Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi

Rainbow Bookshelf www.sintiaastarina.com

Rainbow Bookshelf: Menata Buku-buku pada Rak Seperti Warna Pelangi – Akhir-akhir ini, saya lebih banyak menuliskan cerita-cerita perjalanan karena kemarin-kemarin, ada banyak konten yang bisa digarap, tapi saya enggak sempat nulis blog dan memilih-milih fotonya. Ketika ada waktu kuang untuk kembali mengisi halaman soal perjalanan, barulah saya kembali menulis, memancing kembali ingatan dan perasaan di waktu-waktu berpelesir, dan merangkumnya dalam bentuk kata-kata, serta gambar foto.

Post kali ini kembali saya dedikasikan untuk kategori Books jarang banget terisi. Terakhir, saya menulis soal 11 Most Creative Bookstagrammers to Follow in 2018. Sekarang, saya ingin memberikan pembahasan lain yang enggak jauh-jauh dari Bookstagram, yakni soal rak buku.

Well, di kamar saya, ada sebuah rak buku yang ukurannya tidak seberapa, paling hanya 1,5 x 2,5 meter. Rak buku ini saya request langsung untuk dibuatkan oleh (rekan) Papa dan maunya warna putih. Kenapa putih? Soalnya sering banget ngelihat rak buku Bookstagrammers atau books aficionado lain yang warnanya putih dan memang lebih cocok saja dengan tembok kamar berwarna senada. Selain itu, warna putih ini terang dan juga netral.

Pas rak buku ini selesai dibuat, senangnya bukan main! Saya sudah lama menantikan punya perpustakaan mini sendiri di rumah (yang dimulai dari rak buku), soalnya di kamar ada banyaaaak banget buku koleksi saya yang harus dirapikan. Kendati demikian, sejujurnya saya berharap memiliki kamar dengan ukuran yang lebih luas lagi sehingga bisa memuat rak buku lainnya, sebab faktanya, masih ada banyak buku lain yang belum diletakkan di rak, saking sudah enggak ada space. That’s why saya bermaksud untuk mendonasikan buku-buku ke rumah-rumah baca, menjualnya dengan harga murah, atau menjadikan buku-buku tersebut untuk kuis dan giveaway.

Nah, ketika meletakkan seluruh buku yang dimilikki pada rak, saya termasuk yang enggak pengin bikin tampilannya jadi kacau atau berantakkan. Maksudnya, saya mau buku-buku di rak terlihat mudah diatur, eye catchy, as if it’s calling me to read more and more books every single time. Karenanya, saya coba mengutak-atik tampilan rak buku menjadi sesuatu yang saya suka, seperti tiga model di bawah ini.

1. Rak buku dengan klasifikasi tertentu

QOTD: What's the color of your bookshelf? AOTD: Mine is white.

A post shared by Sintia Astarina 🌻 (@sintiawithbooks) on

Awalnya, saya meletakkan buku lumayan random. Ada yang saya kategorikan berdasarkan penerbit, penulis, atau satu set seri buku.

Untuk rak buku model pertama ini, buku-buku ini saya atur dengan posisi book spines (tulang buku) pada bagian luar supaya lebih mudah menemukan buku atau penulis yang dicari (dan, ya, memang lebih mudah). Tapi, ada juga yang enggak melulu dalam posisi berdiri alias vertikal. Ada yang saya letakkan secara horizontal atau dalam posisi tidur, contohnya seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) terbitan GagasMedia yang saya beli langsung di toko buku. Lalu, ada juga yang memperlihatkan sampul novel, seperti novel-novel karangan Nicholas Sparks yang ukurannya lebih kecil dari ukuran novel standar di Indonesia dan yang halamannya lebih tebal.

2. Rak buku berhias warna-warni pelangi

Kemudian, karena bosan dengan tampilan rak buku yang begitu-begitu saja, saya pun mencoba browsing di Bookstagram, kira-kira rak buku yang desainnya keren dan atraktif itu seperti apa, ya? Lalu, saya terinspirasi dari salah seorang teman di Bookstagram, Karina atau @karina.reads, namanya. Rak bukunya ngegemesin banget! Dengan model rainbow bookshelf, ini memungkinkan saya untuk menata buku-buku pada rak seperti warna pelangi.

