Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu

Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu

Kebiasaan Membaca Buku di Perjalanan yang Ingin Saya Tularkan ke Kamu – Kedua kaki saya menaikki beberapa anak tangga di dalam Bus Patas AC 34 sebelum memilih tempat duduk yang masih kosong, pagi itu. Dulu, ketika masih magang hingga menjadi pekerja full-time, setiap harinya saya melakukan perjalanan minimal satu setengah jam dari Tangerang menuju Jakarta Barat.

Di dalam bus, biasanya saya memilih duduk di bagian depan sisi kanan yang memiliki tiga kursi. Kursi dekat jendela selalu menjadi pilihan utama. Namun jika penuh, mau enggak mau saya duduk di bagian sebelah kiri dengan dua kursi pada tiap barisnya, lalu memilih duduk di sebelah perempuan, supaya lebih merasa aman dan nyaman.

Di dalam tas yang saya bawa, sudah pasti tersedia minimal satu buku untuk dibaca. Biasanya, ada novel fiksi atau buku kumpulan puisi. Sembari menunggu bus melaju atau sampai di tempat tujuan, tanpa ragu saya selalu mengeluarkan buku yang tersimpan, membuka lembar demi lembar, lalu mulai tenggelam dalam cerita, kata-kata, dan tokoh-tokoh yang mengajak saya berkelana.

Saat menjadi pegawai kantoran, pagi hari di perjalanan menjadi satu-satunya waktu kosong yang banyak saya gunakan untuk meningkatkan kebiasan membaca buku. Jam makan siang sudah pasti enggak bisa digunakan untuk membaca karena saya lebih ingin memaksimalkan waktu tersebut untuk makan sambil nonton TV di ruang rapat, berbincang dengan rekan kantor, atau bahkan kembali bekerja.

Jam pulang kantor, sudah pasti saya lebih ingin untuk beristirahat. Saat akhir pekan tiba, hanya kadang-kadang saja menyentuh buku. Selebihnya, saya lakukan kegiatan lain seperti jalan-jalan, menonton, mendengarkan musik, atau hibernasi.

Tapi percaya deh, waktu satu setengah jam di perjalanan pergi ke tempat kerja terbilang sangat cukup untuk menjalani kebiasaan membaca buku. Namun memang, biasanya saya hanya menghabiskan sekitar 30 menitan saja untuk membaca di dalam kendaraan umum, karena sudah pasti saya mudah merasa ngantuk jika harus membaca deretan kalimat demi kalimat dalam waktu yang lama.

Ketika saya menceritakan kepada teman bahwa saya suka membaca buku di dalam bus atau kendaraan umum lainnya, kerap kali mereka bertanya, “Memang enggak pusing ya, baca di mobil? Gue sih, pusing”.

Dengan santai saya jawab, “Enggak”. Mungkin karena saya sudah kebiasaan membaca buku di perjalanan, jadi kalau merasa pusing, enggak, sih. Paling, ya itu dia, saya harus kuat menahan rasa kantuk. Sebab, di mana saja, kapan saja, membaca seringnya membuat saya mengantuk. Dan jujur, ini adalah kelemahan saya.

Sebaliknya, membaca di dalam kendaraan atau selama perjalanan itu menyenangkan. Hitung-hitung bisa membunuh waktu kala terjebak di tengah kemacetan ibu kota.

Distraksi

A post shared by Sintia 🌻 (@sintiawithbooks) on

Nah, kalau membaca di transportasi umum seperti yang biasa dilakukan, biasanya saya harus lebih berkonsentrasi melahap buku dalam genggaman. Mengapa? Sebab enggak jarang pengamen atau pedagang asongan mondar-mandir di dalam bus. Entah pengamen menyanyikan lagu ini dan itu sambil memainkan musik, atau para penjual yang enggak pernah lelah menjajakan barang dagangannya.

“Tisu basah, tisu kering, masker, air mineral, kacang telur oven, permen jahe, power bank, koran…,” begitu ujar mereka.

