Ini Pantangan Saat Mengunjungi Masyarakat Baduy Dalam

Ini Pantangan Saat Mengunjungi Masyarakat Baduy Dalam

Ini Pantangan Saat Mengunjungi Masyarakat Baduy Dalam – Hari telah berganti. Saya sengaja bangun pagi dan segera bersiap-siap menuju Baduy Dalam. Saya menelan ludah ketika mendengar lamanya perjalanan nantinya. Empat jam. Ya, empat jam itu akan dilewati dengan berjalan kaki sepanjang hari, melewati jalanan yang tak rata, dan cuaca yang tak menentu.

Ini Pantangan Saat Mengunjungi Masyarakat Baduy Dalam
Pemandangan pagi hari yang akan kita temukan di desa ini.
Ini Pantangan Saat Mengunjungi Masyarakat Baduy Dalam
Padi.

Sebelum berangkat menuju Baduy Dalam, saya mendengar ada suara merdu tak jauh dari rumah tempat saya menginap. Ternyata, para gadis dan wanita Baduy sedang menumbuk padi. Menumbuk padi adalah kebiasaan perempuan-perempuan Baduy di pagi hari. Bunyi merdu dari lesung  seakan-akan membuat melodi syahdu di tengah dinginnya udara pagi. Nah, padi yang sudah ditumbuk ini diletakkan di dalam leuit dan bisa disimpan selama puluhan tahun lamanya.


Ini Pantangan Saat Mengunjungi Masyarakat Baduy Dalam
Leuit, tempat menyimpan padi.

Tak berlama-lama, saya pun melanjutkan perjalanan sebab matahari kian tinggi. Perjalanan nyatanya tak semudah yang dibayangkan. Jalanan terjal, turunan yang licin, bebatuan, jalanan sempit, tanjakan yang begitu tinggi… Saya pun harus berhati-hati dalam mengambil langkah agar tidak terpeleset, tapi apa daya… akhirnya saya terpeleset juga.

Sepanjang perjalanan, saya selalu bertanya, “Kapan sampai ya? Masih lama nggak? Berapa lama lagi perjalanannya?” Waahh… rasanya ingin cepat-cepat sampai di Baduy Dalam!

Baca juga: Kelahiran, Pernikahan, dan Kematian ala Masyarakat Baduy Dalam

Setelah berhenti berkali-kali, menelan beberapa teguk air, dan menghapus peluh, sampailah saya di desa Cibeo. Desa ini merupakan desa terluar di Baduy Dalam. Saya terpukau dengan keindahan Baduy Dalam. Menurut saya pribadi, Baduy Dalam lebih bagus dan rapi dibandingkan Baduy Luar.

Rumah-rumah di sini memang lebih tinggi dibandingkan Baduy Luar dan menggunakan rumbia yang diikat dengan rotan. Lalu, rumah kepala adat atau pu’un diberi ciri khas tersendiri, yakni rumahnya yang tidak menghadap ke utara dan selatan. Selain itu, halaman rumah pu’un begitu luas dan dihiasi hamparan rumput hijau. Tidak sembarangan orang bisa memasuki wilayah rumah pu’un tanpa keperluan khusus karena akan dianggap tidak sopan.


Baduy Dalam nyatanya memiliki aturan dan adat istiadat yang lebih ketat. Masyarakat Baduy Dalam dan semua pengunjung yang datang harus pantang teknologi. Warga Kanekes tidak diperbolehkan menggunakan teknologi seperti handphone, kamera, dan lain-lain.Hal ini pulalah yang menjadi pantangan saat mengunjungi masyarakat Baduy Dalam, di mana kami para pendatang juga tidak diperbolehkan mengabadikan momen di sana.

Ini Pantangan Saat Mengunjungi Masyarakat Baduy Dalam
Takjub banget dengan masyarakat Baduy Dalam yang kalau ke mana-mana, enggak pakai alas kaki.

Masyarakat Baduy Dalam juga tidak menggunakan alas kaki. Kebiasaan yang dilakukan sejak kecil ini nyatanya membuat warga Baduy Dalam menjadi kuat ketika harus bepergian jauh. Bahkan, Kang Sarmidi dan Sarwadi pernah melancong ke Bekasi tanpa menggunakan alas kaki. Saya hanya tercengang takjub.

Baca juga: 3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi

Ciri khas masyarakat Baduy Dalam adalah menggunakan pakaian berwarna hitam atau putih (baju sangsang) yang ditenun sendiri. Mereka juga harus menggunakan ikat kepala berwarna putih dan gelang pemberian dari lahir.

Selain itu, di Baduy Dalam juga tidak diperbolehkan untuk merokok dan mabuk-mabukan. Menggunakan sabun untuk mandi dan pasta gigi pun juga sama. Selama ini, orang-orang Baduy menggunakan sabut kelapa untuk menggosok gigi, larek (semacam tumbuhan yang bisa mengeluarkan busa) untuk mencuci baju.

Baca juga: Kelahiran, Pernikahan, dan Kematian ala Masyarakat Baduy Dalam

Nah, apabila masyarakat Baduy Dalam melanggar aturan tersebut, pu’un tidak segan-segan mengeluarkan mereka dari sana. Masyarakat Baduy Dalam juga bisa dikeluarkan dari wilayah itu apabila mereka berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam atau menikah dengan masyarakat Baduy Luar. Tampaknya, adat istiadat memang menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk melakukan kesehariannya.

Saat sore menjelang, saya dan teman-teman memutuskan untuk mandi di sungai. Lucunya, anak-anak lelaki kecil asyik mengamati kami dari atas jembatan. Tak jauh dari sana, saya pun melihat Ibu-ibu Baduy Dalam yang dengan asyiknya mandi di sungai dengan bertelanjang dada. Padahal, sungai itu merupakan alam terbuka dan banyak Bapak-bapak yang melintas di jembatan.

Baca juga: Belajar Budaya Lokal dari Masyarakat Baduy

Di Baduy Dalam pun tidak ada kamar mandi. Jadi, kalau kita mau buang air besar atau kecil, kita buang di sungai di antara rawa-rawa. Boleh dibilang, sungai yang paling ujung airnya diambil untuk minum, kemudian untuk mandi, dan terakhir untuk pembuangan.

Benar dugaan saya, aturan adat di Baduy Dalam memang lebih ekstrem dan sebagai pendatang, tentu harus mematuhi segala pantangan saat mengunjungi masyarakat Baduy Dalam. Namun, tak apalah, ini rasanya seperti menantang diri sendiri untuk menjadi serupa dengan berpantang di area budaya orang lain.


Mari ikut berpantang.


XOXO, logo

2 comments

  1. Wah terima kasih udah bikin artikel Baduy Dalam ini mba. Saya penasaran soalnya. hehe. Oh ya, itu gimana cara mba bisa ngambil dokumentasi/foto di Baduy Dalam ini ya?

    Saya suka nih sama pantangan merokok dan mabuknya 😀

    1. Di Baduy Dalam tidak diperkenankan untuk mengabadikan gambar. Foto-foto di artikel ini diambil saat saya berada di Baduy Luar.

      Jadi, gambaran soal Baduy Dalam disimpan di dalam memori saja. 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.