Saya pun enggak ragu untuk mulai bereksperimen. Semua buku saya letakkan di lantai, kemudian saya menyusunnya ulang sesuai gradasi warna. Sebagai contoh, pada baris pertama rak, saya memilih buku-buku dengan book spines berwarna hitam dan makin ke kanan, warnanya menjadi biru atau hijau. Pada baris kedua, semuanya serba putih. Lalu pada baris selanjutnya, kamu bisa menemukan warna kuning, oranye, merah, ungu, hingga pink. Kira-kira hasil jadinya seperti di atas. Bagus, enggak?

Saya enggak ingat berapa lama menghabiskan waktu di kamar, berkutat dengan debu sana-sini, sampai memilah warna-warna dari ratusan buku yang ada. Tapi, pas ngelihat hasil akhirnya jadi seneng sendiri. Hihihi. Pas bangun tidur, yang saya lihat pertama kali adalah warna-warni rak buku ini. Beneran jadi lebih semangat baca, deh.

Sayangnya, kalau mengatur buku sesuai warnanya, terkadang kamu akan kesulitan untuk mencari buku atau penulis yang diinginkan, soalnya meletakkan bukunya kan bener-bener enggak diklasifikasikan berdasarkan abjad, nama penulis, judul, atau bahkan penerbit. Supaya lebih mudah, saya biasanya menghapal warna sampul depannya yang mana biasanya warna tulang bukunya enggak jauh berbeda dari warna sampul.

Dengan begitu, bakalan lebih mudah untuk menemukan buku yang tersebar. Ambil contoh, saya ingin membaca novel Wonder karya R.J Palacio. Sampul buku ini warnanya biru muda, begitu pula dengan tulang bukunya. Saya pun tinggal mencari deretan buku berwarna biru lalu saya telusuri satu per satu judul buku atau nama penulisnya.

Namun terkadang, ada juga yang warna tulang bukunya berbeda dengan warna sampul. Sebagai contoh, kumpulan esai Roxane Gay yang berjudul Bad Feminist memiliki sampul berwarna putih. Namun, kalau kamu mencari karya ini di deretan buku-buku berwarna putih, sudah pasti enggak ketemu. Soalnya tulang buku Bad Feminist warnanya hitam dan ada sentuhan warna pink pada bagian bawah. Sebenarnya, pintar-pintarnya kita aja sih, dalam menyusun buku dan mengingat urutan atau warna buku itu sendiri.

3. Rak minimalis berdesain tepi-tepi buku

It's almost September and I'm having my birthday soon! QOTD: When is your birthday? – – – Eventually, the more I get older, the more I realize that life is so conected, yet a lil bit complicated. Take it easy, as long as I always feel grateful and enjoy all the things I've been through, everything's supposed to be alright, isn't it? Perhaps sometimes I fell anxious about what I will be facing in the future, what challenges I need to deal with, and to whom I can rely myself on, but once again, it's important to convince myself that I just need to think about the very present because this is what I'm doing, the world what I'm living in. I must say failure I've made in the past was a great lesson. This year hasn't always been that good as the last year, the last two years, these past few years. I know, we can't deny that there will be a time when I have to go back to learn and there will be a time when I need to move forward, forget everything, and always be present. Again, that's a life lesson. BUT, I've gotten something amazing that people might don't have. I'm very thankful for being able to know myself more so I can give the best version of me for the future endeavors. So, open your heart, keep praying, stop wishing, and start doing for something good! – – – Last but not least, have a great Tuesday, lovelies! Sending lots of love from here. πŸ’“πŸ’“πŸ’“

A post shared by Sintia Astarina 🌻 (@sintiawithbooks) on

Selanjutnya, saya juga pernah mendesain rak buku dengan cara yang model yang enggak lazim, yakni dengan menampilkan fore edge ketimbang book spines. Inspirasi desain ini saya dapatkan dari Thomas alias @thomreads yang feed Bookstagram-nya estetik dan sangat konsisten.