Meski terkadang kehadiran mereka sedikit mengganggu kegiatan membaca, saya merasa enggak ada masalah sama sekali. Saat ada pengamen yang bernyanyi, terkadang saya malah lebih konsen membaca. Kecuali mereka bernyanyi atau bermain musik dengan (maaf) buruk, ya. Misalnya, saya sering banget ketemu dengan pemuda menyanyikan lagu yang entah apa judulnya, tapi ia memetik senar gitarnya terlampau asal. (Maaf lagi) Kedengarannya ia seperti menggenjreng gitar sesukanya, yang penting berbunyi dan bisa mengiringi lantunan lirik yang didendangkannya. Sebenarnya, kan enggak gitu juga. 🙁

Kalau sudah ketemu dengan distraksi semacam ini, biasanya saya tutup buku di pangkuan sejenak. Saya letakkan salah satu jari saya, mengapit lembar yang satu dengan yang lainnya untuk menandai halaman terakhir yang dibaca. Kemudian, saya nikmati apa yang dinyanyikan atau dimainkannya para pengamen di dalam bus. Setelah selesai, barulah saya membuka halaman terakhir dan kembali fokus membaca buku.

Oh ya, di perjalanan, terkadang saya enggak dapat kursi duduk. Alhasil, saya harus berdiri hingga tiba di tujuan. Ada dua metode yang saya gunakan kalau kegiatan membaca buku dirasa tetap harus dijalankan. Jika sedang naik Bus Patas AC biasa, saya akan menyandarkan tubuh bagian depan di salah satu kursi, lalu meletakkan buku di atas sandarannya sehingga saya bisa membaca lebih tenang dan nyaman. Namun, harus lihat-lihat situasi juga. Jika keadaan di dalam bus luar biasa ramai dan padat, mau enggak mau harus saya kesampingkan niat membaca pagi-pagi.

Metode yang kedua, biasanya saya lakukan jika sedang naik TransJakarta Tangerang-Jakarta dan semua bangku sudah terisi penuh, saya akan langsung memilih untuk bersandar di dekat pintu, lebih tepatnya di pembatas bagian perempuan (depan) dan laki-laki (belakang) di dalam bus. Atau, seringnya saya menggapai tiang di bagian depan (khusus perempuan), lalu memeluknya sehingga bisa lebih leluasa membaca buku tanpa harus takut oleng lantaran gaya gravitasi dalam bus kalaa pengemudi mengebut atau mengerem.

Awalnya, saya ragu bila harus membaca buku sambil berdiri, soalnya enggak nyaman banget, kan. Menyeimbangkan tubuh kala berdiri di kendaraan yang tengah melaju aja susah, gimana sambil baca buku? Tapi terkadang saya melihat penumpang lain cuek-cuek aja membaca buku tanpa duduk, tuh. Mereka kelihatan menikmati buku di tangan mereka.

Dan ya, nyatanya, merekalah yang memberi saya keberanian dan semakin membulatkan tekad saya kalau membaca di tempat umum, terutama di dalam transportasi yang berjalan itu menyenangkan. Plus, enggak menyulitkan, kok. Dari hal kecil tersebut, tanpa sadar kamu bisa menginspirasi orang lain untuk mau membaca, sama seperti mereka yang menginspirasi saya.

Dan kalau kamu tahu soal Hot Dudes Reading alias @hotdudesreading di Instagram, pastinya hal tersebut akan lebih mendorong kamu untuk mau membaca. Jadi, akun Instagram yang pengikutnya hampir mencapai satu juta ini memublikasikan berbagai foto lelaki yang sedang membaca di berbagai tempat, misalnya di stasiun, toko buku, taman, dan kebanyakan di transportasi umum, seperti kereta. Di Indonesia, ada dua jenis akun serupa Hot Dudes Reading, yakni @ketemubuku dan @perempuanmembaca.

Selain Hot Dudes Reading, di luar negeri ada juga akun Cute Girls Reading atau @cutegirlsreading, but too bad this account is inactive, though.

Tingkat membaca di Indonesia

Terkadang, kedua telinga saya bosan mendengar ujaran soal betapa rendahnya tingkat membaca di Indonesia. Berdasarkan artikel yang saya baca di Kompas.com dengan judul Minat Baca Indonesia Ada di Urutan ke-60 Dunia, jelas banget kalau 60 bukanlah angka yang bagus. Peringkat ini didapatkan dari studi Most Littered Nation In the World yang pernah dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016. Yang lebih miris lagi, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara, lho. 🙁

Sebenarnya, ada beragam faktor yang bikin masyarakat Indonesia memiliki tingkat membaca yang rendah banget. Berikut ini adalah pemaparan yang ingin saya kemukakan berdasakan asumsi personal dan referensi berbagai sumber di internet.

1. Enggak membiasakan diri untuk membaca.

Orangtua sama sekali enggak pernah memaksa saya untuk membaca buku ini atau itu, jadi memang sepertinya saya sudah menyukai buku dari sananya. Jadi inget deh, penulis Elizabeth Hardwick pernah berujar, The greatest gift is the passion for reading. It is cheap, it consoles, it distracts, it excites, it gives you knowledge of the world and experience of a wide kind. It is a moral illumination”.

Jadi ya, buku bukanlah benda asing buat saya. Bagi saya, buku bukan sesuatu yang harus dipaksakan, bukan sesuatu untuk dicekoki, tapi untuk dibiasakan. Sama seperti kegiatan membaca yang rutin saya coba lakukan di perjalanan. Membaca adalah kegiatan sehari-hari yang sungguh menyenangkan dan bermanfaat bila sering dilakukan. Kalau memang niat membaca buku, kamu pasti akan mencari dengan sendirinya. Sayangnya, enggak semua orang mau membiasakan diri untuk membaca buku.

2. Mungkin, memang kamu yang enggak ada niat membaca buku.

Padahal, Indonesia punya berbagai gerakan membaca, salah satunya adalah @indoreadgram, kampanye membaca yang ingin disebarkan ke masyarakat Indonesia. Indonesia juga punya banyak akun Bookstagram yang diinisiasi secara personal. Tujuan dibuatnya Bookstagram untuk memberikan rekomendasi buku apa saja untuk dibaca, jadi tempat untuk saling sharing buku, memberi ulasan, mendorong masyarakat untuk makin gemar membaca, dan masih banyak lagi.

Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan literasi juga banyak banget! Toko buku POST di Pasar Santa sering mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan buku di mana kamu enggak cuma terus-menerus membaca buku aja, tapi juga bisa berdiskusi satu sama lain dan mengeluarkan pendapat soal buku yang disukai. Indonesia juga punya Indonesia International Book Fair yang tiap tahun kelihatannya selalu dibanjiri pengunjung, adapula Ubud Writers & Readers Festival, Makassar Writer Festival, Festival Pembaca Indonesia, hingga ASEAN Literary Festival.

Kalau salah satu kegiatan di atas enggak ada yang nyantol di kamu, jangan pernah menyalahkan mereka-mereka yang sebenarnya tanpa sadar sudah memotivasi dan mengajak kamu untuk terlibat aktif dalam melakukan kampanye di dunia literasi, hingga kegiatan membaca itu sendiri. Mungkin, memang kamu yang belum punya niatnya.

3. Sulitnya mengakses buku-buku.

Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa tingkat membaca di Indonesia rendah. Ini biasanya sering terjadi di daerah-daerah yang memang pendidikannya belum merata atau kualitas pendidikannya masih minim. Namun, sekarang ada banyak banget Taman Bacaan di daerah-daerah terpencil yang memang kesulitan mendapatkan buku-buku berkualitas. Serunya, kamu bisa mendonasikan buku-bukumu ke berbagai Taman Bacaan Masyarakat, Jaringan Pustaka Bergerak Indonesia, juga sekolah-sekolah secara gratis lewat kantor pos pada tanggal 17, setiap bulannya.

Di lain sisi, kalau kamu tinggal di perkotaan tapi merasa akses ke buku-buku masih saja sulit, di mana teknologi sudah kian canggih, perpustakaan makin banyak, dan toko buku (online maupun offline) bertebaran di mana-mana, tapi kamu masih malas membaca, coba deh pahami kembali alasan nomor dua.

4. Anggapan bahwa buku enggak lebih asyik ketimbang media sosial, games, dan hiburan lainnya.

Enggak dimungkiri, kadang memang benar, kok. Di saat saya lagi malas membaca buku, pelarian saya selalu ke Instagram atau menonton film-film. Kalau udah keasyikan, takut juga kalau mengalami reading slump. That’s why saya selalu coba untuk meletakkan buku di dekat saya: di rak buku, di meja kerja, di kursi, di dalam tas, di sebelah bantal di atas tempat tidur. Intinya, buku itu akan selalu jadi pengingat bahwa membaca juga bisa jadi kegiatan yang menyegarkan pikiran, sama halnya seperti media sosial dan games.

5. Minimnya buku-buku berkualitas serta faktor lainnya.

A post shared by Sintia 🌻 (@sintiawithbooks) on

Seperti royalti yang rendah untuk penulis, pajak besar yang dikenakan ke penulis, kurang ada ruang lebih untuk penulis-penulis yang baru berkarya lantaran penerbit lebih mengutamakan penulis yang sudah memiliki nama besar dan mampu menghasilkan keuntungan berlipat-lipat, penerbit di daerah belum berkembang merata, dan masih banyak lagi.

Masalah ini sebenarnya cukup kompleks. Namun saya yakin akan hal klise satu ini, semua kembali ke diri masing-masing jika ingin hal ini teratasi. Cuma saya, kamu, dan masing-masing orang di luar sana yang tahu bagaimana caranya meningkatkan tingkat membaca di Indonesia. Niat, itu saja dulu. Lembaga, komunitas, maupun perseorangan sudah mencoba untuk lebih gencar dalam urusan literasi dan hal tersebut saya sadari betul. Kita, kitalah yang mesti turut aktif.

Jangan bertanya-tanya mengapa posisi Indonesia bisa berada dalam urutan bontot kalau kita sendiri enggak mau mencari solusinya. Enggak perlu menyesal kalau Indonesia ketinggalan zaman lantaran orang-orangnya enggak mau berusaha untuk maju, mau mulai dari hal yang simpel, yakni membaca buku.

Jangan pula berdalih ingin membaca buku, tapi alasanmu terlalu banyak: enggak ada motivasi, enggak ada waktu, enggak ada niat, enggak terbiasa. Jangan pula bertanya lagi kepada saya, “Kak, gimana caranya ya, biar rajin baca buku?” kalau kamu sendiri sebenarnya sudah tahu jawabannya sebelum melontarkan tanya.

Kamu sudah tahu, niat, itu saja dulu.

Ya, inilah kebiasaan saya yang suka membaca buku di perjalanan (artikan sendiri definisi perjalanan versimu) dan ingin saya tularkan ke kamu. Namanya juga “kebiasaan”, saya pun mesti melewati proses panjang untuk perlahan-lahan mulai terbiasa membaca buku, meski saya katakan di tengah-tengah tulisan bahwa saya sudah menyukai buku dengan sendirinya, begitu saja. Kendati begitu, saya yakin kamu, kita, bisa berproses bersama membiasakan diri lebih dekat dengan buku. Secuil harapan di dalam hati, semoga kamu rela saya tulari virus baik ini.

 

Reading is important, because if you can read, you can learn anything about everything and everything about anything.” – Tomie dePaola

XOXO, logo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *