena rata-rata mereka traveler yang ingin main di air, jadi mereka ambil course untuk dapetin ilmunya.

Tapi sekarang sudah mulai ada pergeseran di mana mereka belajar freediving dengan menghalalkan segala cara agar bisa dapat foto untuk media sosial, yang mana kadang-kadang jadi membahayakan dive-nya itu sendiri. Saya kembalikan lagi ke mereka, pelajari dulu dengan benar, foto itu bonus.

Gue sering lihat foto jepretan Mike berseliweran di Insta Story. Gimana mulanya suka underwater photography?

Mulanya iseng juga, sih. Jadi, selain renang dan main air, saya suka gambar. Makin gede mulai males gambarnya, mulai pindah ke foto. Dulu kadang suka mikir gini, udah jauh-jauh pergi ke satu tempat, kita lihat hal yang bagus, tapi pengin sharing ke yang lain kan, ke orang tua, ke keluarga, ini bagus, lho.

Saya suka ditanyain orang tua, kamu mau ke mana, berapa lama, apa aja yang udah dilakuin, apa aja yang udah dilihat? Dengan adanya kamera, saya bisa share ke mereka.

Sekarang, bisa dibilang fotografi bawah air juga jadi salah satu pelarian kalau bosen atau capek ngajar karena bisa refreshing. Kamera juga bisa bantu lihat angle baru, dalam artian bahwa freediving itu bukan semata-mata teknik tahan napas dan menyelam dalam aja, tapi ada keindahan dan artistiknya juga. Jadi, ya, dengan main kamera dan ngajar, saya jadi bisa dapat keindahan dari dunia itu.

Perjalanan Mike di dunia air pasti nggak instan. Siapa, sih, orang yang paling berpengaruh?

Kalau saya bisa bilang … orang tua. Waktu saya mulai bikin Apnea Culture, itu dengan uang tabungan sisa kuliah. Jadi, waktu S2 dikasih biaya hidup, biaya kuliah, lalu ada sisa uang sedikit yang waktu pulang ke Indonesia, ya, kalau mau usaha, saya bisa pakai uang itu.

Dari dulu, orang tua saya selalu mengajarkan kalau mau bikin usaha, mulailah dari yang kecil dahulu. Itu yang membuat saya ya udah deh, kita coba aja, toh ini uang sendiri bukan pinjaman. Ketika berkembang, kalau enak, ya, saya yang nikmatin. Kalau nggak, saya yang rugi sendiri.

Didikan orang tua yang bantu saya untuk bisa kembangin freediving di Apnea Culture.

Kenapa saya merasa mereka berpengaruh, jadi… terlepas dari ketidaksetujuan mereka, mereka masih ngizinin saya untuk ngerjain.

Mereka suka bilang gini ke saya, “Apnea Culture ini adalah project idealisnya kamu, nggak bisa kamu lihat sebagai kerjaan” karena semua yang dikerjakan di Apnea Culture itu bener-bener awalnya dari ide. Saya pakai Apnea Culture untuk wujudin ide tersebut dan … akhirnya nggak kayak bisnis. Sementara kalau mau kerja ya, mau nggak mau mesti pikirin uang, kan.

Yang jadi batasan saya waktu itu, kalau sampai modalnya habis, saya nggak punya uang lagi, ya saya stop. Dan akhirnya sampai sekarang Puji Tuhan (uangnya) keputar terus.

Walaupun mereka dukung dengan cara yang agak sinis, menurut saya itu berhasil membuat saya jadi terpacu.

Berapa lama Mike yakinin mereka kalo bisa ngejalanin ini semua?

Berapa lama, ya… jadi di awal mereka nggak gitu setuju dan ada beberapa faktor. Yang pertama, ketika saya udah mulai ngajar, ini hubungannya sama nyawa orang. Apalagi kalau kita bawa ke laut, ini tuh anak orang yang kita ajakin. Jadi ada tingkat risiko yang bukan cuma ke diri kita doang, melainkan ke orang lain. Itu yang bikin mereka agak worry.

Kedua, tenaga yang dikeluarkan dengan uang yang dihasilkan, mereka melihat itu nggak sebanding. Ngajar freedive itu pekerjaan fisik dan mental sekaligus. Jadi secara fisik harus memang ada di air dan secara mental kita harus berpikir murid ini harus kita gimanain, ya, supaya (membuat) progres. Atau, ketika kita mau bawa mereka ke laut, kita harus arrange trip-nya kayak gimana. Jadi, cukup beratlah pekerjaan ini.

Dan kalau mereka melihat nggak sepadan, kok kasian banget, ya, anak saya? (lalu tertawa). “Kerja aja sama Papi deh, ya, bisalah.” Bisa dapet lebih banyak dan nggak capek. Ya … namanya anak muda, punya egonya beda.

Saya waktu itu minta waktu ke mereka, coba kasih saya waktu 5 tahun untuk bisa ngebangun Apnea Culture ini. Karena menurut saya, kalau kita punya satu ide atau mimpi yang pengin diwujudin, ya kita juga harus taruh effort dan waktu di situ, kan, ini beneran bisa tercapai atau nggak.

Jadi saya minta waktu 5 tahun dan setelah 5 tahun akan dievaluasi apakah memang worth doing, menghasilkan atau nggak, atau gimana, nih, kalau memang nggak menghasilkan, saya akan stop dan pindah ke kegiatan lain aja.

Support apa yang diberikan orang tua untuk Mikhael?

Setiap kali saya menyelenggarakan event, mereka akan datang untuk support.

Kebetulan Ibu saya sudah meninggal. Jadi, sewaktu dia masih hidup, 7 tahun saya ngajar freedive, Ibu saya lagi chemo karena ada breast cancer. Walaupun sakit, di waktu pengobatannya dia tetap nyempetin buat dateng.

Ayah saya, untuk ngebiayain chemo nggak murah, jadi dia masih full time bekerja sampai sekarang. Dengan mereka menyempatkan waktu untuk datang, menurut saya itu sudah lebih dari support yang saya butuhkan.

Tahu bahwa mereka masih mau nyempetin waktu dan tenaganya untuk melihat apa yang anaknya kerjakan, menurut saya itu udah lebih dari cukup.

Jadi mewek 🥺

Jangaaan! Kenapa? Hehehe. Ya … masih beruntunglah punya orang tua. Sejauh ini gue sangat bangga sama orang tua gue.

Pengin bilang apa ke mereka?

Gue rasa cuma bilang terima kasih itu nggak cukup, deh. Yang pengin gue lakukan sekarang adalah pengin buktiin bahwa semua effort, semua usaha, dan waktu yang mereka kasih buat gue itu bisa gue wujudkan, bisa mereka lihat, dan mereka bisa bangga. Itu yang lagi pengin gue coba sampaikan.

***

Lewat Apnea Culture, Mikhael Dominico Ungkapkan Cintanya pada Freedive (2)

Saya melemparkan pandangan ke arah Mikhael dan 6 muridnya di sesi kelas siang itu. Kelas dimulai pukul 14.00 lewat dan diawali dengan pemanasan, serta basic training.

When he got into the water, sungguh manusia air sekali. Mengingatkan saya pada Aquaman atau Maui atau mungkin Moana. Mikhael sering tampak memastikan bahwa siapa pun yang sedang bersamanya merasa senang, aman, dan nyaman.

Sesekali saya mendengar ia berkata pada murid-muridnya, “Bagus”, sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap sekecil atau sebesar apa pun progres yang diraih.

Sifat kekeluargaan yang ingin dibangun di Apnea Culture pun bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri di lapangan, plus dari perbincangan-perbincangan saya dengan beberapa muridnya.

“Ketika lihat murid happy bisa freedive itu priceless banget. Gue juga pengin member dan tim merasa bahwa Apnea Culture ini rumah kedua mereka.”

… yang mana saya yakin hal itu telah terwujud.

Sintia Astarina

Sintia Astarina

A flâneur with passion for books, writing, and traveling. I always have a natural curiosity for words and nature. Good weather, tasty food, and cuddling are some of my favorite things. How about yours?

More about Sintia > 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.