Omong-omong, apa sih, fore edge itu? Fore edge itu bagian tepi-tepi buku. Gambarnya seperti di atas, ya.

Enggak disangka, foto ini ternyata mendapat sekitar 1.100-an likes, meski jumlah likes-nya enggak sebanyak foto rak buku warna-warni (sekitar 2.690-an likes) sebelumnya. Nah, untuk membuat desain rak buku seperti di atas, sebenarnya susah-susah gampang.

Kamu hanya perlu membalikkan buku kamu, yang tadinya terlihat bagian book spines-nya, jadi terlihat fore edge-nya. Supaya enggak ngebosenin dengan tampilan buku yang posisinya semua vertikal, coba deh bukunya diletakkan secara horizontal. Sisakan sedikit space untuk memberikan ruang lebih bagi buku dan tidak menimbulkan kesan padat. Warna fore edge buku juga bisa diatur sesuai kreativitas masing-masing, kok. Kalau lihat gambar di atas, kamu bisa nemuin ada tepi buku yang warnanya abu-abu atau sudah menguning, kan? Sejujurnya itu saya taruh acak soalnya capek banget beresin rak bukuuuu. πŸ™

But I’m actually giving up on this model. Di samping estetika yang menjadi kelebihan rak buku ini, saya merasa kesulitan jika ingin membaca buku. Sudah tentu ini jadi poin minus. Saya butuh effort lebih untuk mencari buku di rak. Saya harus membalikkan lagi bukunya, melihat sampul atau tulang bukunya. Berdasarkan pengalaman, rak buku model ini cuma asyik difoto atau dijadikan latar foto. Selebihnya, rak buku ini lama-lama membosankan dan bikin saya malas baca buku soalnya enggak efisien.

Karena enggak mau mengalami reading slump dan ingin terus menyempatkan diri untuk membaca, akhirnya saya rombak lagi tampilan rak buku saya menjadi… rainbow bookshelf. Hehehe. Kalau ditanya mana model atau desain penataan buku-buku pada rak yang paling favorit, sudah pasti jawabannya yang rainbow bookshelf. It’s like everybody’s bookshelf goals, right? Selain terlihat lebih rapi, well-organized, dan artsy, warna-warninya secara enggak sadar bisa meningkatkan mood buat baca buku. Seenggaknya untuk saya.

Oh ya, rainbow bookshelf saya yang sekarang warnanya agak sedikit berbeda. Pada bagian paling atas, saya memilih warna coklat dan semakin ke kanan, warna yang dipilih ialah hitam. Baris kedua mencakup warna putih gading hingga putih susu. Selanjutnya, ada warna kuning, oranye, merah, ungu, dan pink yang tersemat di barisan ketiga. Ada pula warna-warna laut, seperti biru menuju hijau pada barisan keempat.

Next, saya mau bikin kreasi rainbow bookshelf yang lebih kreatif lagi (contohnya seperti foto di bawah ini, dari Emily Sweet, wanita di balik akun @sweetbookobsession)! Tapi lebih dari itu, saya kepengin banget punya kamar yang lebih luas, rak buku yang lebih besar, juga koleksi buku yang lebih banyak supaya bisa lebih eksplorasi. πŸ˜€

Omong-omong, dari ketiga model rak buku di atas, kamu paling suka yang mana, sih? Lalu, apakah penataan buku-buku pada rak juga memengaruhi mood kamu dalam membaca buku? Mari berdiskusi. πŸ™‚

XOXO, logo

4 comments

    1. Wah, dulu juga saya menyusun buku berdasarkan nama penulisnya, jadi lebih mudah dicari. Tapi, enggak ada salahnya memberikan tampilan baru pada rak buku, misalnya seperti rainbow bookshelf ini. πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *