3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi

3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi

3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi – Kereta ekonomi siang itu tampak begitu sesak. Berbagai pedagang bebas lalu lalang dari gerbong satu ke gerbong lain. Rela menjajakan barang dagangan mereka demi menyambung hidup. Tahu, snack, salak, aksesoris, tisu, minuman, dan sebagainya. Tak mengenal batasan usia dan status sosial, rasanya begitu merakyat ketika harus bersempit-sempit ria di salah satu bangku bersama penumpang lainnya.

3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi
Tiket kereta murah meriah. Siap menjadi penjelajah selama 3 hari 2 malam.

Sesak, gerah, panas, sempit, bau asap rokok. Hhhhhh…. nggak heran kalau kereta yang membawa saya beserta ketiga teman lainnya menuju Rangkas Bitung hanya seharga Rp1.500 perak. Selama di kereta, saya harus was-was menjaga barang bawaan saya.


Dua jam kemudian saya telah sampai di tempat yang dituju. Dari Rangkas Bitung, saya menuju terminal Aweh, lalu berangkat ke desa Ciboleger. Perlu kita ketahui bahwa desa Ciboleger merupakan desa perbatasan sebelum menuju Baduy. Rasanya, sudah tidak sabar menjelajah kebudayaan dan mengeksplorasi berbagai keunikan dari suku tersebut.

Baca juga: Belajar Budaya Lokal dari Masyarakat Baduy

Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi adalah dua orang yang menemani saya menjelajahi Baduy. Akang-akang tersebut merupakan kakak-adik yang berasal dari Baduy Dalam. Ketika sampai di Ciboleger,  disambut oleh mereka.

Sebelum menjelajahi Baduy, saya membeli beras dan berbagai makanan lainnya sebagai perbekalan saya di jalan dan saat menginap nanti. Beras tersebut pada nantinya juga akan saya bagi kepada keluarga yang memberi tempat tinggal untuk saya, sebagai ungkapan rasa terima kasih.

3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi
Kang Sarmidi, masyarakat Baduy Dalam yang memandu kami menjelajahi Baduy.
3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi
Kang Sarwadi yang baik hati. Ia membantu membawa tas saya supaya bisa menempuh medan yang berat dengan lebih mudah.

Pada awalnya, saya akan menuju Baduy Dalam pada hari pertama. Akan tetapi, langit kian gelap dan hujan pun sedikit menghentikan langkah saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menginap di Baduy Luar terlebih dahulu.


Baduy terletak di Kabupaten Lebak, Banten, di kaki pegunungan Kendeng desa Kanekes. Baduy merupakan panggilan  yang diberikan penduduk luar. Baduy merupakan salah satu suku yang dapat kita pelajari kesehariannya. Banyak orang mengatakan kalau Baduy merupakan suku yang terisolasi. Jujur, saya kurang setuju dengan pernyataan tersebut sebab menurut saya… masyarakat Baduy sangat terbuka dengan kebudayaan lain.

Baca juga: Kelahiran, Pernikahan, dan Kematian ala Masyarakat Baduy Dalam

Dalam konteks isolasi, mungkin yang dimaksud adalah masyarakat Baduy mencoba untuk mempertahankan adat istiadat yang dimiliki oleh seluruh warga Baduy yang diwarisi secara turun-temurun. Mereka menolak untuk menerima kebudayaan lain yang sebelumnya tidak mereka kenal. Hal itulah yang membuat masyarakat Baduy (terutama Baduy Dalam) begitu mempertahankan adat istiadat yang menjadi ajaran hidup yang sudah mendarah daging.

Masyarakat suku Baduy memiliki dua sistem pemerintahan yang mana mereka mengikuti aturan negara Indonesia dan mereka pun juga mengikuti adat istiadat yang ada. Kedua sistem pemerintahan itu diakulturasikan oleh masyarakat setempat sehingga tidak ada benturan.

Jaro pemerintah adalah sebutan untuk kepala desa dan pu’un adalah pemimpin adat tertinggi masyarakat Baduy. Pu’un mendapatkan jabatannya secara turun-temurun. Jangka waktu menjabat sebagai kepala adat pun tidak menentu, tergantung pada kemampuannya untuk menjabat masyarakat Baduy.

Baca juga: Ini Pantangan Saat Mengunjungi Masyarakat Baduy Dalam

Banyak hal yang saya temukan ketika menginap di Baduy Dalam dan Baduy Luar. Yang paling tercermin tentu saja perbedaan adat-istiadat keduanya. Keragaman ini membuat saya semakin yakin, Indonesia memiliki budaya lokal yang tak kalah menariknya dengan di luar negeri.

Sama seperti hari ini, hari pertama saya berbaur dengan masyarakat Baduy. Rintik-rintik hujan turun semakin deras. Bahkan, saya bisa melihat bulir-bulir air di ujung atap. Saat sampai di Baduy Luar, saya disambut ramah oleh pemilik rumah. Saya disuguhi air minum yang ternyata diambil dari sungai. Rasa tanah masih begitu terasa.

Sore itu, tak tampak banyak aktivitas yang dilakukan di sana. Hanya ada beberapa anak laki-laki yang bermain bola dan yang lainnya bisa dibilang seperti tidak melakukan aktivitas apa-apa. Pada kesempatan itu, saya pun memulai observasi lebih lanjut. Saya sempat bertanya-tanya kepada Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi mengenai budaya dan adat istiadat yang ada di Baduy.

3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi
Rumah-rumah di desa ini.

Namun, ketika hujan mulai mereda setengah jam kemudian, saya memutuskan untuk mandi. Baduy Luar memiliki “kamar mandi” seadanya, bahkan dalam keadaan ruang terbuka. Sewaktu sampai di sana, betapa saya tidak kaget ketika melihat “kamar mandi” berdinding kayu yang tidak rapat. Hanya selembar kain yang menjadi penutup. Berbeda dengan material rumah yang menggunakan kirai dan kayu mahoni. Akhirnya, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi menyuruh saya untuk mandi di rumah tetangga.

Di Baduy Luar, tidak ada listrik sama sekali. Untuk penerangan, mereka menggunakan lampu minyak tanah sebagai lilin. Saat malam datang, Baduy Luar begitu gelap gulita. Tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan. Malam itu, saya menginap di rumah keluarga Pak Kasmin.

Ketika malam datang, saya dan keluarga itu menunggu Pak Kasmin pulang dari ladang, lalu kami pun makan malam bersama. Keramahan di tengah suasana remang-remang membuat saya merasa dekat dengan mereka. Rupanya, begini hangatnya suasana kala menjelajahi Baduy.

Baca juga: 10 Foto Pemandangan Pagi Hari yang Bikin Kangen Traveling

Orang Baduy berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda, tetapi dengan logat yang kasar. Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi bisa berbahasa Indonesia dengan baik sebab mereka berdua sering bergaul dengan orang luar Baduy. Saya jadi tertarik untuk belajar bahasa Sunda. Meski sewatu duduk di Sekolah Dasar, saya pernah mendapat pelajaran itu. Saya jadi tahu beberapa bahasa Sunda dari Kang Sarwadi seperti punten (permisi), teteh (sebutan untuk kakak perempuan), matur nuwun (terima kasih).

Nah, mayoritas masyarakat suku Baduy menganut agama Sunda Wiwitan yang ajarannya hampir sama dengan agama Islam. Hari Raya agama Sunda Wiwitan berlangsung pada bulan terakhir (bulan ke-12) atau yang sering disebut bulan Hapid Kayu. Ya… ternyata masyarakat Baduy mengenal penanggalannya sendiri. Kalau kita mengenal bulan Januari, Februari, Maret, dan seterusnya, mereka mengenal bulan Kasa, Karo, Katilu, dan sebagainya. Masyarakat Baduy pun juga mengenal adanya 12 bulan dalam setahun, sama seperti kita.

Untuk mata pencaharian, masyarakat Baduy Luar sangat tergantung musim. Ada yang mencabuti rumput di ladang, ada yang menjual souvenir khas Baduy, dan sebagainya. Kebanyakan, mereka bermata pencaharian sebagai petani. Hasil perkebunan dan pertanian seperti petai, durian, pisang, dan rambutan dijual ke pasar. Setiap paginya, bapak-bapak pergi ke ladang diikuti oleh anak laki-lakinya, sedangkan yang perempuan ikut ibunya. Entah itu mengurusi rumah, belajar menenun, mengurusi dapur, atau melakukan kegiatan lainnya.

Masyarakat Baduy Luar diperbolehkan untuk bercerai dan dibatasi setiap keluarga hanya memiliki empat anak saja. Sayangnya, anak-anak di Baduy Luar tidak sekolah dan ini pun juga terjadi pada anak-anak di Baduy Dalam.

Dulu, pemerintah pernah berencana untuk membangun sekolah di Baduy, tetapi masyarakat menolaknya dengan alasan akan melanggar aturan adat. Itulah yang menjadi salah satu penyebab sebagian orang Baduy tidak bisa baca dan tulis.

3 Hari 2 Malam Menjelajahi Baduy Bersama Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi
Anak-anak Baduy.

Oh ya, masyarakat Baduy juga memiliki worldview seperti ini, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang?” Jadi, selama ini anak-anak pure  ikut kedua orang tua mereka bekerja. Bahkan, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi menyebut ladang sebagai “kantor”, bertani disebut sebagai “sekolah”.

Hmm… saya makin penasaran, apakah budaya Baduy Dalam lebih ekstrem dari ini? Cari tahu lanjutan pengalaman saya menjelajahi Baduy pada artikel ini.


Saya ingin mengajak kamu bercengkerama dengan masyarakat Baduy.


XOXO, logo

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.